Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | GAZA – Masjid Daarut Tauhiid (DT) Gaza di Deir al-Balah, wilayah tengah Jalur Gaza, kini berfungsi sebagai pusat tumpuan harapan bagi ribuan warga yang mengungsi dari berbagai wilayah. Kawasan sekitar masjid ditetapkan sebagai zona kuning yang relatif lebih aman, menyebabkan arus pengungsi dari utara Kota Gaza terus memadati setiap sudut wilayah tersebut.
Sejak Juli 2025, Masjid DT kembali dibuka untuk ibadah setelah sempat terhenti karena memasuki zona merah. Namun, kini halaman dan jalan di sekitarnya dipenuhi pengungsi. Syekh Yasin Jamal Ahmad Abukhsewan, Imam Masjid sekaligus pengajar Al-Qur'an, melaporkan bahwa jumlah pengungsi meningkat hingga lima kali lipat, menciptakan kepadatan ekstrem dan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Syekh Yasin menyampaikan bahwa kondisi pengungsi sangat memprihatinkan akibat minimnya ketersediaan kebutuhan dasar, seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan penghangat untuk musim dingin. Keterbatasan suplai dan sulitnya distribusi bantuan memperburuk keadaan ribuan orang yang harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah fasilitas minim.
Menurutnya dukungan internasional, khususnya dari Indonesia, sangat berarti untuk menopang kebutuhan para pengungsi. Ia berharap bantuan dapat lebih difokuskan pada kebutuhan mendesak seperti makanan dan air bersih, serta penyaluran donasi langsung ke Masjid DT Gaza agar dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Masjid Daarut Tauhiid Gaza sendiri tetap dijaga oleh para pengajar Al-Qur'an, termasuk Syekh Yasin, Wafaa Gamal Ahmad Abukhsewan, dan Syekh Ismail Nezar Ismail Fayyad, yang berkomitmen melanjutkan pendidikan Al-Qur’an di tengah tantangan berat.
Penulis: Indra
Editor: Agus ID