Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG - Sinar matahari musim panas membakar kawasan Gaza Utara tanpa ampun. Di antara puing-puing bangunan yang hancur dan debu tebal yang membumbung di udara, deretan jeriken plastik kuning dan putih tampak mengular panjang di atas tanah gersang, pada Senin (27/7/2026).

Krisis air bersih di Jalur Gaza telah mencapai titik yang sangat krusial. Rusaknya infrastruktur publik, hancurnya jaringan perpipaan, serta tingginya biaya untuk mendapatkan air layak minum memaksa ribuan keluarga pengungsi hidup dalam ketidakpastian. Di kamp-kamp darurat yang berdiri menempel pada reruntuhan gedung, air menjadi perjuangan antara hidup dan mati.

Seorang bocah laki-laki dengan rambut ikal dan wajah berdebu tampak memeluk erat sebuah papan penanda bantuan. Di sampingnya, jeriken kuning lusuh yang terisi penuh air bersih menjadi harta paling berharga hari itu. Dengan polos dan penuh ketulusan, ia mengulurkan senyum mewakili beribu kata terima kasih.
"Terima kasih, Daarut Tauhiid!" seru anak kecil itu dengan mata berbinar.

"Terima kasih...terima kasih. Semoga Allah memberkahi kalian atas bantuan air bersih ini, semoga kalian bisa terus menyalurkannya untuk kami, selalu, dan selamanya," ucapnya dengan penuh kehangatan.

Kegiatan penyaluran air bersih ini merupakan hasil kolaborasi kemanusiaan antara DT Peduli dari Indonesia bersama Nusantara Palestina Center (NPC) dan Alsabil Welfare House (AWH) sebagai mitra pelaksana lokal di Gaza. Operasi kemanusiaan skala besar ini dirancang secara sistematis untuk memastikan air bersih dapat menjangkau wilayah-wilayah yang paling terisolasi dan terdampak parah.

Pada hari itu, sebanyak 22 armada truk tangki berkapasitas masing-masing 7 meter kubik (7.000 liter) dimobilisasi secara bertahap. Total sebanyak 154.000 liter air bersih berhasil didistribusikan dari pagi hingga petang, menjangkau sekitar 30.000 penerima manfaat di enam lokasi strategis, yakni Kamp Al-Wahaidy, Al-Tuffah, Sheikh Radwan, dan Al-Saftawi di wilayah Gaza City, serta Kamp Halawa dan Al-Faluja di wilayah Jabalia, Gaza Utara.
Penyaluran air bersih ini secara langsung meredakan beban ekonomi dan fisik keluarga pengungsi. Selain memenuhi kebutuhan mendasar untuk minum dan sanitasi, bantuan ini memungkinkan keluarga rentan mengalokasikan tabungan mereka yang sangat terbatas untuk kebutuhan mendesak lainnya, seperti makanan dan obat-obatan.

“Kita sudah cukup lama tidak menyalurkan air bersih karena tidak memungkinkan. Alhamdulillah, Senin ini menjadi hari pertama menyalurkan air bersih kembali dari pabrik air DT Peduli. In syaa Allah, penyaluran akan dilakukan selama tujuh hari setiap bulannya,” jelasnya sambil menunjukan kalender kemudian menandai tujuh hari pertama penyaluran dari akhir Juli hingga awal Agustus 2026.
Di balik kelancaran distribusi logistik air bersih, terdapat dedikasi luar biasa dari para relawan lapangan yang bertaruh tenaga di tengah situasi penuh risiko. Di depan tangki air berukuran besar yang terpasang spanduk bertuliskan "Air Bersih untuk Palestina", salah seorang relawan lokal menyampaikan pesan hangat dan doa mendalam:
"Allah Ta'ala berfirman: 'Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.' (QS. Al-Anbiya: 30). Serta mengamalkan sabda Nabi ﷺ: 'Sebaik-baik sedekah adalah memberi minum air.'
Hari ini kami menyalurkan bantuan air minum untuk saudara-saudara kita para pengungsi di kamp-kamp kawasan Gaza Utara. Pertama-tama atas karunia Allah ﷻ, kemudian atas dukungan dari Yayasan Daarut Tauhiid (Peduli).
Semoga Allah memberkahi mereka, memberikan balasan kebaikan yang terbaik, serta menjadikan amal kebaikan ini sebagai penolong (syafaat) bagi mereka kelak di hari kiamat.”

Meskipun operasi hari pertama telah berhasil membawa kegembiraan bagi 30.000 jiwa, kebutuhan akan air bersih di Jalur Gaza masih sangat tinggi. Kerusakan infrastruktur yang masif menuntut ikhtiar bantuan ini untuk terus berlanjut secara berkesinambungan.

Baca juga: Wilayah Pabrik Air Gaza Dikuasai Israel, Abdillah Onim Berharap Gedung Tetap Utuh
Penyunting: Agus ID