Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Kisah “Tsunami Kayu” di Garoga
 

 

Kisah “Tsunami Kayu” di Garoga

Dipublish pada:

02 Feb 2026


DTPEDULI.ORG | TAPANULI SELATAN – Sabtu (17/1/2026, di sebuah rumah pinjaman milik seorang tukang kantin sekolah, Rahmad Siregar duduk termangu. Sudah sebulan setengah ia menumpang di sana bersama keluarganya. Bagi pria paruh baya ini, waktu seolah berhenti berdetak sejak "ledakan" besar menghantam Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, pada penghujung tahun lalu. 

"Pokoknya habis semua. Ladang sudah tertimbun tanah, pasir. Kalau menengok perladangan di sana, rata semua. Sawah pun sudah hancur," ucap Rahmad lirih. 

Kalimat itu menjadi potret kehancuran total ekonomi warga. Sawah yang dulu hijau dengan bedeng-bedeng kokoh, kini rata menjadi hamparan lumpur dan gelondongan pohon. 

Detik-Detik "Ledakan" di Garoga 

Putri Rahmad, Esti Meliana Siregar, mengenang pagi itu dengan suara yang masih bergetar. Hujan rintik-rintik awalnya terasa biasa bagi warga Garoga yang sudah akrab dengan banjir musiman. Namun, siklus air kali ini aneh. Jam 4 subuh air naik, jam 5 turun, jam 6 naik lagi, dan puncaknya terjadi pada pukul 10.30 WIB. 

"Tiba-tiba meledak jam setengah sebelas. Airnya langsung besar membawakan kayu. Kayak tsunami lah dibilang airnya," kenang Esti.

kisah garoga 2.JPG 660.24 KB
Esti meyakini jika bencana terjadi pada malam hari, mungkin 50 persen penduduk desa tidak akan selamat. Material kayu raksasa sepanjang 12 meter menghantam rumah-rumah warga, menyumbat pintu, dan merobohkan bangunan yang baru saja selesai direnovasi. 

Data dari Basarnas mencatat bahwa operasi evakuasi di Garoga merupakan salah satu yang tersulit akibat tumpukan kayu berdiameter besar dan lumpur pekat yang mengunci akses jalan lintas. Di tengah timbunan itu, duka tak terperikan menyeruak. Delila Sitompul, istri Rahmad, menceritakan kerabatnya yang turut menjadi korban. 

"Ini adik Mamak hanyut juga, cucunya dua sama anak Tulang. Mayat anak kecil ditemukan, tapi keluarga sudah ikhlas. Takdirnya memang begitu," kata Delila dengan mata berkaca-kaca. 

Kenangan paling menyiksa bagi keluarga ini adalah saat mereka melihat sebuah mobil pribadi yang melintas di jalan lintas tepat saat bah memuncak. Di dalamnya ada satu keluarga yang terjebak.  

"Tolong! Tolong! dibilangnya. Langsung hanyut mobil itu sama rumah-rumah orang digulung," cerita Rahmad. Hingga kini, mobil dan penumpangnya itu hilang tanpa jejak, tertelan arus yang kini mereka namai "Tsunami Kayu". 

Hidup dalam "Zona Merah" 

Pascabencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemetaan risiko dan secara resmi menetapkan Desa Garoga sebagai Zona Merah. Status ini dikonfirmasi langsung oleh pengumuman Presiden yang menyatakan kawasan tersebut tidak lagi layak untuk dihuni secara permanen. 

"Ada pun rumahnya yang utuh, masih belum bisa ditinggali lagi. Kayak manalah rindu rumah ya kan, tiap hari datang, sore pulang ke kos-kosan," ujar Esti. Ketidakpastian relokasi membuat warga terjepit di antara kerinduan akan tanah kelahiran dan ketakutan akan bencana susulan. 

Trauma itu nyata. Rahmad bercerita, pernah suatu malam hujan turun deras, seluruh warga, termasuk tentara dan operator alat berat (Beko), lari kocar-kacir karena takut akan banjir susulan.  

"Ada yang sampai pingsan karena ketakutan. Ngeri, biasanya nengok bencana di TV, ini langsung di depan mata," tuturnya. Matanya menerawang penuh getir. 

Menjual Mie demi Sekolah 

Di tengah derita, bantuan kemanusiaan memang mengalir. Namun, bantuan logistik ternyata belum menjawab kegelisahan terbesar para kepala keluarga: pendidikan anak. 

Rahmad mengungkapkan realitas pahit di posko pengungsian. Beberapa warga terpaksa menjual kembali bantuan mie instan dan beras yang mereka terima.  

"Dijualnyalah itu Indomie itu. Beras pun sudah dijual orang. Untuk ada biaya anak sekolah," ungkapnya. 

Bagi Rahmad, pendidikan adalah pertaruhan terakhir. Putra-putranya, Mandala, kuliah di USU dan UMP, dan kakaknya di Sidimpuan. Sejak sawah dan ladang mereka rata dengan pasir, biaya kuliah menjadi beban yang mustahil dipikul sendirian. "Pas hari itu sulit-sulitnya kita lihat, berhentilah semua dulu sekolah," ucap Rahmad dengan nada getir. 

kisah garoga 3.jpg 375.51 KB
Hingga kunjungan dilakukan pada pertengahan Januari 2026, warga masih merasa penanganan bencana ini belum maksimal. Rahmad mempertanyakan sebab belum ditetapkannya status bencana nasional, mengingat kerusakan infrastruktur, hilangnya mata pencaharian, dan banyaknya mobil serta rumah yang musnah tertimbun lumpur sedalam atap. 

Kini, warga Garoga hanya bisa mengenakan pakaian bantuan sambil menatap sisa desa yang kini menyerupai pulau mati dikelilingi bekas aliran air. Mereka rindu rumah, namun lebih dari itu, mereka merindukan kepastian masa depan bagi anak-anak mereka yang ikut terkubur bersama lumpur dan kayu di Batang Toru. 

DT Peduli sebagai salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) meyalurkan bantuan dari masyarakat, lembaga, dan perusahaan untuk bencana Sumatera, termasuk Garoga. DT Peduli hadir sejak hari terjadinya bencana memberikan bantuan tanggap darurat dan berkomitmen menyalurkan bantuan pada tahap recovery (pemulihan). 

Baca juga: Pasca-Banjir Bandang Tapsel, Penyintas Harapkan Bantuan Modal dan Pembekalan Keterampilan 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator