Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Angin laut berembus pelan di antara rumah-rumah panggung yang berdiri rapat di atas air. Perahu-perahu kecil milik nelayan bersandar di tepian, menunggu esok pagi untuk kembali mencari ikan. Di Pulau Maringkik, Lombok Timur, hidup berjalan sederhana. 
Di tengah keterbatasan itu, Iduladha menjadi momen yang dinantikan. Namun kenyataannya, setiap tahun hanya satu hingga dua ekor hewan qurban yang biasanya disembelih di pulau tersebut. Jumlah itu tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 2.000 jiwa yang tinggal di sana.
Tahun ini, DT Peduli melalui program Qurban Impact 2026 berupaya menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Pulau Maringkik. Penyaluran qurban dijadwalkan berlangsung mulai Iduladha, Rabu (27/5/2026) hingga Sabtu (30/5/2026), bertepatan dengan Hari Tasyrik terakhir.
Targetnya bukan sekadar menyalurkan hewan qurban, tetapi menghadirkan kebahagiaan yang lebih merata bagi warga pesisir yang selama ini jarang tersentuh distribusi qurban.
Perjalanan menuju Pulau Maringkik bukan perkara mudah. Hewan-hewan qurban harus diseberangkan menggunakan perahu kayu nelayan dari Pelabuhan Tanjung Luar, membelah ombak Selat Alas.
Di sanalah perjuangan sesungguhnya dimulai.
Tim relawan bersama warga harus memastikan sapi dan kambing dapat tiba dengan selamat di pulau tujuan. Ombak, cuaca, hingga keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyaluran.
Penyembelihan nantinya akan dipusatkan di fasilitas umum dekat masjid utama dan kantor desa agar prosesnya lebih transparan dan mudah diawasi masyarakat.
Menariknya, penyaluran daging qurban tidak dilakukan dengan sistem antrean massal seperti kebanyakan daerah lain. Relawan lokal DT Peduli NTB akan membagikan daging secara door-to-door langsung ke rumah-rumah panggung warga.
Cara itu dipilih untuk menjaga ketertiban sekaligus memastikan distribusi benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Kepala DT Peduli Mataram-NTB, Ragil, mengatakan bahwa wilayah tersebut memang belum pernah menerima penyaluran qurban sebelumnya dari DT Peduli.
“Belum pernah penyaluran qurban, hanya menyalurkan Al-Qur’an 50 pcs dan paket ibadah 100 pcs pada penyaluran program Ramadhan 2024,” ujarnya.
Pulau Maringkik merupakan wilayah kepulauan pesisir di Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan tradisional dengan penghasilan yang tidak menentu karena sangat bergantung pada cuaca dan hasil tangkapan laut.
Menurut Ragil, kondisi geografis yang harus ditempuh melalui jalur laut membuat penyaluran bantuan sosial, pangan, hingga qurban belum selalu merata menjangkau masyarakat kepulauan seperti Maringkik. Padahal, Lombok Timur masih menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang cukup berat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin Lombok Timur pada 2024 berada di angka 14,51 persen atau sekitar 185 ribu jiwa. Sementara itu, data pengawasan BPKP NTB menunjukkan Lombok Timur menjadi daerah dengan jumlah keluarga kategori sangat miskin terbanyak di NTB, mencapai lebih dari 59 ribu keluarga.
Persoalan lain juga masih membayangi, mulai dari kemiskinan ekstrem hingga stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting NTB pada 2022 masih berada di angka 32,7 persen.
Angka-angka menunjukan anak-anak yang membutuhkan gizi layak, para lansia yang hidup dalam keterbatasan, hingga keluarga nelayan yang harus bertahan di tengah penghasilan yang naik turun.
Melalui Qurban Impact 2026, DT Peduli menargetkan penyaluran tujuh hingga sepuluh ekor sapi terbaik khusus untuk Pulau Maringkik agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh warga pulau.
Bagi sebagian orang di kota besar, daging qurban mungkin menjadi sesuatu yang mudah ditemui setiap tahun. Namun di Pulau Maringkik, satu kantong daging bisa menghadirkan kebahagiaan yang berbeda.
Ada anak-anak yang mungkin baru kembali merasakan nikmatnya lauk bergizi. Ada keluarga nelayan yang dapat menikmati hidangan istimewa bersama orang-orang tercinta. Ada pula harapan bahwa masyarakat pesisir tidak lagi merasa jauh dari perhatian dan kepedulian sesama.
“Momentum Iduladha menjadi salah satu kesempatan penting untuk menghadirkan akses protein hewani bagi masyarakat prasejahtera, nelayan, lansia, serta anak-anak di wilayah kepulauan,” kata Ragil. 
Di Pulau Maringkik, qurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia menjadi perjalanan panjang menembus ombak demi menghadirkan qurban bahagia bagi mereka yang jarang mendapatkannya.
Baca juga: Menyusuri Jalan Sunyi Menuju Kampung Ciambon
Penyunting: Agus ID