Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Tiga Tabib Muslim dan Jasanya pada Teknologi Kedokteran Modern
 

 

Tiga Tabib Muslim dan Jasanya pada Teknologi Kedokteran Modern

Dipublish pada:

01-Oct-24

Tahukah Anda, analgetik atau obat pereda nyeri telah digunakan sejak zaman kuno? Pada zaman Mesir kuno dan peradaban besar lainnya, penggunaan obat pereda sakit sudah lazim digunakan. Hanya saja, penggunaannya menjadi lebih sistematis dan ilmiah pada masa keemasan peradaban Islam.


                                               


Al-Razi


Salah satu tokoh penting penggunaan obat-obatan analgetik adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi (865-925 M). Orang Barat mengenalnya de ngan sebutan Rhazes.


Al-Razi dikenal atas karyanya Al-Hawi fi Al-Tibb (Liber Continens). Selama berabad-abad, Al-Hawi dikenal sebagai ensiklopedia medis terbesar. Dalam mahakaryanya ini, Ar-Razi mengumpulkan berbagai metode pengobatan termasuk deskripsi pengguna an analgetik.


Salah satu yang dipaparkannya dalam Al-Ha wi adalah penggunaan opium sebagai salah satu analgetik yang efektif. Dalam penggunaannya, ia pun mengembangkan metode untuk mengurangi efek samping opium, yaitu mencampurnya dengan bahan-bahan lain. Selain itu, penggunaan tanaman seperti mandragora dan henbane juga telah tercatat sebagai agen analgetik. 




Az-Zahrawi


Hal yang tidak kalah mengesankan adalah penggu naan anestesi dalam pembedahan. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan anestesi adalah Abu Al-Qasim Az-Zahrawi (936-1013 M), yang dikenal di Barat sebagai Abulcasis. Dalam Kitab Al-Tasrif (Buku Pembelajaran Medis), Az-Zahrawi menjelaskan ber bagai teknik pembedahan dan penggunaan anestesi.


Al-Zahrawi membuat formulasi obat dengan cam puran herbal yang disebut soporific sponge atau spons penidur. Spons ini direndam dalam campuran opium, mandragora, henbane, dan bahan-bahan lainnya, kemudian dikeringkan. Spons ini digunakan untuk menginduksi tidur sebelum pembedahan dengan menempatkannya di bawah hidung pasien.


Pada masanya, pengembangan teknik pembedah an oleh ilmuwan muslim sangat maju. Az-Zahrawi memainkan peran penting dalam hal ini. Dalam Kitab Al-Tasrif, ia memberikan deskripsi rinci tentang ber bagai prosedur pembedahan dan instrumen bedah.


Buku yang terdiri dari 30 volume ini, isinya men cakup berbagai bidang kedokteran termasuk pem bedahan umum, ortopedi, oftalmologi, dan kedok teran gigi.


Al-Zahrawi sendiri menciptakan banyak instrumen bedah yang masih digunakan sampai saat ini dengan modifikasi modern. Beberapa instrumen tersebut an tara lain pisau bedah/scalpel, forceps, dan spekulum. Ia pun menjelaskan teknik jahitan bedah menggu nakan usus hewan yang merupakan cikal bakal dari teknik jahitan modern.




Ibnu Sina


Tokoh penting lainnya adalah Ibnu Sina (980 1037 M) yang dikenal di Barat sebagai Avicenna. Dalam karyanya, Al-Qanun fi Al-Tibb (The Canon of Medicine), Ibnu Sina membahas berbagai aspek kedokteran termasuk pembedahan. Tokoh besar ini memberikan panduan rinci tentang diagnosis, perawatan, dan prosedur bedah yang harus diikuti untuk memastikan keselamatan pasien.


Tidaklah mereka berkarya kecuali karena hadirnya semangat IQRA yang digelorakan oleh ayat pertama yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah saw. Inilah semangat untuk membaca, menghimpun informasi yang terserak untuk meraih keridaan Allah sehingga lahirlah kemajuan dalam ilmu pengetahun dan teknologi yang tetap membumi dan memanu siakan manusia.


Semoga dengan semangat yang sama, setelah kita ber-ibrah pada capaian-capaian kedokteran Islam pada masa keemasan peradaban, generasi cendeki awan kedokteran muslim saat ini dapat membuat terobosan-terobosan yang tidak kalah signifikan.


Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes

Ditulis Oleh:

Administrator