Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Satu dekade lebih waktu berjalan, tetapi rasa dingin di malam-malam tanpa listrik di Jalur Gaza tak pernah benar-benar lenyap dari ingatan Syaikh Motaz Harb Muhammad Hasan Haniyah.
Pemuda kelahiran Sana’a, 20 Januari 2003 yang dibesarkan di Gaza itu masih ingat betul bagaimana setiap malam, kegelapan gulita menelan tanah kelahirannya. Listrik hanya menyala empat jam sehari, sementara harapan anak-anak muda perlahan tergerus oleh blokade yang mencengkeram sejak tahun 2007.
“Tentu saja ini menciptakan kondisi kemiskinan bagi rakyat Palestina di Gaza. Angka pengangguran sangat tinggi dan para pelajar tidak bisa keluar dari Gaza. Kondisi warga kami pada tahun 2008 bahkan sampai pada titik di mana mereka harus memasak menggunakan kayu bakar. Tidak ada gas, tidak ada bensin, tidak ada solar,” kenang alumni Baitul Quran Masjid DT Gaza tersebut saat ditemui awal Agustus lalu. 
“Saya masih ingat pemboman, kehancuran, dan potongan-potongan jasad yang kami lihat di jalanan akibat kekejaman musuh (Israel). Kami melihat anak-anak kecil dan wanita terbunuh,” tuturnya. Ia belajar mengeja kehidupan dari lorong-lorong jalanan yang basah oleh air mata, dari Perang Hijarat As-Sijjil 2012, Perang Al-'Ashf Al-Ma'kul 2014, hingga Pertempuran Saif Al-Quds 2021.
Di tengah langit Gaza yang kerap tertutup asap hitam, Motaz menemukan jalannya. Sejak berusia 14 tahun, ia mendedikasikan diri menjadi khatib relawan di Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza serta muhafizh Al-Qur'an. Berbekal deretan pelatihan tilawah, public speaking, hingga ilmu syariah, suara nyaringnya di atas mimbar menjadi penyuluh ketabahan warga. 
Bertahun-tahun tak Bertemu Keluarga
Pada tahun 2023, Motaz melangkah ke Madinah Al-Munawwarah untuk memperdalam ilmu syar‘i di Universitas Islam Madinah dengan beasiswa penuh, sembari menyelesaikan studi jarak jauhnya di Universitas Islam Gaza. Tubuhnya di Kota Nabawi, namun hatinya tak pernah pergi dari Gaza. Ia juga mengenang bagaimana kepedulian masyarakat Indonesia mendirikan Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza menjadi penopang kesehatan warga di masa-masa paling kelam. 
Baca juga: Saksi Mata dari Gaza: Masjidil Aqsa Adalah Milik Seluruh Umat Muslim
Penyunting: Agus ID