Dua Dekade Berjuang Berantas Narkoba


Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain,” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Sabda Rasulullah Muhammad saw, itulah yang menjadi salah satu pedoman dr. Aisah Dahlan dalam mengabdikan dirinya menjadi dokter narkoba. Tidak mudah menjalaninya, bahkan, tak banyak dokter di Indonesia ini yang mengambil jalan perjuangan seperti yang dipilih oleh dirinya. 


Berawal dari Keluarga 

Dokter kelahiran 17 Desember 1968 ini paham betul betapa narkoba mampu merusak kehidupan generasi bangsa. Sekitar 1989 lalu, adik kandungnya yakni Sahril Dahlan, terjerumus mengonsumsi obat-obatan terlarang itu. Sebagai sulung dari lima bersaudara, ia merasa ikut bertanggungjawab atas hal buruk yang menimpa sang adik. Apalagi saat itu, ia memiliki pengetahuan medis sebagai mahasiswa kedokteran. 

Ia pun mengungkapkan, saat itu ia belum terlalu paham apa yang harus dilakukan. Sahril pun akhirnya mendapat pertolongan di salah satu klinik rehabilitasi terkenal di negara tetangga, Malaysia. 

Sembuh dari ketergantungan pada narkoba, Aisah dan keluarganya diingatkan pihak rehabilitasi untuk terus memantau perkembangan dan mental sang adik. Mengapa? Karena seringkali, mantan pecandu terjerumus kembali menggunakan narkoba, jika ia mengalami depresi. Peringatan ini pun menjadi kenyataan, saat Sahril mengalami hal pahit dalam hidupnya. Lagi, Aisah yang tampil berjuang mencoba menyembuhkan sang adik dari keterpurukan. 

Menyaksikan secara langsung, dan turut berjuang membantu penyembuhan anggota keluarga inilah yang menuntunnya mantap berjuang dalam lingkaran para pengguna narkoba. Tidak hanya di lingkungan keluarga, saat bekerja pun, ia kembali harus mengahadapi para pecandu. Di RS. Harum Kalimalang, ia diminta mengelola unit khusus yang menangani korban narkoba. 

Sahabat Rekan Sebaya 

Pada 1997, dr. Aisah Dahlan bersama dr. Priyanto Sismadi MM (suaminya), mendirikan paguyuban yang diberi nama ‘Sahabat Rekan Sebaya’ (SRS). Paguyuban tersebut berisi kelompok pecandu dan keluarga yang pernah ia tangani. Selanjutnya, paguyuban ini pun berubah menjadi ‘Yayasan Sahabat Rekan Sebaya’ (YSRS). 

Ditemui pada acara syukuran milad (ulang tahun) YSRS ke 20, di Teater Gor Bulungan, Jakarta Selatan, dr. Aisah Dahlan mengungkapkan, lebih banyak suka dibanding duka, untuk berjuang memulihkan kesehatan dan mental para pecandu narkoba. “Alhamdulillah, lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Mudah-mudahan perjuangan ini mendapat rida Allah SWT,” ungkapnya sambil tersenyum ramah. 

Ia mengutarakan, dari pengalaman yang ia miliki, ada tiga tahap yang harus dilalui oleh para pecandu. Yaitu, detosifikasi, rehabilitasi, dan fase after care. Hal yang membedakan metode Aisah dengan metode lainnya, ialah besarnya porsi peran komunitas, termasuk keluarga yang mencapai 90%. 

Kepedulian dr. Aisah tak berhenti sampai ‘membebaskan’ para pecandu dari jeratan narkoba, namun berperan pula dalam menata kehidupan mereka menjadi lebih baik. Ia tak hanya menjadi sosok dokter, tapi mampu merangkap sebagai sosok ibu dan teman yang menenangkan, serta memotivasi mantan pecandu untuk kembali ke jalan yang benar. 


Cahaya Bagi Mantan Pecandu Narkoba 

Sulit sekali bagi masyarakat pada umumnya untuk menerima dengan baik kehadiran mantan pecandu narkoba di tengah-tengah kehidupan mereka. Aisah pun sangat memahami hal ini. Ia pun tak membiarkan mantan pecandu berjuang sendirian, ia berjuang membangun komunitas untuk mantan pecandu, lalu membekali mereka dengan beragam keahlian dan kewirausahaan. 

“Siapa bilang masa depan para mantan pecandu narkoba telah tertutup? Mereka ini sesungguhnya manusia biasa yang butuh berkarya. Mereka butuh dipercaya orang lain sebagai manusia yang berguna,” kata Aisah, yang kini praktik di Unit Narkoba, RS. Bhayangkara Sespimma Polri Ciputat, Jakarta Selatan. 

Menurutnya, para mantan pencandu ini memang banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. “Sampai sekarang pun para pecandu narkoba masih kesulitan bekerja secara formal,” ujarnya. Maka dari itulah ia membentuk unit-unit usaha di yayasan yang ia bangun, seperti usaha bisnis multimedia, entertainment, event organizer, laundry, perbengkelan, hingga peternakan kelinci. “Sampai saat ini sudah ada tujuh unit usaha,” lanjutnya. 

Uniknya, di bawah Yayasan SRS yang ia bangun itu, Aisah menerapkan manajemen bekerja yang unik dan berbeda dengan perusahaan formal. Mereka dapat bekerja lebih fleksibel, termasuk dalam mengatur waktu jam kerja, dan boleh absen saat sakitnya kambuh. “Maklum, rata-rata mantan pecandu ini memiliki komplikasi beberapa penyakit,” ungkapnya. 

Walaupun banyak kalimat bernada miring yang menyepelekan pekerjaan mantan pecandu narkoba ini, rupanya unit-unit usahanya terus berkembang, dan memiliki penghasilan lumayan. Omzet yang didapat perbulannya, mampu memberikan gaji yang layak bagi para mantan pecandu narkoba. 

Tak lupa, Aisah juga menyarankan para mantan pecandu untuk menjadi peer counselor bagi para pecandu lainnya. Tujuannya agar mereka dapat membantu meringankan beban penderitaan temannya yang sedang berjuang memutus ketagihan terhadap obat-obat terlarang. 

Ia pun menyatakan, pintu yayasannya selalu terbuka bagi siapa saja yang serius ingin lepas dari ketergantungan narkoba. Apa pun latar belakang keluarga sang pecandu, baik dari keluarga kaya atau pun dhuafa. “Silakan datang saja ke mari. Kami insha Allah akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu,” katanya. 

Ibu yang Menginspirasi 

Di tengah kesibukannya menyembuhkan para pecandu, dan menguatkan mental mereka untuk hidup normal serta kembali ke jalan yang benar. Aisah tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. 

Jejak langkah perjuangan Aisah tak hanya menginspirasi banyak orang, tapi juga menginspirasi sang putra untuk melanjutkan perjuangan menjadi dokter narkoba. “Indonesia ini butuh lebih banyak Aisah-Aisah Dahlan lainnya. Saya akan melanjutkan perjuangan ibu saya,” kata dr. Muhammad John Elang Lanang Sismadi, putra dr. Aisah Dahlan. (Cristi Az-Zahra)