Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | ACEH TAMIANG – Lumpur sempat menutup lantai, dinding tampak kotor, dan akses air bersih belum tersedia. Bahkan untuk sekadar membersihkan, warga tidak memiliki peralatan yang memadai. Bukan hanya air bersih yang sulit didapat, alat kebersihan pun nyaris tidak ada. Begitulah kondisi Mushala Al Ikhlas pascabanjir.
Sebelum bencana, mushala ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas warga. Di sinilah shalat berjamaah ditegakkan, anak-anak mengaji, dan masyarakat berkumpul dalam kegiatan keagamaan. Namun setelah banjir, semua aktivitas terhenti. Mushala yang dulu hidup berubah menjadi sunyi, seolah ikut merasakan duka warga yang kehilangan tempat bersandar.
Melihat kondisi tersebut, DT Peduli hadir bersama masyarakat setempat untuk membersihkan mushala dan mengupayakan agar rumah ibadah ini kembali bisa digunakan. Dengan keterbatasan yang ada, warga dan relawan bergotong royong mengangkat lumpur, membersihkan sisa-sisa kotoran, serta memulihkan Mushala Al Ikhlas agar kembali menjadi tempat ibadah. 
“Alhamdulillah, akhirnya masjid ini sudah bersih, sudah bisa kami pakai untuk shalat dan pengajian anak-anak. Ramadhan kami sudah tidak perlu risau karena masjid kami sudah dibersihkan. Berkat semangat adik-adik relawan semua, kami pun ikut semangat untuk membersihkan masjid ini,” kata Muslimin.
Menurut Juliani, Staf Marketing DT Peduli yang langsung menyaksikan di lokasi, bencana memang sempat merenggut kenyamanan mereka, namun tidak pernah mampu memadamkan iman dan kebersamaan.
Dari lantai yang dulu tertutup lumpur, kini kembali terhampar sajadah. Dari kesedihan, tumbuh kekuatan. Dan dari kepedulian banyak tangan, Mushala Al Ikhlas kembali menjadi saksi bahwa ketika manusia saling menguatkan karena Allah, harapan selalu menemukan jalannya.
Baca juga: Teguh Bertahan di Tengah Lumpur, Warga Aceh Tamiang Masih Butuh Uluran Tangan
Penyunting: Agus ID