Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Selasa siang (17/2/2026), mendung tipis menggelayut di atas langit Alue Kuta. Di sebuah bilik sempit yang dindingnya hanya berupa kepingan triplek dan kayu, Herawati duduk termenung.
Sudah hampir tiga bulan, bangunan sementara yang disebut Hunian Sementara (Huntara) ini menjadi saksi bisu perjuangannya menyambung hidup bersama anak-anak dan sesama penyintas banjir bandang Bireuen lainnya. 
"Dalam selang dua jam, rumah (terdengar) seperti bom meledak. Gedung-gedung hilang satu per satu," kenang Herawati dengan suara yang bergetar.
Ia menceritakan bagaimana kegelapan total menyelimuti desa saat aliran listrik terputus. Di tengah gemuruh air dan reruntuhan bangunan, yang tersisa hanyalah jerit ketakutan dan pakaian yang melekat di badan.
"Makanan pun kurang. Anak-anak ada yang tidak ada baju semua," tambahnya pilu.
Bagi Herawati, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Kehilangan tempat berteduh berarti kehilangan jangkar masa depan.
"Sedikit bukan... seperti mau hancur perasaan. Karena memang rumah itu harapan kita, masa depan anak-anak," ungkap sambil mengusap air mata. Tangisnya tak bisa dibendung mengingat masa depan anak-anaknya.
Di tengah kepungan dinding triplek yang tipis, perempuan ini justru menemukan keteguhan yang tebal. Alih-alih merutuk pada takdir, Herawati memilih memandang musibah ini melalui lensa spiritualitas yang jernih.
Baginya, bencana ini adalah teguran lembut dari Allah untuk kembali bersujud. Ia mengakui, mungkin sebelum ini ia kurang bersabar atau sering melalaikan ibadah di tengah kesibukannya.
"Mungkin dengan ujian ini, kita lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa," ujarnya lirih. Sebuah refleksi diri yang mendalam di tengah situasi yang bagi kebanyakan orang mungkin mustahil untuk disyukuri.
Tantangan baru kini hadir di depan mata. Bulan suci Ramadhan tiba dengan rasa yang berbeda. Jika tahun-tahun lalu aroma masakan berbuka tercium dari dapur rumah sendiri, tahun ini Herawati harus bersiap menyambut bulan seribu bulan di bawah atap huntara yang sederhana.

"Di pengungsian pun mungkin lebih indah daripada sebelumnya (karena kebersamaan)," katanya.
Kabar baik kini mulai bersemi. DT Peduli tengah bergerak membangun 45 unit Hunian Tetap (Huntap) secara bertahap bagi para penyintas di Bireuen. Herawati adalah salah satu calon penerimanya. Harapan untuk kembali memiliki pintu yang bisa dikunci dan atap yang tidak bocor bukan lagi sekadar mimpi siang bolong.
Hingga saat itu tiba, Herawati terus mengajarkan satu hal paling berharga kepada anak-anaknya, yaitu kesabaran. Ia berharap anak-anaknya bisa mengerti keadaan tanpa banyak bertanya, seraya meyakini bahwa rencana Allah selalu lebih indah dari rencana manusia manapun.
Di sela-sela dinding kayu yang retak, harapan Herawati tetap tegak. Ia menata kembali kepingan hidup yang sempat luluh lantak oleh banjir bandang.
Baca juga: Kisah Banjir Bandang Menerjang Alue Kuta, Bireuen
Penyunting: Agus ID