Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | ACEH TAMIANG – Suara itu lirih dan terputus-putus, bersahut-sahutan dengan desir angin yang menyusup melalui celah terpal. Di pengungsian Desa Rantau Bintang, Kabupaten Aceh Tamiang, tangis bayi menjadi pengingat paling jujur tentang luka yang ditinggalkan banjir akhir November lalu.
Bagi warga Rantau Bintang, banjir bukan hanya soal rumah yang terendam lumpur atau harta yang hanyut terbawa arus. Ini adalah soal rasa aman yang hilang, terutama bagi mereka yang paling rapuh.
Bayi 37 Hari Beradu dengan Dingin
Rabu (18/12/2025), saat tim DT Peduli menyalurkan bantun membawa karung-karung beras dan minyak goreng, sebuah pemandangan menyentuh jelas terlihat di sudut pengungsian. Di dalam sebuah tenda tanpa alas dan tanpa pintu, seorang ibu muda bernama Nurasiah (25) duduk bersila. 
"Waktu banjir terus naik, anak saya masih 17 hari, Kak," kenang Nurasiah dengan suara bergetar.
"Kami lari ke hutan, pindah-pindah terus mencari tempat yang tidak kena air," kenangnya getir.
Pelarian itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Tanpa sempat menyelamatkan barang berharga, Nurasiah hanya ingin bayinya harus tetap bernapas. Namun, keselamatan di pengungsian ternyata membawa tantangan baru yang tak kalah hebat.
"Tenda Kami Tak Berpintu"
Selama tiga malam terakhir, Ardiansyah kecil harus melewati masa emas pertumbuhannya di bawah selembar terpal. Tanpa pintu yang menghalangi masuknya nyamuk atau dinding yang membendung tusukan angin malam. Ardianyah terus meronta.
"Ardiansyah kalau malam nangis terus karena kedinginan. Tenda kami cuma begini, gelap dan dingin sekali," tutur Nurasiah pelan sambil menatap wajah mungil anaknya. 
"Ya mau gimana, Kak. Kalau mau nangis, semua orang juga kena bencana. Kita harus sabar-sabar," ucapnya lirih. Kalimat sederhana itu seolah menjadi tamparan lembut bagi siapa pun yang mendengarnya.
Saling Menguatkan
Keteguhan Nurasiah ternyata menjadi pilar bagi pengungsi lain. Darma, pengungsi ibu-ibu lainnya yang sudah senior di tenda yang sama, tak kuasa membendung air mata saat menceritakan bagaimana justru Nurasiah yang baru saja melewati masa nifas di tengah hutan, menguatkan hatinya.
"Doakan kami ya, Nak. Semoga ibu-ibu di sini tetap beriman. Saya menangis terus, malah Nurasiah yang menghibur saya. Dia bilang, 'Sudah Mak, jangan nangis. Kuat-kuat kita di sini'," cerita Darma dengan suara parau. 
Banjir memang telah meninggalkan lumpur yang tebal dan rumah yang hancur. Namun, di bawah terpal dingin Rantau Bintang, keteguhan seorang ibu, kekuatan doa, dan keikhlasan tetap ada di tengah keterbatasan.
Ardiansyah mungkin masih menangis malam ini, namun di sekelilingnya, ada harapan keteguhan iman yang dipegang ibunya, Nurasiah.
Baca juga: Kisah Wiwi, Penebar Ceria di Balik Bencana di Pidie Jaya
Penyunting: Agus ID