Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Menjahit Harapan di Rumah Karya
 

 

Menjahit Harapan di Rumah Karya

Dipublish pada:

19 Nov 2025


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Jumat pagi (31/10/2025), udara di Cihideung terasa sejuk ketika langkah memasuki gedung Rumah Karya Kopmu-DT (RKK). Ruangan pertama ketika masuk dijadikan ruang pameran produk, berdampingan dengan ruang marketing dan sales. Di bagian dalam, ruang pemotongan kain dan pembuatan pola terlihat sibuk, sementara di lantai dua, suara mesin jahit berdetak seperti irama harapan yang tumbuh dari hari ke hari. 

Kain-kain warna pastel terserak rapi di meja kerja, digerakkan oleh tangan-tangan perempuan yang cekatan dan penuh fokus. Sekilas, ini tampak seperti ruang produksi biasa. Namun semakin dalam menelusuri ruangan, semakin terasa bahwa di balik setiap tusukan jarum dan desis mesin, ada kisah-kisah hidup yang sedang dijahit ulang. 

Bertumbuh dan Belajar 

Banyak dari mereka memulai perjalanan di tempat ini dari hal sederhana, seperti ajakan seorang teman, informasi dari saudara, atau sekadar peluang kecil yang lewat saat mereka membutuhkan arah baru dalam hidup. Yeti, misalnya, datang setelah ditawari temannya, Bu Nia. Ia tak menyangka ajakan sederhana itu mengubah langkah hidupnya. 

“Yang tadinya saya cuma bisa jahit dasar, sekarang bertambah ilmunya,” tutur Yeti, yang sebelumnya seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Ia kini bisa mengerjakan berbagai proyek dengan bayaran antara 200 hingga 500 ribu rupiah per proyek. 

“Dulu di rumah enggak ada kegiatan. Setelah ikut pelatihan, sekarang ada kerjaan, ada proyek. Bangga bisa menghasilkan uang sendiri,” tambahnya. 

Hal serupa dirasakan Nia, peserta lain yang sebelumnya hanya menjahit sederhana di rumah. “Alhamdulillah, setelah ikut pelatihan ini saya jadi banyak tambah ilmu,” ujarnya. Ia kini memahami berbagai model baju dan teknik pembuatannya.

rkk 4.JPG 45.14 KB
Dampaknya terasa langsung pada ekonomi keluarga. “Secara ekonomi, setelah ada proyekan, alhamdulillah bisa menambah penghasilan saya.” Cerita berbeda datang dari Heni, yang sebelum masuk RKK sempat berkeliling ke pabrik-pabrik untuk mencari order jahit yang tak selalu ada. 

“Karena enggak ada order, saya coba ikut pelatihan ini,” ujar Heni. Kini ia mendapat ilmu baru, dari membuat tunik hingga jaket. “Harapannya, order di sini terus banyak, biar kami tetap ada kerjaan,” pungkas Heni. 

Efi, yang telah berpengalaman menjahit di konveksi, merasakan peningkatan signifikan setelah mengikuti pelatihan dari awal. “Yang sebelumnya enggak bisa, jadi bisa,” katanya. Kini ia mampu membuat jaket, kaus, hingga kemeja. 

Penghasilan dari proyek jahit di RKK ia gunakan untuk membantu kebutuhan anak-anaknya. “Walau enggak rutin setiap bulan, alhamdulillah bisa bantu-bantu,” ujar Efi. Perjalanan yang berbeda pula ditempuh Wini Wahyuni, koordinator RKK yang akrab dipanggil Teh Wini. 

Ia bergabung sejak awal pelatihan Paradaya. Meskipun sudah memiliki usaha mandiri sebelumnya, kondisi hidup yang tengah diuji membuatnya mencari ruang bertumbuh baru. “Saya ikut pelatihan untuk menambah ilmu dan mendapatkan modal usaha,” tuturnya. 

Ekosistem Hangat Menjahit Masa Depan 

Sebagai koordinator, ia mengatur alur kerja, memastikan barang masuk dan keluar, membantu teman-teman yang kesulitan, sekaligus tetap menjahit. “Penghasilan ini mungkin tidak besar, tapi bisa untuk menghidupi. Saya terbantu sekali,” kata Wini. Ia juga menyimpan mimpi untuk kembali membangun usaha sendiri suatu hari nanti. 

“Tapi saya enggak akan meninggalkan RKK. Tempat ini sudah banyak membantu saya,” lanjutnya. Di ruangan ini, hubungan yang terbangun bukan sekadar antara pekerja dan mesin jahit. Ada ekosistem saling dukung.

RKK 2.JPG 44.17 KB
Peserta baru belajar dari senior, saling meminjam alat, bertanya pola, hingga berbagi trik menjahit. Ada kehangatan yang membuat setiap orang merasa diterima dan dihargai. Meski proyek tidak selalu datang rutin setiap bulan, hampir semua peserta kompak berharap RKK semakin berkembang. 

“Harapannya order terus banyak,” ungkap mereka. “Supaya kami terus punya pekerjaan.” Ucapan terima kasih pun diungkapkan penuh ketulusan. 

“Terima kasih untuk DT Peduli dan KOPMU,” ungkap Yeti. Peserta lain seperti Nia, Efi, dan Heni yang mengaku mendapatkan ilmu sekaligus penghasilan. “Semoga semakin banyak memberikan manfaat untuk orang lain.” 

Di akhir kunjungan, Bambang Hermanto, PIC Marketing Rumah Karya KOPMU-DT, menegaskan bahwa RKK adalah bagian dari pemberdayaan DT Peduli yang dioperasikan Kopmu. Tempat ini dibangun untuk menciptakan peluang, memperkuat keterampilan, dan menyediakan pekerjaan layak bagi masyarakat, khususnya para perempuan yang ingin bangkit. 

Bagi mereka, RKK bukan sekadar tempat menjahit. Ini adalah ruang untuk menyulam keberanian, membangun kembali kepercayaan diri, dan menapaki masa depan yang lebih cerah. 

Baca juga: DT Peduli Siap Berkolaborasi dalam Program Paradaya 2.0 

Editor: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator