Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | GAZA – Kondisi di Jalur Gaza menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang berangsur pulih, meski luka perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 masih terasa sangat dalam. Setelah melalui masa-masa genting yang memaksa ratusan ribu warga mengungsi, ribuan orang kini mulai kembali ke rumah mereka di berbagai wilayah.
Suasana ini juga terlihat di wilayah Deir al-Balah, yang sebelumnya menjadi tempat penampungan bagi banyak pengungsi dari utara. Perlahan, aktivitas keagamaan dan pendidikan pun mulai kembali normal. 
Program Baitul Quran di Masjid DT Gaza yang menjadi salah satu kegiatan andalan, kini telah aktif kembali. Program ini memberikan lebih dari sekadar pelajaran agama, tetapi juga memberikan trauma healing, rasa normalitas dan harapan bagi para santri. Di tengah musim dingin, semangat para santri tidak surut untuk datang ke Masjid Darut Tauhid Gaza dalam menimba ilmu. Kebahagiaan karena dapat kembali berkumpul dan belajar bersama terpancar jelas di wajah mereka, mengatasi dinginnya udara.
Di antara sekian banyak santri yang penuh semangat, terdapat sosok Samaa Abukhsewan (11 tahun). Gadis kecil ini adalah salah satu korban langsung dari serangan yang menargetkan rumahnya, sebuah insiden yang merenggut kaki kanannya hingga harus diamputasi. 
Indra Firdaus, Relawan DT Peduli yang membantu proses pengiriman bantuan ke Gaza, menyebutkan, kembalinya fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan belajar merupakan pencapaian penting dalam kondisi di mana lebih dari 92 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran.
Menurutnya, aktivitas keagamaan dan pendidikan seperti ini memberikan dukungan psikososial yang sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan trauma. Ia menjelaskan, setiap langkah menuju masjid dan setiap ayat yang dilantunkan adalah bentuk ketangguhan warga Gaza.
“Mereka bukan hanya membangun kembali bangunan, tetapi juga memulihkan jiwa dan masa depan generasi penerus,” ungkap Indra. 
“Kegiatan ini mengukuhkan bahwa masjid, yang bermakna tempat sujud, tetap berdiri sebagai simbol penyerahan diri dan harapan. Kehadiran orang-orang seperti Samaa dan para santri lainnya adalah cahaya di negeri yang kuat,” pungkas Indra.
Baca juga: Dapur Harapan di Tengah Puing Gaza
Editor: Agus ID