Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Kisah Wiwi, Penebar Ceria di Balik Bencana di Pidie Jaya
 

 

Kisah Wiwi, Penebar Ceria di Balik Bencana di Pidie Jaya

Dipublish pada:

16 Dec 2025


DTPEDULI.ORG | PIDIE JAYA – Terjangan air bah tak hanya membawa lumpur dan menghanyutkan harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi warga Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.  

Sejak bencana banjir melanda wilayah ini pada akhir November hingga awal Desember 2025, ratusan keluarga terpaksa mengungsi. Namun, di tengah kepungan lara dan keputusasaan, ada satu sosok yang membawa keceriaan. Dialah Wiwi, dengan tawanya yang khas dan gayanya yang blak-blakan, keceriaan menular kepada orang sekitarnya.

wiwi pidie jaya 5.JPG 375.3 KB
Ibu paruh baya itu tampak sibuk di dapur umum yang didirikan oleh DT Peduli. Dari mulai kedatangan tim DT Peduli pada Senin siang (8/12/2025) yang membawa lauk pauk dan sayur untuk dimasak, wajah sumringah wiwi menyambut dengan sutil besar di tangan.  

Walau tanpa alas kaki, dengan cekatan dia menyambut bahan masakan yang datang. sembari melontarkan guyonan ringan yang membuat relawan dan pengungsi lain tertawa. Pembawaannya yang ceria menjadi pusat perhatian, kontras dengan suasana pascabencana. Lumpur sisa banjir sudah menjadi bagian dari kesehariannya setelah banjir menerjang rumahnya satu-satunya. 

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang dirilis pada awal Desember 2025, banjir di Pidie Jaya merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, dengan lebih dari 7.000 jiwa terdampak dan ratusan rumah terendam. Meureudu, tempat tinggal Wiwi, menjadi salah satu wilayah paling parah akibat luapan sungai Krueng Meureudu. 

Di balik senyum dan tawa yang ia tebar, ternyata Wiwi menyimpan kisah pelarian mencekam dari rumah yang telah ia tempati selama 20 tahun bersama suami dan empat anaknya. 

“Kemarin kan tiba-tiba air susulan, macam kembali lagi banjirnya. Tajam airnya, deras airnya. Makanya ketika sudah sampai leher, kami langsung keluar,” kenangnya, suaranya sempat tercekat sebelum kembali ceria.

wiwi pidie jaya 4.jpg 192.07 KB
Saat air setinggi leher membanjiri rumah, pertolongan terasa mustahil. Seluruh desa sudah terendam. Mereka tidak punya pilihan selain berjuang sendiri. Ember, menjadi perahu penyelamat bagi anak-anaknya. Kisah ini adalah gambaran nyata dari perjuangan heroik seorang ibu di tengah musibah yang melumpuhkan. 

“Kami minta pertolongan orang pun semua sudah banjir semua kan. Enggak bisa minta tolong, makanya kami cepat-cepat keluar terus. Dengan ember kami keluar. Makanya itu anak-anak bisa selamat semua,” tutur Wiwi.  

Saat ini, mereka semua tidur berdesakan di pengungsian. “Suami kami tidur di rangkang itu… bertumpuk-tumpuk di situ,” katanya, menunjuk ke arah gubuk darurat yang terbuat dari terpal dan kayu seadanya. Kebutuhan dasar seperti tikar dan tenda menjadi barang mewah yang sangat mereka harapkan. 

“Di situlah, Pak. Kalau bisa kami minta bantuan semampu Bapak yang bisa bantu. Kami sudah enggak bisa lagi bilang. Di dalam pun enggak bisa apa-apa lagi kami. Cukup, cukup menderita,” ucapnya. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat tidak ada lagi yang tersisa.

wiwi pidie jaya 2.JPG 205.67 KB
Banjir kali ini, menurut Wiwi, jauh lebih parah dari yang pernah ia alami.  

“Biasa enggak pernah kami, biarpun banjir, enggak sebesar ini. Ini sebesar tsunami, tsunami lebih parah lagi ini daripada tsunami,” kenangnya getir. 

Rumah yang telah menjadi saksi bisu 20 tahun kehidupannya kini dipenuhi lumpur setinggi leher di dalam. Segala perabotan, pakaian, dan kenangan tenggelam, rusak menjadi ingatan yang kelam. 

“Semua habis di dalam, Pak. Baju yang saya pakai, itu karena dapat baju-baju bantuan itulah yang saya pakai, Pak. Lain enggak ada cerita, Pak,” ucapnya. Tangisnya pecah. 

Saat ditanya apa yang membuatnya tetap kuat dan ceria di tengah bencana, Wiwi tak bisa lagi menyembunyikan sisi rapuhnya. 

“Kita enggak bisa ngomong, cuma daripada kita stres, Pak, lebih bagus gitulah, Pak, menghilangkan [stres]. Cuma kalau Bapak tanya kayak gitu, ya ujung-ujungnya nangis kita. Enggak bisa ini, Pak. Makanya saya ngilangin stres, Pak,” tuturnya sambil mengusap air mata dengan jilbabnya yang lusuh 

Anak Yatim dan Harapan untuk Pulang 

Siapa sangka, ternyata semangatnya yang teguh datang dari sumber yang tak terduga. Bukan hanya karena anak-anak kandungnya, tetapi juga karena peran besar yang ia emban selama ini. 

“Iya. Saya berpikir, Pak, karena saya pun punya anak-anak yatim, Pak. Makanya saya berpikir berteguh saya, Pak. Dari pertama saya jaga anak-anak yatim, Pak,” ungkap Wiwi. 

Ia bisa mengurus anak-anak yatim. Namun, selama banjir, anak-anak yatim yang ia asuh terpaksa dikembalikan ke orang tua masing-masing karena ia tidak sanggup lagi menjaga mereka. Bahkan, salah satu anak kandungnya yang SMA yang sedang menghadapi ujian sekolah  kini terganggu total. 

“Makanya saya dalam ceria itulah, Pak, makanya menghilangkan stres, Pak,” ujarnya. Tawanya adalah tameng, perisai psikologis agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan total. 

wiwi pidie jaya 3.JPG 454.09 KB
Harapan terbesar Wiwi sederhana, “Keinginan saya rumah lah, Pak. Kalau bisa bisa kembali lagi, Pak. Kan enggak mungkin sih kita tidur di pengungsian terus, Pak.” 

Ia berharap bantuan dapat segera datang, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk seluruh keluarganya di Pidie Jaya yang kini harus memulai hidup dari nol. Agar anak-anak bisa kembali sekolah. Agar tawa yang ia paksakan hari ini bisa berganti menjadi kebahagiaan sejati saat ia dan keluarganya kembali pulang ke rumah bersama anak-anak yatim yang diasuhnya. 

Baca juga: Nyawa Hampir Melayang, Ketika Pulang Semua Hilang 

Editor: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator