Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | Ramadhan adalah bulan perubahan. Namun, perubahan tidak terjadi secara otomatis hanya karena kalender berganti. Imam Al-Ghazali rahimahullah menegaskan bahwa keberhasilan Ramadhan sangat ditentukan oleh kesiapan hati dan kesadaran batin, bukan semata rutinitas ibadah.
Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa puasa adalah sarana pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs), bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Berikut beberapa tips mempersiapkan Ramadhan agar maksimal dari beliau:
Imam Al-Ghazali rahimahullah menegaskan bahwa niat adalah ruh ibadah. Tanpa niat yang benar, puasa hanya menjadi aktivitas fisik yang tidak bernilai di sisi Allah.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menulis, “Ketahuilah bahwa niat adalah ruh amal, dan amal tanpa niat adalah kelelahan yang sia-sia.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 1)
Beliau merujuk hadis Nabi Muhammad ﷺ, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, persiapan Ramadhan seharusnya dimulai dengan meluruskan niat berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan demi pujian atau tradisi.
Imam Al-Ghazali rahimahullah menyebut penyakit hati seperti iri, dengki, riya, dan sombong sebagai penghalang utama diterimanya ibadah. Beliau bahkan menyatakan bahwa ibadah lahir tidak akan bermakna jika hati masih dikuasai penyakit batin.
Beliau menulis, “Hati yang dipenuhi dengki dan kesombongan tidak akan mampu menerima cahaya ibadah.” (Ihya’ Ulumuddin, Juz 3)
Beliau merujuk firman Allah ﷻ :
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Maka sebelum Ramadhan tiba, Al-Ghazali menganjurkan muhasabah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta melepaskan dendam dan kebencian.
Salah satu pembahasan terkenal Al-Ghazali adalah tingkatan puasa. Ia membagi puasa menjadi tiga, yakni
Beliau menegaskan, “Puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari perbuatan dosa.” (Ihya’ Ulumuddin, Juz 1)
Beliau merujuk sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Artinya, puasa tidak berhenti di tenggorokan. Gibah, fitnah, dan adu mulut dapat menggerus pahala puasa tanpa disadari.
Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa puasa bertujuan melemahkan dominasi hawa nafsu. Karena itu, berbuka secara berlebihan justru bertentangan dengan hikmah puasa.
Beliau menulis, “Bagaimana mungkin seseorang dapat mengalahkan hawa nafsunya, sementara saat berbuka ia memuaskannya secara berlebihan?” (Ihya’ Ulumuddin, Juz 1)
Dalil yang menjadi dasar adalah firman Allah ﷻ:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa, menurut Al-Ghazali, tidak lahir dari kenyang dan lalai, tetapi dari pengendalian diri.
Dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali rahimahullah menekankan bahwa ibadah tanpa ilmu berpotensi menyesatkan.
Beliau menjelaskan,“Amal tanpa ilmu adalah kesesatan, dan ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan.” (Bidayatul Hidayah)
Beliau merujuk sabda Nabi ﷺ, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Mempelajari makna puasa, adab Ramadhan, dan tujuan spiritualnya akan menjadikan ibadah lebih hidup dan berdampak.
Ramadhan menurut Imam Al-Ghazali bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum transformasi hati. Beliau mengajak manusia untuk jujur pada diri sendiri: apakah puasa hanya menahan lapar, atau benar-benar membentuk jiwa yang bertakwa?
Jika Ramadhan dipersiapkan dengan niat yang lurus, hati yang dibersihkan, pengendalian diri, dan pemahaman ilmu, maka ia tidak akan berlalu sia-sia. Siapapun akan berubah menjadi lebih baik dalam akhlak dan cara hidup setelah bulan suci usai.
Baca juga: Ramadhan Datang, Paket Ibadah Darimu Bantu Korban Bencana Ibadah dengan Tenang
Penyunting: Agus ID