“Dan sesungguhnya
Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia
berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah
Ba´l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan
bapak-bapakmu yang terdahulu? Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka
akan diseret (ke neraka).’” (QS. ash-Shaffat [37]: 123-127).Yusa bin Nun ra memimpin Bani Israil selama 27 tahun. Pada masanya,
Taurat betul-betul dipegang teguh. Walaupun demikian masih saja ada pihak yang
melakukan pelanggaran. Bagi yang melakukannya dengan sengaja, Allah SWT
memberikan azab kepada mereka dengan mendatangkan penyakit Tha’un. Menginjak
usia 127 tahun, Allah berkehendak memanggilnya. Yusa bin Nun pun wafat. Bani Israil
bersedih karena ditinggalkan Panglima Penakluk Baitul Maqdis kebanggaannya.Di sebelah barat Damaskus hidup penduduk Ba’labak. Mereka dipimpin
seorang raja bernama Ahab. Melalui kekuasaanya, Ahab mengondisikan mereka untuk
mempercayai dewa-dewi. Dia pun menghadirkan patung perempuan bernama Ba’l yang
ditaati. Dan kepada patung inilah kaum Ba’labak melakukan penghambaan diri. Patung hanyalah benda mati semata. Ia tidak memiliki kekuasaan apa pun, namun
menjadi benar-benar diyakini karena dijadikan alat untuk mengekalkan kekuasaan.
Ahab, sebuah nama yang menjadi aktor adanya praktik penghambaan ini. Ia
berusaha mengendalikan penduduk Ba’labak agar kehidupannya sesuai dengan
keinginan hawa nafsunya. Ia tidak ragu memberikan hukuman bagi siapa pun yang
menolak dan melanggarnya. Masyarakat Ba’labak tidak memiliki pilihan. Mereka harus memilih jalan
sesat yang ditawarkan demi keselamatan diri mereka. Suasana di sebelah barat
Damaskus ini berubah drastis. Setiap harinya tidak lepas dari penyembahan
terhadap berhala Ba’l. Dalam keadaan seperti ini, Allah SWT mengutus
utusan-Nya. Dialah Ilyas as. Generasi keempat Nabi Harun ini diangkat Allah dan
ditugaskan mengubah masyarakat di sana. Sesuai petunjuk-Nya, Nabi Ilyas
mendatangi raja bermaksud menyadarkannya. Setelah bertemu dengan raja, Nabi
Ilyas memulai dialog. Ia menyampaikan praktik ibadah yang berkembang di
masyarakat tidaklah benar. Ia pun menjelaskan bagaimana gambaran penghambaan
yang Allah SWT inginkan dari seluruh makhluk-Nya. Raja Ahab tidak mau menerima. Ia memarahi Nabi Ilyas dan memintanya tidak
melanjutkan pembicaraan. Lebih tegas lagi, ia menyampaikan ancaman agar Nabi
Ilyas as segera menghentikan dakwahnya bila menginginkan keselamatan bagi
dirinya. Perintah Allah SWT tetap harus diperjuangkan. Nabi Ilyas pantang berhenti
hanya karena ancaman. Ia tetap menyampaikan kebenaran sesuai dengan amanah yang
Allah tetapkan. Jika raja tidak menerima dakwahnya, maka ia membidik rakyatnya
agar perlahan tapi pasti menjadi kumpulan orang-orang beriman. Nabi Ilyas mulai bergerilya. Ia menanamkan keyakinan tauhid kepada orang
satu per satu. Ada yang menerima, tapi ada juga yang menolak. Orang-orang yang
menerimanya menjadi kekuatan bagi perjuangan. Sedangkan yang menolak, mereka
melaporkan kepada raja agar Nabi Ilyas as segera ditindak. Berita ini pun sampai ke istana. Raja Ahab marah. Ia menyiapkan pasukan
untuk menangkap Nabi Ilyas. Mengetahui kabar itu, Nabi Ilyas segera mencari
tempat aman untuk berlindung. Ia memilih anak Sungai Kerit sebagai tempat
bersembunyi. Tempat ini menjadi pilihan karena Nabi Ilyas membutuhkan pasokan
minuman agar bisa bertahan tanpa mengalami kehausan. Dari air sungai yang tersedia di sana, Nabi Ilyas menghilangkan rasa
dahaga. Sedangkan kebutuhan makannya, ia dapatkan dari burung gagak yang Allah
SWT utus untuk membawa roti dan daging di setiap pagi dan sore hari. Nabi Ilyas
terus mengatur strategi. Walaupun dalam kondisi tertindas dan hampir tidak
berdaya, ia tetap memegang teguh amanah. Tanpa rasa takut dan gentar, ia
senantiasa memaksimalkan ikhtiar agar bisa menjadi aktor yang akan membawa
perubahan (tegaknya kebenaran). Wallahu
a’lam. []
Ditulis Oleh:
Administrator