Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Di antara sisa-sisa puing rumah dan hamparan lumpur, Nazwa duduk. Matanya yang bulat sesekali melirik malu-malu, menghindari tatapan langsung orang asing. Ia menatap dalam ke arah hamparan lumpur, kemudian menyentuh puing-puing rumahnya yang roboh di pesisir Desa Kuala Ceurape.
Anak sepuluh tahun ini adalah satu dari sekian banyak penyintas yang kini harus mengakrabkan diri dengan dinginnya dinding hunian triplek sementara (huntara) di Gampong Alue Kuta yang masih berada di kecamatan yang sama dengan rumahnya yang sudah rata, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen.

"Malam masuk air," kenang Nazwa singkat. Suaranya lirih. Ia bercerita bagaimana ibunya membangunkan tidurnya dengan tergesa. Tidak ada waktu untuk mengemas mainan, apalagi menyelamatkan harta benda.
"Langsung lari," lanjutnya.
Kecepatan air malam itu melumat segalanya. Ketika ditanya apa saja yang hilang saat rumahnya hancur.
“Semua,” jawaban Nazwa sangat sederhana namun menyesakkan dada
Bagi seorang anak kecil, kata "semua" berarti dunianya. Buku tulis yang ia gunakan untuk belajar, tas sekolah yang setiap hari dibawa di bahunya, hingga seragam sekolah yang kini entah terkubur di mana di bawah endapan lumpur banjir bandang Aceh. Dari tiga rumah yang dulu berdiri di lingkungannya, kini tak ada satu pun yang tersisa. Semuanya rata dengan tanah.
Di huntara itu, ia hanya tinggal bersama ibu dan seorang adiknya. Sang ayah, yang berprofesi sebagai nelayan, lebih sering menghabiskan waktu di laut untuk mencari nafkah atau berada di rumah neneknya di lokasi yang berbeda.
"Ayah di laut," ujarnya polos.
Meski terpisah jarak dan situasi pascabencana, Nazwa mengaku sudah sempat bertemu dengan ayahnya sebelum sang kepala keluarga kembali melaut untuk menyambung hidup. Di tengah keterbatasan ini, Nazwa harus tumbuh lebih cepat dari usianya, memahami bahwa rumahnya kini hanyalah bilik triplek yang tipis.
Meski tinggal di pengungsian, harapan tidak benar-benar lari dari kepala Nazwa. Saat ditanya mengenai apa yang diinginkannya ke depan, ia tidak meminta kemewahan. Keinginannya adalah potret sederhana dari hak dasar seorang anak yang terenggut bencana.
"Mau rumah lagi. Terus ada buku tulis, tas, baju sekolah," bisiknya.
Mengingat hari raya yang akan datang, binar di matanya sedikit meredup namun penuh harap. Seperti anak-anak lainnya, ia mendambakan sesuatu yang baru untuk merayakan kemenangan.
"Mau baju lebaran," tambahnya pelan.
Kisah Nazwa adalah satu dari ribuan kisah pilu di Alue Kuta. Di balik dinding triplek yang rentan tertiup angin, ada seorang anak yang hanya ingin kembali memeluk buku tulis dan mengenakan seragam sekolahnya lagi. Bagi Nazwa, membangun kembali rumah berarti mengembalikan ruang aman baginya untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.

Sejak masa tanggap darurat, DT Peduli terus menyalurkan bantuan dan menemani para penyintas untuk tetap bertahan. Dari mulai bantuan pangan, paket ibadah, belajar, mushaf Al-Quran, dan layanan psikososial terus diberikan.
Kini, DT Peduli tengah bergerak membangun 45 unit Hunian Tetap (Huntap) secara bertahap bagi para penyintas di Bireuen, termasuk Nazwa. Bagi mereka, rumah ini bisa membantu menata hidup kembali. Bagi Nazwa, rumah ini adalah wujud dari mimpinya untuk melangkah meraih cita-citanya yang sempat terhenti.
Baca juga: Harapan Herawati, Penyintas Banjir Aceh Jelang Ramadhan
Penyunting: Agus ID