Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | SUKABUMI – Dini hari sekitar pulul 02:00 WIB, suasana di Taman Rizky Strawberry, Kecamatan Kadudampit, masih diselimuti udara yang dingin. Delapan Santri Rumah Tahfidz Qur’an (RTQ) binaan Daarut Tauhiid (DT) Peduli Sukabumi, dibangukan dari tidur lelapnya. Walau tubuh menggigil, mereka tetap ikut arahan panitia menuju sebuah sesi yang tidak biasa, yakni Sense of Death.
Di tengah gelapnya malam, mata mereka ditutup. Lantunan kalimat pengingat kematian terdengar pelan namun dalam. Beberapa santri tampak menahan tangis. Ada yang sempat menolak saat tubuhnya diselimuti kain kafan. Rasa takut pun tak bisa disembunyikan.
“Beberapa sempat berontak karena kaget dibangunkan dini hari dan harus mengikuti kegiatan ini. Tapi justru di situlah prosesnya,” ungkap Arie Citra, Santri Karya sekaligus Panitia Kegiatan dari DT Peduli Sukabumi.
Sense of Death merupakan bagian dari kegiatan “dobrak diri” dalam rangkaian Camping Ceria yang berlangsung selama dua hari satu malam, yaitu Jumat sampai dengan Sabtu, (13-1/2). Melalui simbolisasi proses kematian, seperti menggunakan kain kafan, mencium tanah, dan dibacakan talkin, para santri diajak merenungi betapa singkatnya hidup, dan berharganya waktu yang dimiliki.
Tangis pecah ketika mereka diminta mengingat orangtua. Beberapa di antara mereka adalah yatim piatu. Ada yang dibesarkan oleh orangtua tunggal. Ada pula yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dalam keheningan malam itu, rasa rindu dan syukur bercampur menjadi satu.
“Setelah evaluasi, kami melihat perubahan. Mereka lebih terbuka, lebih lembut hatinya, dan lebih mensyukuri hidup,” tambah Arie.
Usai sesi tersebut, para santri melaksanakan shalat tahajud di bawah langit penuh bintang. Mereka menuliskan dan membaca surat cinta untuk keluarga. Sebuah pesan sederhana tentang terima kasih, maaf, dan janji untuk menjadi anak yang lebih baik.
Pagi harinya, wajah-wajah yang sempat diliputi ketakutan itu berubah menjadi lebih tenang. Seusai shalat subuh berjamaah dan membaca al-Ma’tsurat, mereka berbagi cerita tentang apa yang dirasakan. Ada yang mengaku baru kali itu benar-benar membayangkan kematian. Ada pula yang bertekad ingin lebih berbakti kepada orangtua.
Camping Ceria ini bukan sekadar kegiatan luar ruang. Selain murojaah, pelatihan memasang tenda, dan games kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran makna hidup yang sesungguhnya.
Terakhir, di tengah sejuknya alam Kadudampit, para santri tidak hanya belajar tentang kemandirian. Mereka juga belajar tentang kehilangan, waktu, dan mensyukuri nikmat hidup.
Baca Juga : DT Peduli Sukabumi Gelar Camping Ceria untuk Santri RTQ, Perkuat Karakter Generasi Qur’ani
Penulis : ACR
Penyunting : Cristi A. Sarif