Curhat Muslimah: Suami Sibuk, Lupa Istri dan Anak

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya menikah selama tiga tahun. Alhamdulillah sekarang saya dikaruniai seorang anak yang masih bayi. Suami bekerja di luar kota, hanya bisa pulang ke rumah seminggu sekali, hari Sabtu-Minggu. Hari Sabtu, setelah sampai di rumah, dia belanja barang-barang untuk dijual kembali. Biasanya malam Minggu baru sampai di rumah. Karena suami punya tugas ronda malam minggu, setelah pulang berbelanja, dia akan segera berangkat meronda. Dini hari baru pulang, terus tidur sampai siang. Sore hari harus persiapan untuk berangkat lagi ke tempat kerja. Jadi hampir tidak ada waktu untuk keluarga. Terkadang saya merasa kesal. Selain jarang bertemu, intensitas pertemuan saat di rumah pun sangat sedikit. Bagaimana ya menyikapi kondisi keluarga seperti ini agar tetap harmonis? Saya sangat mengharapkan masukan dari Teteh. Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Menghadapi kondisi seperti ini, sebaiknya seorang istri tetap berpikir positif, “Alhamdulillâh, suami saya ternyata seorang yang bertanggung jawab karena mau mengemban tugas menjaga keamanan lingkungan”.

Saat berpikir bahwa suami kita orang bertanggung jawab, lalu menghadapi masalah yang tidak sesuai dengan keinginan, biasanya kita akan mampu bersikap bijaksana. Seperti suami kesiangan salat subuhnya. Jangan langsung marah dan kesal. Wajar apabila seseorang yang biasa tidur pulas tanpa gangguan, ketika harus lembur karena suatu tugas, peluang ngantuk di pagi harinya menjadi sangat besar.

Seorang istri yang bijak akan tetap bersikap baik saat suaminya berangkat meronda atau aktivitas bermanfaat lainnya. Di sini sangat baik apabila istri membekali suami dengan al-Quran.

“Pak, khawatir bada Subuh tidak sempat membaca al-Quran, gimana kalau Bapak membawa al-Quran ini. Hebat kan kalau meronda sambil diselingi membaca al-Quran.” Kita bisa ungkapkan kata-kata itu pada suami.

Lalu,bagaimana membangunkan suami untuk salat subuh? Cobalah tiup dengan lembut rambut di ujung kenning suami sambil membacakan surah Ibrahim ayat 40, Rabbij’alnî muqîmash-shalâti wa minndzurriyyatî. Rabbanâ wataqabbal du’â. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankan lah doaku.

Setelah itu kita lihat reaksi suami. Seorang yang ikhlas, tidak ada kekesalan di hati dengan reaksi apapun suami kita saat dibangunkan. Mungkin awalnya marah, itu wajar. Karena seorang yang kurang tidur, biasanya tidak mau diganggu tidurnya. Tetaplah berdoa, “Ya Allah, bangunkan suami saya”. Tidak lupa membisikkan ajakan dengan kata yang lembut di telinga suami, “Pak, bangun, Pak! Nanti setelah Subuh, boleh tidur lagi”.

Jaga terus keikhlasan hati kita. Mungkin kita butuh waktu lama untuk bisa mengubah seseorang, termasuk mengubah suami. Kita pun tidak boleh terlalu banyak berharap, karena tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu, coba komunikasikan dengan suami semua hal yang kita keluhkan. Insyâ Allâh apabila niatnya lurus dan caranya benar, suami pun akan paham.  ***