Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | ACEH TAMIANG – DT Peduli mengambil langkah strategis dalam penanganan pascabencana di Aceh Tamiang. Menggandeng tim ahli dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (SAPPK-ITB) serta Fakultas Teknik Sipil Universitas Almuslim Bireuen, DT Peduli menawarkan solusi pemulihan berbasis kajian ilmiah yang komprehensif.
Dalam audiensi yang berlangsung Sabtu (17/1/2026), Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, secara resmi menyetujui konsep Grand Design yang diajukan oleh DT Peduli dan tim ahli. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada bantuan logistik sesaat, melainkan menyasar akar masalah melalui tata ulang kota (urban redesign) dan mitigasi bencana jangka panjang.
“Ini sangat membantu kami. Maka kami sangat berterima kasih. Kami tadi sudah memohon kepada Bapak Rektor ITB untuk bisa membantu membuat masterplan bagaimana Aceh Tamiang ini ke depan lebih baik lagi desainnya,” tutur Armia.
Hunian Adaptif dan Transformasi Ekonomi Sebagai respons terhadap banjir tahunan dengan intensitas tinggi (20 cm hingga 2 meter), DT Peduli bersama tim ahli SAPPK-ITB merekomendasikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) yang kembali pada arsitektur tradisional, yakni Rumah Panggung. 
Selain infrastruktur, DT Peduli juga menyoroti aspek pemulihan ekonomi dan lingkungan. Mengingat 80% alih fungsi hutan menjadi sawit memperparah dampak banjir, tim ahli merumuskan strategi transformasi ekonomi warga. Tujuannya adalah menggeser ketergantungan pada monokultur sawit menuju pola ekonomi yang lebih ramah lingkungan (ekologis) namun tetap produktif dan menguntungkan masyarakat.
Komitmen Jangka Panjang Bupati Armia Pahmi mengapresiasi langkah konkret ini dan berharap DT Peduli bersama SAPPK-ITB dapat memimpin penyusunan masterplan penataan kota Aceh Tamiang ke depan.
Menanggapi kepercayaan tersebut, Budi Faisal, perwakilan SAPPK-ITB yang juga merupakan tim ahli sekaligus pembina DT Peduli, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana adalah lari maraton, bukan lari sprint.
“Dalam penanganan bencana ini, bukan hanya siapa yang cepat, tapi siapa yang bertahan lama dan dapat memberikan dampak yang besar untuk masyarakat penyintas bencana Aceh," ujar Budi Faisal.
Senada dengan hal tersebut, Cut Azizah, perwakilan dari Universitas Almuslim Bireuen menekankan pentingnya penataan kawasan hunian yang sejajar alur sungai dan memiliki ruang pembatas (buffer) untuk meminimalisir hantaman material saat banjir terjadi.
Melalui kolaborasi ini, DT Peduli berharap menghadirkan peradaban baru bagi masyarakat Aceh Tamiang, yakni sebuah kehidupan yang lebih aman, tertata, dan penuh keberkahan.
Penyunting: Agus ID