Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | CIANJUR – Deru mesin kendaraan perlahan berganti dengan sunyi yang dipecah oleh gemericik aliran sungai yang deras. Selama tiga hari tim DT Peduli Cianjur menyusuri ujung Cianjur Selatan.
Senin (13/4/2026), tim program DT Peduli Cianjur memulai perjalanan panjang menuju selatan. Bukan sekadar perjalanan biasa, namun sebuah misi untuk memetakan kebahagiaan bagi warga yang selama ini terisolasi oleh bentang alam yang menantang.
Perjuangan Menembus Batas di Cikadu
Tujuan berikutnya adalah Kecamatan Cikadu. Untuk mencapai titik ini, tim harus melintasi kawasan Rancabali, membelah hijau hamparan perkebunan teh. Meski jaraknya terlihat dekat di peta, kenyataan di lapangan berkata lain. Medan berbatu memaksa kendaraan bergerak lambat, memakan waktu hingga tiga jam perjalanan.
Di Cikadu, sunyi terasa lebih pekat. Sebagian besar penduduk yang tersisa adalah lansia. Rumah-rumah panggung dihuni oleh mereka yang menua, sementara anak-anak muda mereka pergi merantau, bahkan hingga ke mancanegara menjadi pekerja migran, demi menyambung hidup keluarga.
Titik paling menantang berada di ujung Cikadu, tepatnya di Desa Ciambon, Kecamatan Naringgul. Ardlyansya melukiskan jalur tersebut sebagai jalur yang hanya ramah bagi mereka yang gemar olahraga ekstrem off-road. Di desa yang dihuni oleh 150 kepala keluarga ini, isolasi bukan sekadar kata, melainkan kenyataan pahit sehari-hari yang disebabkan oleh rusaknya akses jalan.
Rakit Kehidupan dan Asa di Seberang Sungai
Puncak dari survei ini terjadi saat tim tiba di bantaran sungai yang memisahkan pemukiman dengan dunia luar. Di Ciambon, rakit bambu adalah satu-satunya urat nadi kehidupan. Namun, rakit ini memiliki syarat mutlak, yaitu cuaca yang bersahabat.
"Qadarullah, sore kemarin terjadi hujan yang cukup lama, mengakibatkan air sungai meluap. Kami tidak bisa menyeberang," kenang Gusman saat berdiri di tepi sungai.
Barulah pada Rabu (15/4/2026) pagi, aliran air mulai surut. Tim menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati saat anak-anak sekolah dengan seragam rapi berdiri di atas rakit agar bisa sampai ke sekolah di desa tetangga. Jika hujan turun dan sungai meluap, maka aktivitas pendidikan pun berhenti seketika.
"Sekolah itu tergantung cuaca. Padahal mereka sangat semangat mencari ilmu," tambah Ardlyansya dengan nada getir. Bagi warga setempat, jembatan adalah impian terbesar.
Di tengah keterbatasan itu, mereka tetap memiliki kerinduan spiritual yang besar. Mereka ingin mengadakan tabligh akbar dan kegiatan keagamaan, meski menyadari bahwa akses jalan seringkali menjadi penghalang bagi para pendakwah untuk berkunjung.
Menanti Kehadiran Qurban yang Langka
Di balik keramahan penduduknya yang bersahaja, ada fakta menyedihkan terkait ibadah qurban. Memang, hampir di setiap rumah (suhunan) warga memiliki ternak domba. Namun, domba-domba itu adalah aset berharga yang jarang mereka sembelih sendiri. Dalam setahun, di satu desa paling banyak hanya satu atau dua ekor domba yang dikurbankan untuk dibagi ke ratusan warga.
Seorang warga menceritakan kenyataan yang lebih memprihatinkan.
"Seingat saya, baru dua kali ada qurban sapi di sini. Selama hampir 40 tahun, baru dua kali," ungkapnya dengan bahasa Sunda yang kental.
Jarangnya qurban sapi membuat momen Idul Adha di Ciambon terasa sepi. Setumpuk daging yang dibagikan seringkali terlalu sedikit untuk menjangkau semua keluarga.
Melalui program Qurban Impact, DT Peduli berupaya menjembatani harapan warga Ciambon untuk mendapatkan kebahagiaan Idul Adha dengan merasakan daging qurban, terutama sapi.
Perjalanan panjang menembus jalan berbatu dan bertaruh nyawa di atas rakit ini dilakukan demi satu tujuan, yakni memastikan amanah para mudhohi (pequrban) sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan. Di ujung Cianjur yang tersembunyi ini, setitik daging qurban bukan sekadar hidangan, melainkan kebahagiaan dan simbol bahwa mereka tidak dilupakan.
Baca juga: Menjemput Berkah Qurban di Sungai Harimau Tandang
Penyunting: Agus ID