Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Nabi Ilyas: Ikhtiar Maksimal menjadi Aktor Perubahan
 

 

Nabi Ilyas: Ikhtiar Maksimal menjadi Aktor Perubahan

Dipublish pada:

31-Oct-23
“Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah Ba´l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu? Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka).’” (QS. ash-Shaffat [37]: 123-127).Yusa bin Nun ra memimpin Bani Israil selama 27 tahun. Pada masanya, Taurat betul-betul dipegang teguh. Walaupun demikian masih saja ada pihak yang melakukan pelanggaran. Bagi yang melakukannya dengan sengaja, Allah SWT memberikan azab kepada mereka dengan mendatangkan penyakit Tha’un. Menginjak usia 127 tahun, Allah berkehendak memanggilnya. Yusa bin Nun pun wafat. Bani Israil bersedih karena ditinggalkan Panglima Penakluk Baitul Maqdis kebanggaannya.Di sebelah barat Damaskus hidup penduduk Ba’labak. Mereka dipimpin seorang raja bernama Ahab. Melalui kekuasaanya, Ahab mengondisikan mereka untuk mempercayai dewa-dewi. Dia pun menghadirkan patung perempuan bernama Ba’l yang ditaati. Dan kepada patung inilah kaum Ba’labak melakukan penghambaan diri. Patung hanyalah benda mati semata. Ia tidak memiliki kekuasaan apa pun, namun menjadi benar-benar diyakini karena dijadikan alat untuk mengekalkan kekuasaan. Ahab, sebuah nama yang menjadi aktor adanya praktik penghambaan ini. Ia berusaha mengendalikan penduduk Ba’labak agar kehidupannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Ia tidak ragu memberikan hukuman bagi siapa pun yang menolak dan melanggarnya. Masyarakat Ba’labak tidak memiliki pilihan. Mereka harus memilih jalan sesat yang ditawarkan demi keselamatan diri mereka. Suasana di sebelah barat Damaskus ini berubah drastis. Setiap harinya tidak lepas dari penyembahan terhadap berhala Ba’l. Dalam keadaan seperti ini, Allah SWT mengutus utusan-Nya. Dialah Ilyas as. Generasi keempat Nabi Harun ini diangkat Allah dan ditugaskan mengubah masyarakat di sana. Sesuai petunjuk-Nya, Nabi Ilyas mendatangi raja bermaksud menyadarkannya. Setelah bertemu dengan raja, Nabi Ilyas memulai dialog. Ia menyampaikan praktik ibadah yang berkembang di masyarakat tidaklah benar. Ia pun menjelaskan bagaimana gambaran penghambaan yang Allah SWT inginkan dari seluruh makhluk-Nya.  Raja Ahab tidak mau menerima. Ia memarahi Nabi Ilyas dan memintanya tidak melanjutkan pembicaraan. Lebih tegas lagi, ia menyampaikan ancaman agar Nabi Ilyas as segera menghentikan dakwahnya bila menginginkan keselamatan bagi dirinya.   Perintah Allah SWT tetap harus diperjuangkan. Nabi Ilyas pantang berhenti hanya karena ancaman. Ia tetap menyampaikan kebenaran sesuai dengan amanah yang Allah tetapkan. Jika raja tidak menerima dakwahnya, maka ia membidik rakyatnya agar perlahan tapi pasti menjadi kumpulan orang-orang beriman.  Nabi Ilyas mulai bergerilya. Ia menanamkan keyakinan tauhid kepada orang satu per satu. Ada yang menerima, tapi ada juga yang menolak. Orang-orang yang menerimanya menjadi kekuatan bagi perjuangan. Sedangkan yang menolak, mereka melaporkan kepada raja agar Nabi Ilyas as segera ditindak.  Berita ini pun sampai ke istana. Raja Ahab marah. Ia menyiapkan pasukan untuk menangkap Nabi Ilyas. Mengetahui kabar itu, Nabi Ilyas segera mencari tempat aman untuk berlindung. Ia memilih anak Sungai Kerit sebagai tempat bersembunyi. Tempat ini menjadi pilihan karena Nabi Ilyas membutuhkan pasokan minuman agar bisa bertahan tanpa mengalami kehausan.  Dari air sungai yang tersedia di sana, Nabi Ilyas menghilangkan rasa dahaga. Sedangkan kebutuhan makannya, ia dapatkan dari burung gagak yang Allah SWT utus untuk membawa roti dan daging di setiap pagi dan sore hari. Nabi Ilyas terus mengatur strategi. Walaupun dalam kondisi tertindas dan hampir tidak berdaya, ia tetap memegang teguh amanah. Tanpa rasa takut dan gentar, ia senantiasa memaksimalkan ikhtiar agar bisa menjadi aktor yang akan membawa perubahan (tegaknya kebenaran). Wallahu a’lam. []  

Ditulis Oleh:

Administrator