Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Matahari akhir Juli 2026 di Jalur Gaza tidak bersikap ramah. Sinarnya menembus debu-debu halus semen yang berterbangan, memantul keras pada beton-beton abu-abu yang hancur berkeping. 
Air bersih garis tipis yang memisahkan bertahan hidup dan keputusasaan. Kerusakan infrastruktur publik yang masif serta pembatasan mobilitas telah mengubah rutinitas sederhana menjadi perjuangan fisik yang menguras tenaga setiap harinya.
Kesejukan di Tengah Terik Musim Panas
Ketika truk tangki besi berwarna perak milik program kemanusiaan kolaborasi DT Peduli, Nusantara Palestina Center (NPC), dan Alsabil Welfare House (AWH) merapat ke titik distribusi, suasana berubah riuh. Suara mesin tangki yang berdeguk konstan berpadu dengan gemericik deras air yang mengalir dari selang-selang tebal. Rasa sejuk seketika merebak saat cipratan air membasahi tanah kering, mengubah debu-debu menjadi lumpur tipis di sekitar kaki-kaki warga yang mengantre. 
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berdasarkan firman Allah Ta'ala: 'Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup', serta mengamalkan sabda Nabi Saw: 'Sebaik-baik sedekah adalah memberi minum air', hari ini kami menyalurkan bantuan air minum bagi saudara-saudara kita para pengungsi di kamp-kamp wilayah utara Jalur Gaza..." tutur seorang relawan lapangan di hari pertama penyaluran.
Di sudut lain, seorang anak laki-laki dengan tatapan polos berdiri tegak di samping jeriken-jeriken yang telah terisi penuh. Dengan bangga dan haru, ia memegang papan putih bertuliskan “AIR BERSIH UNTUK PALESTINA - AGUSTUS 2026”. Tidak ada keriuhan permainan anak-anak seusia mereka. Yang ada hanyalah fokus membawa pulang tumpuan hidup bagi keluarga yang menunggu di balik dinding tenda yang tipis.
"Terima kasih, terima kasih banyak atas airnya. Semoga kalian bisa selalu membawakannya untuk kami, selalu dan selalu," ucap seorang bocah laki-laki penerima manfaat dengan binar mata penuh bahagia.
Selama tujuh hari beruntun, dari Senin (27/7/2026) Hingga Ahad (2/8/2026), perjuangan membagikan kehidupan ini berlangsung tanpa jeda. Sebanyak 22 armada truk tangki bergerak setiap hari sejak waktu subuh, menembus puing-puing bangunan, serta keterbatasan logistik di Gaza City, Gaza Utara, hingga Deir al-Balah di Gaza Selatan. 
"Tenda-tenda ini tidak dapat melindungi mereka dari terik panasnya musim panas maupun dinginnya musim dingin. Kami hadir memberikan bantuan ini atas kontribusi yang baik dan mulia dari Daarut Tauhiid di Indonesia. Semoga Allah memberkahi mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan, serta memberi mereka minum dari sungai-sungai surga," puji relawan yang bertugas pada Rabu (29/7/2026).
Kehadiran bantuan air bersih terfiltrasi ini memberikan nafas lega yang sangat berarti. Bantuan gratis ini memangkas beban keluarga dan mahalnya kesehatan yang kian mencekik di tengah krisis. 
"Pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026, Yayasan Darut Tauhiid telah menyediakan air bersih layak minum bagi para pengungsi dan warga di Kota Deir al-Balah, khususnya di tengah cuaca yang sangat panas ini. Maka kami mengucapkan, terima kasih Yayasan Darut Tauhiid (Peduli), terima kasih Indonesia!" ungkap relawan di wilayah selatan Gaza.
Di tanah yang sarat duka ini, setetes air bersih lebih dari sekadar penghilang dahaga. Air bersih yang sampai di rumah mereka menjadi simbol kepedulian dan jembatan persaudaraan.
Baca juga: Saat Tanah Merekah, Setiap Tetes Air Mengalirkan Berkah
Penyunting: Agus ID