Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | GAZA UTARA – Suara ledakan yang tidak pernah benar-benar berhenti, rumah yang runtuh, dan langit yang kelabu menjadi latar setiap langkah warga Gaza. Namun di tengah kerusakan fisik itu, ada ancaman lain yang sama mematikan: kelaparan ekstrem. Di tanah yang setiap sudutnya menyimpan cerita kehilangan, Gaza menghadapi babak paling gelap dalam sejarah kemanusiaannya.
F. Arif, Asisten Manajer Urusan Kemanusiaan Internasional LPM DT Peduli, menggambarkan situasi itu dengan lugas, “Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin hari semakin mencapai titik kritis… lebih dari 2 dari tiga penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi ‘Bencana’ (IPC Fase 5).” 
Infrastrukur memasak yang hancur membuat makanan mentah tidak berarti apa-apa. Yang paling dibutuhkan kini adalah makanan siap santap, yang bisa langsung dinikmati, di tengah kondisi perang yang tidak memberi ruang bagi proses memasak.
Pada Ahad (2/11/2025) dan Senin (3/11/2025), di sebuah sudut Gaza Utara, sebuah dapur umum kembali menyala. Dari panci-panci besar itulah mengepul aroma nasi hangat berbumbu ala briyani, aroma yang dalam kondisi normal dianggap biasa, tetapi di Gaza hari ini terasa luar biasa.
Dapur Umum DT Peduli kembali beroperasi untuk menyediakan makanan siap santap bagi warga yang paling terdampak krisis. Selama dua hari pelaksanaannya, 2.400 jiwa menerima manfaat dari layanan ini. 
“Dalam situasi darurat tersebut, kebutuhan akan makanan siap santap menjadi hal yang paling mendesak,” ujar Arif.
Warga Gaza datang membawa apa pun wadah yang mereka punya, seperti mangkuk plastik yang retak, panci kecil, hingga kotak bekas biskuit. Apa saja yang bisa menampung makanan, mereka genggam erat dengan harapan.
Para relawan berdiri di sisi panci-panci besar yang penuh nasi briyani hangat. Dengan centong besar, mereka mengisi satu per satu wadah yang diulurkan warga dengan secukupnya, seadil mungkin, agar semua mendapatkan bagian. Tangan-tangan yang bekerja cepat dan hati-hati, mengisi wadah dengan nasi hangat yang masih mengepul. Di tengah antrean itu, senyum-senyum kecil mulai bermunculan. Senyum lega yang telah lama hilang. Ada yang tersenyum sambil mengusap air mata. Ada yang terus melihat isi wadahnya, seolah memastikan bahwa nasi hangat itu nyata. Momen-momen kecil ini menjadi ruang napas di tengah kegentingan tanpa jeda.
Seorang anak perempuan, setelah wadahnya terisi penuh, berkata lirih, “Terima kasih, semoga Allah memberkahi kalian.”
Di sela proses pembagian, seorang relawan lokal yang bekerja bersama DT Peduli menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Indonesia. Suaranya tegas namun lembut, seakan berusaha menyampaikan rasa terima kasih seluruh Gaza melalui satu kalimat panjang yang penuh harap.
“Kami masih terus bersama Anda pada hari ini, 2 November 2025, untuk menyajikan makanan hangat kepada saudara-saudara kami para pengungsi di sini, di Jalur Gaza bagian utara. Dan kami juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas kedermawanan yang baik ini. Semoga Allah memberkahi Anda, dan Anda telah lama membantu saudara-saudara kami para pengungsi di sini, di Jalur Gaza bagian utara. Semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang terbaik dari kami," tuturnya di antara panci-panci besar tersebut.
Ucapan itu bahasa yang sederhana namun kuat. Mereka ingin memastikan bahwa dukungan dari Indonesia benar-benar sampai ke hati, bukan hanya ke perut.
Di tengah perang yang mencabik kehidupan, pembagian nasi langsung dari panci besar itu bukan hanya aksi bantuan. Ia adalah simbol solidaritas yang melampaui batas negara, bahasa, dan jarak.
Bagi warga Gaza, membawa pulang wadah berisi nasi hangat berarti membawa pulang secercah kehidupan. Mungkin hanya satu atau dua porsi untuk sekeluarga, tetapi cukup untuk menguatkan mereka satu hari lagi. Dan di Gaza hari ini, bertahan satu hari adalah bentuk kemenangan kecil yang sangat berarti. Program Dapur Umum DT Peduli menegaskan komitmen untuk tetap berada di garis depan aksi kemanusiaan. Selama masih ada kemungkinan menyalurkan bantuan, dapur itu akan terus menyala, menjaga nyala harapan, menyediakan kehangatan, dan menghadirkan kehidupan bagi mereka yang hampir kehilangan semuanya.
Di tanah yang penuh luka itu, panci-panci besar yang mengepul menjadi simbol ketangguhan dan kepedulian. Dan dari setiap centong nasi yang dibagikan, mengalir doa, kekuatan, dan pengingat bahwa kemanusiaan tidak pernah padam.
“Setiap porsi makanan hangat yang tersaji dari Dapur Umum DT Peduli adalah wujud nyata dari kepedulian yang menembus batas geografi dan situasi,” tegas Arif.
Baca juga: Ciptakan Kehangatan di Tengah Dingin yang Melanda, DT Peduli Hadirkan Dapur Umum di Gaza
Editor: Agus ID