Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Di sebuah rumah sederhana di Padalarang, Januari 1999, lahirlah seorang anak bernama Eri Fatria. Ia tumbuh dalam keluarga yang tak utuh. Kedua orang tuanya berpisah ketika ia masih kecil. Sejak itu, Eri dibesarkan oleh sang ayah, seorang buruh pabrik yang hidupnya serba sederhana. Namun dari kesederhanaan itulah, lahir tekad yang luar biasa.
Sejak duduk di bangku SD, Eri sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri. Mulai dari mengurus diri, belajar, hingga mencari jalan agar tetap bisa sekolah. Saat teman-teman sebayanya masih banyak bermain, Eri sudah mengenal arti tanggung jawab. Ia sadar, jika ingin hidup lebih baik, satu-satunya jalan adalah pendidikan.
“Waktu SD sampai kuliah, alhamdulillah saya selalu juara satu di kelas,” kenang Eri, tersenyum kecil.
Prestasinya pun bukan hanya di bidang akademik. Di SMP dan SMK, ia aktif di berbagai organisasi: paskibra, pramuka, hingga menjadi ketua OSIS. Jiwa kepemimpinan yang diasah sejak remaja itu kelak menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidupnya.
Perjalanan Bersama DT Peduli
Tahun 2014 menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu, Eri mengikuti seleksi Beasiswa DT Peduli, sebuah program yang membuka kesempatan bagi siswa berpotensi dari keluarga tidak mampu. Dari puluhan peserta, hanya tiga orang yang berhasil lulus. Eri adalah salah satunya.

“Yang paling nempel itu dari dulu ya, kalau dulu namanya masih BRTT sekarang kan BR3T emang itu yang paling nempel sampaikan kebiasaan kayak misalkan sendal itu harus ke belakang, itu Alhamdulillah sampai sekarang bisa diterapkan dimanapun Berada gitu ya, contohnya Kita lagi berkunjung ke tempat lain pun ya karena memang sudah kebiasaan disini seperti itu Alhamdulillah gitu ya bisa diterapkan” ujarnya sambil tersenyum.
Lebih dari itu, nilai-nilai seperti jujur, ikhlas, dan tangguh menjadi fondasi yang menempel kuat dalam dirinya.
“Dan selain itu Ya dari tadi ada Karakter baku juga karakter baku ini memang Jujur Ikhlas ya dan lain sebagainya itu memang sangat Nerap banget tuh di Diri kita gitu Jadi itu pelajaran yang sekarang selalu dijadi itu ya Terima kasih. Dan lain sebagainya Itu memang sangat nerap banget di diri kita Jadi itu pelajaran yang Sekarang selalu dijadi Di bawa kemana-mana,” tambahnya.
Dari Santri Jadi Pemimpin
Kini, hampir satu dekade dari kululusannya di SMK DTBS, Eri telah tumbuh menjadi sosok yang banyak menginspirasi. Ia tinggal di salah satu perumahan di Kabupaten Bandung Barat bersama istri dan anaknya. Di lingkungan rumahnya, ia dikenal bukan hanya sebagai ayah dan suami yang penyayang, tapi juga sebagai imam masjid dan pengisi doa dalam berbagai kegiatan keislaman.

Dari sisi karier, Eri dipercaya menjadi Manajer Operasional Hikmah Tour and Travel. Di sela kesibukannya, ia juga mengajar sebagai guru mata pelajaran Kebudayaan Daerah di SMA DTBS Putri Bandung, yang sebelumnya ditunjuk jadi Wakil Kepala Sekolah. Dua peran itu dijalaninya dengan penuh dedikasi, menyatukan antara profesi, dakwah, dan pendidikan.
Eri mengaku, nilai-nilai leadership yang dia pelajari di SMK dulu sangat membentuk dirinya hingga hari ini.
“Itu di leadership ya, leadership. Karena kan dari dulu juga di SMK teh sama ya, empat pilar pendidikan. Ma'rifatullah, leadership, entrepreneurship, sama wawasan lingkungan. Nah, yang paling merubah diri Abi mah yaitu di leadership itu,” ungkapnya.

“Terima kasih untuk semua donatur, terutama yang menitipkan dananya lewat DT Peduli,” ucapnya dengan nada penuh haru.
Ia menjelaskan, biaya DSP kala itu sekitar 18 juta, lalu per bulannya 1,8 juta. Kalau diakumulasikan selama tiga tahun, Ia menyebutkan, biaya yang dihabiskan hampir 100 juta untuk satu orang.
“Masya Allah, itu amanah besar yang dititipkan kepada DT Peduli oleh para donatur,” kenangnya.
Eri menyadari, tanpa beasiswa itu, mungkin ia tak akan bisa berdiri seperti sekarang.
“Mudah-mudahan jadi amal ibadah untuk Bapak Ibu sekalian yang sebagai donatur yang sudah memberikan infak-infak atau dana-dana terbaiknya untuk kita sampai sekarang ya wasilahnya bisa sampai seperti ini, begitu ya. Alhamdulillahnya,” doanya tulus.

“Alhamdulillah sampai sekarang ya kita sampai bisa seperti ini dan mudah-mudahan terus istiqomah dalam kebaikan. Itulah intinya. Mudah-mudahan. Amin ya Allah ya Robbal Alamin,” ujarnya menutup perbincangan.
Baca juga: Penuh Keterbatasan, Mimpi Lutfi Berkuliah Terwujud Berkat Beasiswa Mahasiswa DT Peduli
Editor: Agus ID