Salman al Jugjawy: Inilah Idola Sesungguhnya

Generasi 90-an pasti sudah tidak asing lagi dengan grup yang satu ini. Sheila on 7, Grup band asal Yogyakarta ini terus naik daun, lagu-lagunya dikenal luas masyarakat, dan band ini pun menjadi idola kaula muda saat itu. Konser di berbagai kota, manggung di sana-sini, dan tampil di acara-acara hiburan menjadi agenda rutinan.

Popularitas rupanya tak membuat salah seorang personel Sheila on 7, yakni Saktia Ari Seno, atau dikenal dengan nama Sakti ini puas. Berawal ketika Salman sedang sibuk-sibuknya konser ke berbagai daerah, ia mendapati kabar ibunya jatuh sakit. Salman merasa bersalah karena ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk ke luar kota dan jarang menemui ibunya. Saat itu, ingatan tentang kematian pun muncul di pikirannya.

Secercah hidayah pun kembali menghampirinya saat ia dan sahabatnya akan pergi ke Malaysia. Saat berkeliling bandara Adisucipto, Yogyakarta, ia sempat mampir ke toko buku dan menemukan buku yang membuat kembali mengingat kematian. Ia putuskan untuk tersebut dan membacanya saat itu juga.

Merasa gamang dengan hidup yang dijalaninya, pria kelahiran Yogyakarta, 14 Juni 1980 ini pun mencari sesuatu yang membuatnya tenang menjalani hidup. Dari tahun 2004, Sakti mulai mencari arah tujuan hidupnya dengan banyak membaca dan bersilaturahim.

Setelah menemukan tujuan hidupnya, akhirnya Sakti mantap berhijrah dan tahun 2016 meninggalkan aktivitas lamanya, termasuk band yang ikut membesarkan namanya. Sakti pun mengubah namanya menjadi Salman al-Jugjawy, yang berarti Salman dari Yogya.

Idola Sesungguhnya

Sempat mencicipi manisnya menjadi sang idola, kini Salman hidup tenang dengan aktivitas barunya. Ditemui di kediamannya, Salman mengungkapkan kepada tim Swadaya beberapa waktu lalu, bahwa ada tokoh-tokoh yang harus menjadi idola setiap Muslim.

Menurutnya, Rasulullah Saw, para nabi, dan para sahabat adalah tokoh-tokoh yang pantas diidolakan setiap Muslim. Mengapa? Karena menurutnya, mereka adalah tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses di dunia maupun di akhirat yang memiliki berbagai profesi, ada pebisnis, peternak, penyair, dan sebagainya. Idola juga dapat mempengaruhi seseorang dalam menjani kehidupan sehari-harinya.

“Kalau orang idolanya bener, Insya Allah kita akan sukses dunia akhirat, tetapi kalau idolanya salah ya kehidupan kita pun akan salah. Salah di dunia, salah di akhirat,” katanya.

Setelah berhijrah, Salman tak hanya mengubah penampilannya dengan berpeci, bercelana katun, berpakaian gamis sederhana, dan memelihara janggutnya, ia pun memiliki kegiatan baru. Selain berjualan pakaian muslim, Salman juga berjualan buku secara online. Ia pun kini sangat menikmati aktivitas barunya mengisi pengajian-pengajian.

Walau demikian, Salman mengaku masih suka bermusik saat waktu senggang. Tetapi, ada yang berbeda antara bermusik saat ini dengan bermusik saat masih di bandnya.

“Di musik hanya sebagai keperluan. Kalau dulu kan sebagai tujuan, sekarang hanya sebagai keperluan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan tapi bukan sebagai yang utama, cuma sebagai sarana pesan saja untuk menyampaikan kebaikan kepada umat,” jelasnya.

Tahun 2010 Salman sempat mengeluarkan sebuah album religi bertajuk "Selamatkan" di bawah naungan labelnya sendiri yang bernama Al Jugjawy Records. Setelah 3 tahun berselang, masih dengan label miliknya, Salman kembali meluncurkan sebuah album repackage bertajuk "Islam Itu Indah".

Lebih Tenang

Seberapa bahagia dan tenang Salman sekarang? Ditanya demikian, Salman tersenyum dan spontan menjawab kalau kehidupannya saat ini membuatnya jauh lebih tenang. Ia mengibaratkan antara handphone bagus dan handphone sederhana yang sama-sama butuh sinyal agar keduanya bisa digunakan. Salman pun mengibaratkan dirinya yang dulu seperti handphone bagus tetapi sinyalnya jelek.

Kalau sinyalnya jelek kan nggak tenang. Syukur-syukur hapenya bagus, sinyalnya juga bagus, senang dapat, tenang juga dapat. Tapi kalau disuruh milih, misalnya hape bagus tidak ada sinyalnya atau hape sederhana tapi ada sinyalnya, ya mending yang sederhana tapi ada sinyalnya,” tambahnya.

Hidayah, menurutnya, adalah sesuatu yang harus dijemput, dicari, bukan ditunggu. Jika hanya ditunggu, bisa jadi hidayah tak akan pernah menghampiri sampai kapan pun. Dulu, ketika Salman berkeinginan menjadi pemain gitar yang hebat, ia rela belajar kesana kemari hingga akhirnya ia menjadi salah seorang gitaris handal dan ternama.

Pun ketika seseorang bercita-cita menjadi seorang dokter, seorang pengusaha, atau menjadi mahasiswa teladan ia harus berusaha semaksimal mungkin agar cita-citanya terwujud. Begitu juga dengan hidayah Allah. Ketika ingin menjadi menusia teladan di sisi Allah, maka harus berusaha menjadi hamba yang teladan.

Kalau hidayah, untuk mengenal Allah SWT ini nggak bisa kalo nggak ada usaha. Contohnya berpikir tentang penciptaan alam semesta, bagaimana Allah menciptakan matahari, langit, bumi, ini harus dipikirkan,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Salman menjelaskan, seperti halnya mengejar kesuksesan didunia, manusia juga harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapat kesuksesan di akhrat. Bahkan, kesuksesan di akhirat harus lebih diutamakan daripada kesuksesan di dunia yang bersifat sementara. Karenanya, sudah sepantasnya manusia harus lebih banyak mengingat Allah yang senantiasa mengurus, mencukupi kebutuhan, dan memberikan kebaikan yang tidak kita minta.

Apa nggak sadar setiap saat kita dibantu oleh Allah. Mata kita bisa melihat dibantu Allah, tangan kita bisa memegang itu semua karena Allah. Nggak terhitung nikmatnya. Sama manusia saja yang berbuat baik kepada kita tidak boleh khianat, apalagi sama Allah yang setiap detik berbuat baik kepada kita. Rasanya tidak pantas untuk berkhianat,” katanya. (Astri)