Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG - Suatu sore di Madinah, angin gurun berembus lembut membawa debu tipis yang menempel di dinding-dinding rumah tanah liat. Ramadhan tiba. Di bulan inilah, Rasulullah ﷺ, pribadi yang paling dermawan,menjadi lebih dermawan.
Ibnu Abbas r.a. menyebutkan, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan luas dan cepatnya pemberian Rasulullah, tanpa menunda dan tanpa menghitung-hitung.
Meluaskan dan Meneguhkan Kepedulian
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan diri, melainkan bulan meluaskan dan meneguhkan diri untuk peduli. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali menulis bahwa sedekah memiliki keutamaan besar karena ia membersihkan jiwa dari sifat bakhil dan menumbuhkan kasih sayang kepada sesama.
Pada bulan Ramadhan, pahala setiap amal dilipatgandakan, sehingga sedekah menjadi semakin bernilai di sisi Allah. Semangat ini membuat kaum Muslimin berlomba-lomba memberi, bukan sekadar karena iba, tetapi karena kesadaran bahwa harta hanyalah titipan.
Di antara bentuk sedekah yang sangat dianjurkan pada Ramadhan adalah memberi makan orang yang berbuka.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. al-Tirmidzi).
Dalam Tuhfat al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan berbagi hidangan, meskipun hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.
Para sahabat memahami betul pesan ini. Dalam al-Muwaththa’ karya Imam Malik, diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar ra. tidak pernah berbuka puasa kecuali bersama anak yatim atau orang miskin. Jika tidak ada yang menemani, ia merasa ada yang kurang dari puasanya. Ramadhan bagi mereka bukan hanya relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan manusia.
Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa memperbanyak sedekah pada waktu-waktu mulia, termasuk Ramadhan, adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Sebab, kebutuhan fakir miskin sering kali meningkat pada bulan ini, sementara suasana ibadah mendorong hati menjadi lebih peka.
Ketika azan Magrib berkumandang, sesungguhnya ada dua kebahagiaan yang menyatu, yaitu kebahagiaan orang yang berbuka dan kebahagiaan orang yang memberi. Sedekah menjadikan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi meluaskan dan meneguhkan kepedulian.
Ramadhan mengajarkan bahwa harta tidak pernah berkurang karena memberi. Sebaliknya, ia justru bertambah dalam bentuk keberkahan. Di bulan yang suci ini, sedekah menjadi bahasa cinta yang paling nyata; cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Dan mungkin, di antara kepingan-kepingan kebaikan yang kita tebarkan, ada satu doa tulus yang melesat ke langit, mengetuk pintu rahmat-Nya.
Baca juga: Ramadhan Datang, Paket Ibadah Darimu Bantu Korban Bencana Ibadah dengan Tenang
Penyunting: Agus ID