Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Bertahan di Kantor Desa, Ini Kisah Pengungsi Longsor Cisarua
 

 

Bertahan di Kantor Desa, Ini Kisah Pengungsi Longsor Cisarua

Dipublish pada:

27 Jan 2026


DTPEDULI.ORG | BANDUNG BARAT – Hujan belum benar-benar reda ketika satu per satu warga Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda tiba di Kantor Desa Pasirlangu. Wajah mereka menyimpan letih, mata sembab karena kurang tidur. Di tempat sederhana itulah, puluhan keluarga mencari rasa aman setelah longsor dan banjir bandang memaksa mereka meninggalkan rumah. 

Lokasi terdampak berada di Kampung Pasirkuning RT 05/11 dan Kampung Pasirkuda RT 01/10, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Berdasarkan data sementara hingga Jumat, 24 Januari 2026, pukul 13.00 WIB, sekitar 30 rumah dilaporkan terdampak dengan 34 kepala keluarga atau 113 jiwa. 

Waspada Banjir dan Longsor Susulan 

Ade Olib adalah salah satunya. Saat ditemui Senin (26/1/2026) Lelaki lanjut usia itu sedang berdiri di antara aula desa dan masjid, tampak sedang bercerita saat longsor terjadi. Rumahnya memang tidak hancur total, tapi pengalaman menghadapi air bah membuatnya memilih mengungsi. 

“Naik ke atas sini, mengamankan diri,” katanya pelan. “Alhamdulillah sekarang sudah surut. Air di rumah saya juga sudah seperti itu,” ujarnya sambil memberi isyarat setinggi betis.

pengungsi longsor cisarua.jpg 170.36 KB
Rasa lega itu tak sepenuhnya menenangkan. Ade mengaku masih diliputi kekhawatiran akan banjir susulan. Lumpur yang mengendap di sekitar aliran air menjadi ancaman tersendiri. 

“Saya mah waspada saja. Takutnya itu lumpur sudah penuh. Kalau ada banjir susulan, bahayanya kan otomatis bakal… meluap,” ucapnya, suaranya menggantung di ujung kalimat. 

Ia lalu bercerita tentang batang-batang kayu besar dan material longsor yang menyangkut di hilir. Menurutnya, justru tumpukan kayu itulah yang secara tak langsung menahan laju air agar tidak menyapu permukiman secara lebih luas. 

“Yang di atas itu oleh orang berlima pun nggak terangkat, tergusur, terus nyangkut di kebun. Kayu itu dari daerah kehutanan. Jadi airnya menyimpang ke sini. Kalau nggak terhalang itu, airnya belok aja mengikuti jalan, habis semua,” jelas Ade 

Nyawa Selamat, Namun Rumah Lenyap 

Di sudut lain kantor desa, Tini duduk bersama keluarganya. Ia mengingat betul malam-malam panjang sebelum bencana terjadi. 

“Dari jam satu sudah mati lampu,” tuturnya.  

“Sampai ke tadi longsor juga masih mati lampu,” lanjutnya.

pengungsi longsor cisarua 2.jpg 134.16 KB
Ia menyebut, hujan deras disertai angin kencang tak berhenti mengguyur wilayah tersebut selama empat hari berturut-turut. Warga memilih bertahan di rumah karena cuaca tak bersahabat, hingga akhirnya bencana datang tanpa banyak peringatan. 

“Udah mah hujan, hujan angin. Anginnya besar. Orang-orang pada diem di rumah,” kata Tini.  

“Kejadiannya pas dini hari,” suaranya bergetar, mengingat kejadian. 

Petaka itu tak hanya menyasar rumah warga secara acak. Rumah Tini memang selamat. Namun, Uaknya, Ade, yang tinggal bersama istrinya, Onek, dan anak mereka, Cucu, menjadi salah satu korban paling parah. Rumahnya hancur, rata tertimbun lumpur dan tanah.

“Rumahnya habis,” ujar Tini lirih.  

“Mau nolong tetangga, keburu air datang. Air bah besar, bawa batu sama lumpur,” tambahnya. 

Dalam kepanikan, Ade hanya punya satu pilihan, yakni menyelamatkan diri. Ia meloncat ke pinggir saat arus deras datang menerjang. Tubuhnya selamat, meski luka tak bisa dihindari. 

“Ini aja kena luka,” kata Tini sambil menunjuk latak luka uaknya.  

“Kena bambu.” 

Wilayah RW 11 menjadi titik longsor utama. Sementara Tini dan keluarganya tinggal di bawahnya, di RW 12 Babakan Pasir Kuning. Meski rumahnya tak hancur, ia tetap diminta aparat setempat untuk tidak kembali dulu. 

“Rumah emang nggak bisa ditinggalin, tapi jaga-jaga aja kata Pak RT,” ujarnya. “Takut ada susulan.” 

Di desa itu, hubungan kekerabatan begitu erat. Satu lingkungan adalah satu keluarga besar. Itulah sebabnya bencana ini terasa berlipat ganda beratnya. 

“Kalau di kampung mah, se-lingkungan saudara semua. Makanya yang sekarang kejadian juga hampir semua saudara,” kata Tini. 

Wiwi, orang tua Tini, ikut mengungsi bersama anak dan cucunya. Meski usia tak lagi muda, ia berusaha tegar menghadapi situasi. 

“Alhamdulillah selamat. Pengen segera pulih. Pengen cepat-cepat kembali ke rumah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. 

Di Kantor Desa Pasirlangu, para pengungsi bertahan dengan apa adanya. Tikar digelar, anak-anak tidur berdesakan, orang dewasa saling menguatkan dengan cerita dan doa. Tak ada yang tahu pasti kapan mereka bisa pulang.  

Baca juga: Aksi Tanggap Darurat Longsor Cisarua, 80 Orang Dinyatakan Hilang   

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator