Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Ahad dini hari (2/8/2026), di saat sunyi menyelimuti Gaza, dentuman keras bom mendadak merobek keheningan. Serangan udara menghantam sebuah rumah yang berdiri tepat di dekat Masjid Daarut Tauhiid (DT) Gaza. Di dalam rumah tersebut, para penghuni yang sedang tertidur lelap, tak menyangka bahwa malam itu menjadi peristirahatan terakhir mereka di dunia. 
Huda bukan sekadar relawan bagi DT Peduli. Ia adalah sosok pengajar yang dengan telaten dan penuh keikhlasan membimbing para santri di Baitul Qur’an DT Gaza. Sementara itu, Reem Kamal Nabhan Abu Maeliq merupakan orang tua dari salah satu santri yang menimba ilmu di tempat yang sama. Kepergian keduanya menyisakan kesedihan mendalam bagi mereka yang mengenal dedikasi dan kebaikan mereka.
Kepedihan terpancar jelas dari sahabat dan pengurus Masjid DT Gaza. Ustadzah Wafa, salah satu pengurus Masjid DT Gaza, mengaku masih sulit sepenuhnya percaya kenyataan pahit tersebut terjadi.
“Jujur, kami sampai saat masih belum percaya pada berita tersebut,” ungkap Ustadzah Wafa saat dihubungi oleh Kevin Akbar Pramadiva, Staf Overseas DT Peduli, sesaat setelah kejadian. 
“Semoga Allah melimpahkan kasih sayang kepada keduanya. Tiada penolong selain Allah,” ucap Syaikh Yasin dengan penuh keteguhan.
Lokasi rumah yang dihantam bom dengan Masjid DT Gaza yang lumayan dekat menjadikan situasi di sekitar area tersebut kian rawan. Kevin menjelaskan bahwa tim terus memantau perkembangan situasi. Ia memohon doa agar kondisi segera kondusif sehingga bantuan kemanusiaan dapat disalurkan tanpa hambatan.
“Masjid DT Gaza relatif aman. Semoga situasi di sana bisa memungkinkan kita untuk menyalurkan bantuan,” ujar Kevin.
Kehilangan ini turut dirasakan secara mendalam oleh pimpinan DT Peduli di tanah air. Direktur DT Peduli, Jajang Nurjaman, menyampaikan ungkapan duka cita atas gugurnya relawan dan orang tua santri Baitul Qur’an Masjid DT Gaza.
“Innalillahi Wa innali ilaihi rajiun, kami turut berduka cita atas syahidnya relawan kami di Masjid DT Gaza, Huda Khaled Arar Abu Maeliq. Beliau adalah salah satu yang berjuang mengajarkan ilmunya untuk para santri Baitul Quran Masjid DT Gaza. Kami, terutama para santri dan masyarakat sekitar Masjid DT Gaza sangat kehilangan,” tutur Jajang.
Jajang juga menyampaikan belasungkawa atas syahidnya Reem Kamal Nabhan Abu Maeliq. Wafatnya Reem juga menjadi kehilangan besar bagi keluarga Baitul Qur’an sebagai orang tua salah seorang santri. 
“Semoga keduanya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan kita semua di surga kelak. Mohon doanya juga kepada seluruh masyarakat. Semoga Allah terus memberikan kekuatan dan kemenangan kepada Palestina, khususnya di Gaza,” ucap Jajang.
Di tengah duka yang kembali menyelimuti Gaza, Jajang menegaskan komitmen DT Peduli untuk terus mendukung dan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina.
“Insya Allah DT Peduli terus berkomitmen untuk terus mendukung dan menyalurkan bantuan untuk saudara-saudara kita semua di Palestina. Mohon doakan kami, DT Peduli, agar amanah dan istiqamah,” pungkasnya.
Baca juga: Mengalirkan Kehidupan di Antara Reruntuhan Gaza
Penyunting: Agus ID