Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | GARUT - Program Pemberdayaan Peternak Ayam Petelur yang dijalankan Daarut Tauhiid (DT) Peduli Garut kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para penerima manfaat. Salah seorang di antaranya ialah Jajang Rohmat, Warga Kampung Bongkor, Desa Padamulya, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sebelum bergabung dalam program ini, Rohmat bekerja sebagai buruh harian lepas di kebun dengan penghasilan sekitar Rp. 50.000 per hari. Setiap pagi ia berangkat bekerja pukul 06.00 WIB dan pulang sekitar pukul 12.00 WIB. Penghasilan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Perjalanan perubahan hidup Rohmat dimulai pada Februari 2025, ketika ia mendapatkan informasi mengenai program pemberdayaan peternak ayam petelur dari Sandi, Tim Program DT Peduli Garut. Saat pertama kali menerima tawaran tersebut, Rohmat mengaku sempat ragu karena belum pernah memiliki pengalaman beternak ayam petelur. 
Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan setelah ia mulai menjalani program. Dibantu dengan pendampingan dan semangat untuk belajar, usaha ternak ayam petelur yang dijalankannya ternyata memberikan hasil yang memuaskan.
“Awalnya saya ragu karena belum pernah beternak ayam petelur. Tapi setelah dijalani, ternyata hasilnya sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Rohmat pada Senin (11/05/2026)
Pada awal program, Rohmat menerima bantuan sebanyak 80 ekor ayam petelur. Kini, setelah Satu tahun lebih dua bulan menjalani usaha tersebut, ia berhasil mengembangkan ternaknya menjadi 130 ekor ayam dengan menambah 50 ekor ayam secara mandiri.
Tidak hanya itu, perkembangan usahanya juga terlihat dari penambahan kandang baru serta pembelian lahan kosong yang rencananya akan digunakan untuk pembangunan kandang berikutnya. Hal ini menjadi bukti bahwa program pemberdayaan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. 
Saat ini, usaha ternak ayam petelur yang dikelola oleh Rohmat mampu menghasilkan sekitar tujuh kilogram telur per hari, dengan harga jual sekitar Rp28.000 per kilogram, pendapatan harian yang diperoleh mencapai kurang lebih Rp. 196.000 per hari.
Dalam menjalankan usaha ini, Rohmat tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh sang istri yang berperan dalam proses penjualan telur, sementara Rohmat fokus mengurus dan merawat ayam ternaknya. Kerja sama keduanya menjadi kunci penting dalam perkembangan usaha yang kini semakin maju. 
Kisah Rohmat menjadi bukti bahwa program pemberdayaan yang tepat sasaran mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Dari seorang buruh harian lepas, kini ia tumbuh menjadi peternak ayam petelur yang mandiri dan optimis mengembangkan usahanya lebih besar lagi di masa depan.
DT Peduli Garut berharap program pemberdayaan seperti ini dapat terus memberikan manfaat luas dan melahirkan lebih banyak kisah inspiratif dari masyarakat yang berdaya secara ekonomi. 
Baca Juga : Tembus Daerah Pelosok, DT Peduli Garut Pastikan Qurban Hadir untuk Warga yang Telah Lama Menanti
Penulis : Wildan
Penyunting : Cristi A. Sarif