Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Tiga Hari Tiga Malam Mencari Kabar Ibu di Tengah Banjir Aceh Tamiang
 

 

Tiga Hari Tiga Malam Mencari Kabar Ibu di Tengah Banjir Aceh Tamiang

Dipublish pada:

22 Dec 2025


DTPEDULI.ORG | ACEH TAMIANG – Air datang tanpa aba-aba. Dalam sekejap, kehidupan Asmah (68) di Desa Bandar Maligai, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang, berubah total. Perempuan renta itu hanya sempat menarik tangan cucunya ketika arus banjir bandang menyergap rumah mereka. Tidak ada harta yang bisa diselamatkan. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Yang ada hanya naluri bertahan hidup. 

“Airnya cepat sekali. Kami tidak bisa membawa apa-apa. Hanya pakaian di badan ini,” kata Asmah, mengingat kembali detik-detik mencekam itu. Suaranya bergetar, namun matanya menatap penuh ketegaran.  

Rumah yang puluhan tahun menjadi tempat bernaung kini bergeser sekitar 20 meter dari posisi semula. Lumpur setinggi hampir satu meter menutup lantai, dinding, dan sisa-sisa kenangan keluarga. 

ceita bu asmah.jpg 214.53 KB
Bagi Asmah, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ia membesarkan anak-anaknya, menimang cucu-cucunya, dan menghabiskan hari tua dengan sederhana. Kini, yang tersisa hanyalah puing, kayu patah, dan lantai yang terangkat. Namun di tengah kehancuran itu, Asmah tetap berdiri. Lelah, tapi tetap berusaha tegar. 

Usai banjir pertama, Asmah dan warga lain mengungsi ke sebuah bangunan sekolah madrasah ibtidaiyah (MIN) di Dusun Bandar Baru. Tempat itu sempat memberi harapan, meski hanya sementara. Keesokan harinya, air kembali datang. Kali ini lebih tinggi.  

“Airnya setinggi dada saya,” ujarnya. Mereka pun kembali harus menyelamatkan diri, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Atas arahan Keuchik (kepala desa), para pengungsi menuju Kampung Sekrak, wilayah yang berada di perbukitan. Di sanalah mereka bertahan selama beberapa hari. Tidur beralas seadanya, makan dari apa yang ada, dan berbagi ruang dengan kecemasan yang sama. Setelah air mulai surut, para pengungsi dipindahkan ke aula kantor camat. Hingga kini, di situlah Asmah dan warga lainnya tinggal. 

Hidup di pengungsian mengajarkan banyak hal tentang kebersamaan. Bantuan yang datang terbatas, namun dibagi rata. “Kami dapat sedikit beras,” tutur Asmah.  

Lima kilogram beras dibagi untuk satu kelompok berisi 21 orang. Mereka memasak bergiliran, mengatur jatah dengan hati-hati agar semua kebagian. Siang hari, mereka merebus ubi yang diberikan warga sekitar. Malam hari, nasi dimasak sedikit demi sedikit untuk anak-anak dan cucu-cucu. 

Tidak ada kemarahan yang berlebihan dalam tutur Asmah. Ia memahami bahwa akses sulit dan banjir membuat bantuan tak mudah masuk. “Bukan terlambat,” katanya pelan.  

“Memang keadaan air banjir, kendaraan susah masuk.” Di tengah keterbatasan, ia memilih bersyukur. Baginya, masih bisa berkumpul bersama adalah nikmat yang tak ternilai. 

Berjalan Tiga Hari Tiga Malam

Di tempat lain, kegelisahan memenuhi hati Irfan Al Mubarok, putra Asmah, Obot, panggilan akrabnya. Ia berada di Bener Meriah ketika kabar banjir bandang di Aceh Tamiang sampai kepadanya. Kabar itu singkat, terputus-putus, dan tanpa kepastian. Jaringan komunikasi di kampung halamannya lumpuh. Telepon tak tersambung. Pesan tak terkirim. 

“Hati saya makin gundah,” ujar Irfan. Sebagai anak, pikirannya hanya tertuju pada keadaan ibunya. Ketidakpastian itu membuatnya mengambil keputusan yang tidak biasa. Bersama beberapa temannya, Irfan memilih berjalan kaki dari Bener Meriah menuju Aceh Tamiang. 

Perjalanan itu bukan perjalanan singkat. Tiga hari tiga malam mereka tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan yang rusak, berlumpur, dan licin. Kadang mereka menumpang truk yang melintas, sekadar mendekatkan jarak. Setiap langkah adalah doa. Setiap malam adalah pertarungan antara lelah dan harapan. 

Bagi Irfan, perjalanan itu adalah wujud cinta yang paling sederhana sekaligus paling jujur. Ia tidak membawa bantuan besar, tidak pula janji-janji. Ia hanya ingin memastikan ibunya selamat. Dan ketika akhirnya ia tiba dan mendapati Asmah masih hidup, meski rumah telah porak-poranda, beban di dadanya perlahan luruh. 

“Kami sedih,” kata Asmah lirih.  

“Tapi ini hanya Allah yang Mahakuasa.” Di tengah cobaan, harapannya hanya ingin rumah kembali bisa ditinggali dengan layak. Ia percaya, di balik banjir dan kehilangan, selalu ada hikmah yang menyertai. 

Kisah Asmah dan Irfan adalah potret kecil dari tragedi besar di Aceh Tamiang. Tentang seorang ibu yang kehilangan rumah, dan seorang anak yang menempuh tiga hari tiga malam demi memastikan ibunya masih bisa dipeluk.  

Baca juga: Tangisan Bayi dan Keteguhan Ibu Muda di Tenda Pengungsian Rantau Bintang 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator