Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BOGOR – Suasana sedih menyelimuti Rumah Tahfidz Quran (RTQ) DT Peduli Bogor pada Ahad (5/10/2025). Salah seorang santrinya, Khairunnisa Nurseli, berpulang ke rahmatullah. Gadis kelahiran Bogor, 19 Desember 2001 ini dikenal sebagai pribadi yang lembut, tekun, dan memiliki cita-cita besar menjadi seorang ustadzah penghafal Al-Qur’an.
Khairunnisa berasal dari keluarga sederhana di Kampung Surupan, Desa Sukasaran, Kecamatan Karang Tengah, Kota Cianjur, Jawa Barat. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Sang ayah, Dundun Supyan, telah lebih dulu meninggal dunia, menjadikannya seorang yatim sejak usia muda. Sejak itu, sang ibu, Listi, yang merupakan ibu rumah tangga, menjadi satu-satunya penopang keluarga.
Dalam kesehariannya, Khairunnisa dikenal penuh semangat meski hidup dengan berbagai keterbatasan. Sejak kecil, setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia mengalami polio yang menyebabkan kakinya lumpuh dan membuatnya harus menggunakan kursi roda. Namun, keadaan itu sama sekali tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.
Sebelum menjadi santri di RTQ DT Peduli Bogor, Khairunnisa mengikuti program pemberdayaan difabel yang diselenggarakan oleh DT Peduli. Dalam program tersebut, ia mendapatkan pelatihan menjahit sebagai bekal kemandirian. Dengan semangat tinggi, ia belajar mengoperasikan mesin jahit hingga akhirnya mampu menghasilkan karya sendiri.
Karya-karya jahitannya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkarya. Saat pandemi COVID-19 melanda, Khairunnisa turut berkontribusi menjahit baju dan masker sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Dari tangannya yang lemah tapi terampil, lahir manfaat bagi banyak orang.
Setelah mengikuti program pemberdayaan tersebut, tekad Khairunnisa untuk menapaki jalan ilmu semakin kuat. Ia memilih menjadi santri di Rumah Tahfidz Quran DT Peduli Bogor untuk mendalami Al-Qur’an dan mengejar cita-citanya menjadi pengajar tahfidz. Sejak tiga bulan lalu, Ia mantap untuk mondok di RTQ DT Peduli Bogor.
“Alhamdulillah, Teh Nisa mengikuti kegiatan seperti biasanya; halaqoh Al Qur'an, shalat berjamaah, shalat tahajjud, shalat duha, dan Ekskul thibun Nabawi. Kemudian ketika ada ekskul Hadroh, Teh Nisa waktunya untuk terapi bersama Bu Yani rutin sepekan sekali di hari Rabu. Teh Nisa bisa ikut jalan jalan ke luar saat santri olahraga berenang, dan Teh Nisa bisa mengikuti ujian bulanan Ulumuddin dan sangat semangat dalam belajar,” kenang Khilda, Musyrif RTQ DT Peduli Bogor.
Selama masa belajar, Khairunnisa berhasil menghafal satu juz Al-Qur’an. Ia menjalani proses hafalan dengan tekun dan sabar, menjadikan setiap ayat sebagai penguat jiwa dan jalan untuk membahagiakan orang tuanya, terutama sang ayah yang telah tiada.
Selain fokus menghafal, Khairunnisa juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di RTQ, seperti Marawis dan Thibbun Nabawi. Ia dikenal sebagai pribadi yang ceria, mudah bergaul, dan selalu membawa semangat di tengah teman-temannya.
Di waktu luang, Khairunnisa senang membaca novel dan menonton drama. Baginya, membaca dan menonton bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara untuk memahami kehidupan dan mengisi waktu dengan hal positif.
Memasuki awal Oktober, kondisi kesehatan Khairunnisa sempat menurun. Pada Rabu (1/10/2025), ia mengeluhkan sesak napas. Setelah menjalani terapi totok punggung dan mengonsumsi madu, kesehatannya membaik. Ia kembali beraktivitas seperti biasa dan bahkan menjalani terapi lanjutan pada Sabtu (4/10/2025).
Tiba-tiba, Ahad pagi (5/10/2025), menjadi hari yang berat. Sekitar pukul 08.30 WIB, setelah mandi dan berpakaian dengan bantuan teman, Khairunnisa tiba-tiba mengalami sesak napas parah dan tak sadarkan diri. Musyrifah segera membawa Khairunnisa ke IGD Puskesmas.
Sayangnya, ambulans Puskesmas tidak memiliki supir yang tersedia saat itu. Dalam situasi darurat, Khairunnisa akhirnya dibawa menuju rumah sakit menggunakan angkutan umum. Di tengah perjalanan, Ia menghebuskan nafas terakhir.
Atas permintaan keluarga, jenazah Khairunnisa dibawa ke rumah duka di Cianjur. Setibanya di sana, jenazah dimakamkan pada pukul 14.05 WIB di hari yang sama. Tangis haru mengiringi kepergian santri yang dikenal lembut dan tekun ini.
Kisah hidup Khairunnisa Nurseli menjadi cerminan keteguhan seorang pejuang yang tidak menyerah pada keterbatasan. Ia membuktikan bahwa fisik yang lemah tidak menghalangi seseorang untuk kuat dalam iman dan karya. Dari kursi roda, dengan mushaf kecil di pangkuannya, ia menumbuhkan cahaya melalui hafalan Al-Qur’an.
Kini, Khairunnisa telah kembali ke sisi Allah SWT, meninggalkan kenangan indah dan teladan ketulusan bagi siapa pun yang mengenalnya. Bagi keluarga besar RTQ DT Peduli Bogor, Khairunnisa bukan hanya seorang santri, melainkan sosok inspiratif yang mengajarkan arti sabar dan perjuangan.
“Semoga Khairunnisa diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Taufik Hidayat, Kepala DT Peduli Bogor.
Baca juga: Tangan yang Memberi, Hati yang Terisi: Cerita Santunan Muharram Sekolah Alam Bratakasian
Editor: Agus ID