Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Cerita Syaikh Muda Menjaga Nyala Api Gaza
 

 

Cerita Syaikh Muda Menjaga Nyala Api Gaza

Dipublish pada:

21 Aug 2026


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Satu dekade lebih waktu berjalan, tetapi rasa dingin di malam-malam tanpa listrik di Jalur Gaza tak pernah benar-benar lenyap dari ingatan Syaikh Motaz Harb Muhammad Hasan Haniyah.  

Pemuda kelahiran Sana’a, 20 Januari 2003 yang dibesarkan di Gaza itu masih ingat betul bagaimana setiap malam, kegelapan gulita menelan tanah kelahirannya. Listrik hanya menyala empat jam sehari, sementara harapan anak-anak muda perlahan tergerus oleh blokade yang mencengkeram sejak tahun 2007. 

“Tentu saja ini menciptakan kondisi kemiskinan bagi rakyat Palestina di Gaza. Angka pengangguran sangat tinggi dan para pelajar tidak bisa keluar dari Gaza. Kondisi warga kami pada tahun 2008 bahkan sampai pada titik di mana mereka harus memasak menggunakan kayu bakar. Tidak ada gas, tidak ada bensin, tidak ada solar,” kenang alumni Baitul Quran Masjid DT Gaza tersebut saat ditemui awal Agustus lalu.

motaz 6.jpg 145.7 KB
Di tanah tempat deru jet tempur lebih sering terdengar daripada dentang bel sekolah, Motaz tumbuh bersama ingatan yang membekas dalam. Baru berusia tujuh tahun saat Perang Al-Furqan berkecamuk di penghujung 2008, matanya yang masih belia dipaksa menyaksikan sang ayah bersimbah darah akibat luka parah. 

“Saya masih ingat pemboman, kehancuran, dan potongan-potongan jasad yang kami lihat di jalanan akibat kekejaman musuh (Israel). Kami melihat anak-anak kecil dan wanita terbunuh,” tuturnya. Ia belajar mengeja kehidupan dari lorong-lorong jalanan yang basah oleh air mata, dari Perang Hijarat As-Sijjil 2012, Perang Al-'Ashf Al-Ma'kul 2014, hingga Pertempuran Saif Al-Quds 2021. 

Di tengah langit Gaza yang kerap tertutup asap hitam, Motaz menemukan jalannya. Sejak berusia 14 tahun, ia mendedikasikan diri menjadi khatib relawan di Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza serta muhafizh Al-Qur'an. Berbekal deretan pelatihan tilawah, public speaking, hingga ilmu syariah, suara nyaringnya di atas mimbar menjadi penyuluh ketabahan warga.

motaz 3.jpg 160.1 KB
Ketabahannya diuji hingga titik nadir. Rumah tinggalnya hancur total, kakak tertuanya terluka, dan dua saudaranya, Muhannad dan Abdullah, gugur sebagai syahid. Ujian berat ini tak membuat jiwanya remuk, melainkan makin menguatkan keyakinannya akan kebenaran jalan dakwah. 

Bertahun-tahun tak Bertemu Keluarga 

Pada tahun 2023, Motaz melangkah ke Madinah Al-Munawwarah untuk memperdalam ilmu syar‘i di Universitas Islam Madinah dengan beasiswa penuh, sembari menyelesaikan studi jarak jauhnya di Universitas Islam Gaza. Tubuhnya di Kota Nabawi, namun hatinya tak pernah pergi dari Gaza. Ia juga mengenang bagaimana kepedulian masyarakat Indonesia mendirikan Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza menjadi penopang kesehatan warga di masa-masa paling kelam. 

motaz 4.jpg 187.68 KB
Mencintai Palestina sepenuh jiwa, Motaz memeluk cita-cita mulia: menjadi da’i dan khatib yang diridhai Allah, berjuang demi pembebasan tanah kelahirannya, serta berharap suatu hari dapat menunaikan shalat di Masjid Al-Aqsa yang merdeka. Di atas lembar-lembar kitabnya di Madinah, ia terus merawat asa untuk menjadi jembatan amanah yang menghubungkan kehangatan dermawan Indonesia dengan ketabahan saudara-saudaranya di Gaza. 

Baca juga: Saksi Mata dari Gaza: Masjidil Aqsa Adalah Milik Seluruh Umat Muslim 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator