Dipublish pada:
MANGGARAI— Situasi sulit masih dirasakan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) usai gempa bumi berkekuatan M 7,7. Di Tengah situasi tersebut, sebuah momen penuh haru berlangsung di Kampung Batok, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Di tengah kondisi bencana, sepuluh warga Batok justru menemukan jalan yang selama ini mereka cari: jalan menuju Islam.
Salah satunya Wahidah. Ia mengaku telah lama meninggalkan agama sebelumnya dan memiliki keinginan untuk memeluk Islam. Namun, keinginannya belum menemukan jalan untuk diwujudkan.
“Saya ingin menjadi seorang muslimah yang shalat dan mengaji, namun tidak bisa. Tidak ada buku shalat maupun yang mengajarkan shalat,” tutur Wahidah.
Keinginannya semakin kuat setelah melihat sanak saudara dan tetangganya melaksanakan shalat dengan tenang pascagempa. Di tengah suasana bencana, ia merasakan keresahan karena belum memiliki pegangan dan tuntunan untuk beribadah.

Kesempatan itu datang saat relawan DT Peduli, Ustadz Luki Utama, membawa bantuan makanan untuk warga terdampak gempa. Wahidah memberanikan diri menyampaikan keinginannya.
“Ketika Ustadz Luki datang membawa bantuan makanan, saya memberanikan diri mengutarakan harapan saya agar bisa shalat. Alhamdulillah, ustadz pun membimbing dua kalimat syahadat dan memberikan buku panduan serta mukenah,” ungkapnya.
Sebelumnya, Wahidah beberapa kali belajar tata cara shalat melalui YouTube. Namun, ia masih ingin mendapatkan bimbingan secara langsung agar lebih mantap mengikrarkan keislamannya.
Harapan itu akhirnya terwujud melalui pendampingan DT Peduli. Bersama sembilan warga lainnya—Annisa, Hikmah, Aisyah, Nur Fania, Hajra, Farida, Siti Hawa, Ahmad Nur, dan Saiful—Wahidah dibimbing mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Selain bimbingan keislaman, para mualaf juga mendapatkan perlengkapan ibadah berupa mukena dan sarung serta buku panduan praktis tata cara beribadah.
Bagi Wahidah dan sembilan warga lainnya, hari itu menjadi awal perjalanan baru sebagai seorang muslim.
Sebagaimana tradisi yang kerap dilakukan, para mualaf biasanya mendapatkan nama baru setelah mengikrarkan syahadat. Namun, hal itu tidak dilakukan kepada sepuluh warga Batok tersebut.
Yang berubah bukan nama mereka, melainkan jalan yang mereka pilih untuk melanjutkan kehidupan.
Di tengah bumi yang baru saja berguncang, sepuluh hati justru menemukan ketenangan dalam dua kalimat syahadat.
Penyunting: Astri Rahmayanti