Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | AMMAN – Angin dingin menusuk hingga ke tulang di Kamp Mazar Zanubi, Yordania. Suhu Kamis (7/5/2026) itu masih berada di sekitar 9 drajat celcius. Di tengah udara yang menggigit, antrean panjang tampak mengular di depan Mobile Clinic DT Peduli. Anak-anak menggenggam tangan ibunya, sebagian batuk kecil sambil menunggu giliran diperiksa.

Hari itu bukan kali pertama Eko bersama tim DT Peduli bergerak menyusuri kamp-kamp pengungsian Palestina di Yordania. Bersama mitra lokal Islamic Charity Central for Society (ICCS) atau Jam’iyah Islamiyah Al-Khairiyah, mereka mendatangi satu demi satu kamp pengungsian untuk memberikan layanan kesehatan gratis bagi para pengungsi.
Bukan hanya di Kamp Mazar Zanubi. Beberapa hari sebelumnya, mereka juga hadir di Kamp Karak dan Kamp March Hamam. Dalam sebulan, layanan mobile clinic itu dapat bergerak hingga delapan kali, menyambangi delapan kamp pengungsian.
Di Kamp March Hamam, antrean warga kembali memenuhi area pelayanan. Kotak-kotak obat terlihat tersusun di atas meja sederhana. Para tenaga medis dari ICCS sibuk memeriksa pasien satu per satu, sementara relawan DT Peduli membantu mengatur alur penerima manfaat.
“Penerima manfaatnya saudara-saudara Palestina kita. Program ini bisa berjalan karena bantuan para donatur DT Peduli dan kolaborasi dengan mitra lokal di Yordania,” kata Eko.

Selama Maret, Mobile Clinic DT Peduli melayani para pengungsi di Kamp Dzalil, Baq'ah, Suf, Syunah Janubiyyah, Ainul Basya, Talbiah, Wehdat, dan Zarqa. Berlanjut di Bulan April, Mobil Clinic DT Peduli menghangatkan para pengungsi di Kamp Mahattah, Nasr, Jerash, Irbid, Gaza, Muqabalain, Ajloun, dan Hasyimiyyah.
Satu Keluarga Datang Bersama untuk Berobat
Mayoritas pasien datang dengan keluhan yang hampir serupa, yakni ISPA, batuk pilek, diare, gangguan pencernaan, hingga pemeriksaan ibu hamil dan balita. Cuaca dingin dan kondisi pengungsian yang serba terbatas membuat penyakit mudah menyebar.
Yang paling menyentuh bukan sekadar jumlah pasien yang datang, melainkan bagaimana satu keluarga bisa hadir sekaligus untuk berobat.
“Sekali datang, bapak anaknya tiga, ibu anaknya dua atau tiga. Jadi datang sekeluarga,” tutur Eko.

Di sela pelayanan, DT Peduli juga membagikan makanan ringan, biskuit, dan minuman hangat. Bantuan sederhana itu tampak begitu berarti bagi para pengungsi.
Seorang ibu penerima bantuan berkali-kali mengucap syukur.
“Ya Allah, ya Allah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Eko hanya tersenyum kecil. Ia mengaku sering kali tidak kuasa menahan sedih melihat kondisi para pengungsi.
Menjaga Harapan di Kamp Pengungsian
Di tengah antrean Camp Karak, perhatian Eko tertuju pada Muhammad, seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Anak itu baru selesai diperiksa dan berdiri di dekat ibunya sambil memegang obat.
“Sakit apa?” tanya Eko hangat.
“Cough and flu,” jawab anak tersebut singkat, malu-malu.
Batuk dan flu memang menjadi penyakit yang paling banyak dialami anak-anak pengungsi. Cuaca dingin, keterbatasan pakaian hangat, serta kondisi tempat tinggal yang padat membuat mereka rentan sakit.
Setelah pemeriksaan selesai, anak itu menerima makanan ringan dan minuman. Wajahnya yang semula murung karena sakitnya perlahan berubah cerah.

Eko menyadari, bantuan yang dibawa timnya mungkin belum mampu menjawab seluruh kebutuhan para pengungsi Palestina. Namun setidaknya, kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa saudara-saudara di Palestina tidak sendiri.
“Alhamdulillah, kita tetap bergerak,” ujar Eko.
Kalimat itu sederhana. Tetapi di tengah dinginnya pengungsian, kalimat tersebut menjadi hangat yang menenangkan banyak hati, terutama para pengungsi Palestina.
Baca juga: Bersama Program RPN, Mobile Clinic Hadirkan Kebahagiaan di Kamp Sukhnah
Penyunting: Agus ID