Nabi Ayub (1): Sakit Pembuka Tabir (Kebahagiaan)

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’" (QS. al-Anbiya [21]: 86)

Nabi Ayub adalah keturunan Nabi Ishak dari garis putranya bernama Aish (Ishu). Ia berdomisili di wilayah Syam yang kemudian menegakkan risalah Islam di sana. Karena kebijakannya yang adil, masyarakat bangga dan berterima kasih karena terbimbing hingga merasakan kesejahteraan.

Nabi Ayub sangat dirindu. Masyarakat berharap bisa berjumpa dengannya. Mereka antusias bertamu ke rumahnya. Dalam setiap pertemuan, mereka selalu mendapat hikmah dan pemahaman yang menyemangati mereka untuk memberikan yang terbaik dalam hidup ini.

Kenyataan ini menyayat jiwa Iblis. Ia bertekad melakukan perusakan. Bila banyak masyarakat yang terkesan dengan kedermawanan dan keluasan pemahamannya, maka Iblis akan membalikkan keadaan. Nabi Ayub harus dibuat miskin dan mengeluh dengan kenyataan.

Skenario pun dijalankan. Perniagaan Nabi Ayub diganggu dan dicederai. Beragam kerugian dialami dan Nabi Ayub dibuat tidak berdaya menanggulanginya. Walau keterpurukan sudah menari di depan mata, Nabi Ayub tetap memaksimalkan ikhtiar dan terus bertawakal.

Apa yang ditetapkan tak bisa dihindari. Nabi Ayub kehilangan harta. Bahkan kesehatannya kian memburuk. Ia menderita penyakit yang belum pernah ada. Momen ini digunakan Iblis untuk memunculkan fitnah bahwa Nabi Ayub ditinggal Tuhannya.

Tanpa kesehatan, Nabi Ayub tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sandarkan pada bantuan orang terdekatnya. Ia tidak mau menyerah. Nabi Ayub menunjukkan profil pribadi yang siap diuji, sehingga semakin hari rasa cinta kepada Rabb-Nya semakin terhujam kuat.

Di sampingnya hanya menyisakan sang istri. Ia setia menemani tanpa pandang kondisi. Tekadnya begitu kuat untuk menggantikan suaminya menjadi tulang punggung keluarga. Ia mengerahkan segenap daya dan upaya menghidupi suaminya agar bisa makan walau harus bekerja serabutan.

Pekerjaan yang diterima istri Nabi Ayub penuh ketidakpastian. Karena ia berhadapan dengan pihak yang menghembuskan fitnah untuk menjegal. Puncak fitnah itu membawa pada satu kondisi yang mengancamnya tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Pikirannya semakin bingung, sementara waktu tidak bisa dijeda. Dengan cara apakah ia mendapat makanan?

Di saat yang sama, Nabi Ayub sedang meronta. Ia membutuhkan kehadiran sang istri untuk membantu memenuhi hajatnya. Namun, istrinya tak kunjung tiba. Sesekali terus ditunggu penuh harap. Saat toleransinya ada di ambang batas, ia bernadzar hendak memarahinya dengan memukul sebanyak seratus kali.

Setelah nadzar disampaikan, istrinya datang membawa makanan. Nabi Ayub spontan menegur penuh kekecewaan. Dalam kondisi terdesak, sang istri menyampaikan kenyataan yang dihadapinya. Nabi Ayub kaget. Ia tidak menyangka keterlambatannya karena menghadapi dinamika luar biasa. Ia pun menyampaikan penyesalannya dan memohon ampunan. Namun, Allah menetapkan nadzarnya harus tetap dijalankan.

Rasa sayang teramat dalam kepada istrinya membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Allah Yang Maharahman memberi keringanan. Nabi Ayub diperintahkan mengikat 100 lidi lalu dipukulkan. Hati Nabi Ayub menjadi riang. Bahkan ia menyimpan kebahagiaan teramat besar karena Allah telah membukakan siapa orang yang terbukti mendampinginya penuh ketulusan. Wallahu a’lam. []