Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | ACEH TAMIANG – Di sela reruntuhan kayu dan sisa lumpur yang mengering di Lubuk Sidup, sebuah wilayah terpencil di perbatasan Rantau Bintang, Aceh Tamiang, duka akibat banjir besar Desember lalu masih terasa menyesak. Namun, di tengah kepungan kehilangan itu, seorang anak kelas 5 SD bernama Sultan menitipkan sebuah pesan yang menggetarkan hati.
Kisah ini bermula saat Nanang Abdul Azis, Manajer Desain, Perencanaan, dan Kontrol Program DT Peduli melakukan kunjungan ke lokasi terdampak banjir paling parah pada akhir Desember. Di sana, jembatan-jembatan putus dan rumah-rumah di pinggiran sungai raib ditelan arus, meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Saat rombongan relawan tiba membawa bantuan makanan, mereka disambut oleh sekelompok anak-anak, termasuk Sultan dan temannya, Habib.
Di tengah situasi darurat di mana kebutuhan fisik seperti pangan dan papan menjadi prioritas utama, sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan kepada Sultan,"Sultan sedih tidak rumahnya hanyut? Sekarang Sultan maunya apa?"
Jawaban bocah itu seketika mengheningkan suasana. Tanpa ragu, ia menjawab, "Saya cuma mau Qur'an saja".
Bagi Sultan, rumah yang hanyut adalah urusan ayahnya yang sedang berikhtiar mencari rezeki lagi. Namun, hilangnya Al-Qur'an adalah kehilangan nafas hidup yang tidak bisa ditunda. Ia bercerita dengan getir bagaimana ia tidak bisa lagi mengaji karena mushaf di rumahnya telah hanyut, sementara mushaf di mushala pun sudah tidak ada.
Keteguhan Sultan bukan sekadar luapan emosi sesaat. Siswa kelas 5 SD ini ternyata telah menghafal dua juz, yakni Juz 30 dan Juz 29, melalui pendidikan di madrasah setempat. Baginya, Al-Qur'an bukan sekadar buku, melainkan napas harian.
"Dari sisi tauhidnya sudah keren. Rumah hanyut, tapi dia malah minta Qur'an," kenang Nanang dengan nada kagum.
Menurut Nanang, kisah Sultan dan Habib mencerminkan karakter kuat masyarakat Aceh pedalaman yang memandang Al-Qur'an sebagai identitas dan pedoman hidup yang tak bisa ditawar. Di wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan akses pasar ini, bantuan logistik seringkali terlambat sampai karena sulitnya akses jalan yang rusak. Namun, kerinduan mereka terhadap pendidikan agama tetap menyala meski di bawah tenda pengungsian.
Kebutuhan akan mushaf ini ternyata menjadi fenomena massal di Aceh pascabencana. Selama proses trauma healing, banyak warga yang secara inisiatif mendekati relawan bukan untuk meminta tambahan jatah makanan, melainkan bertanya, "Kak, boleh tidak saya minta Qur'annya?". Hal ini membuktikan bahwa bagi mereka, pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun fisik, tapi juga menguatkan keimanan mereka melalui kalam illahi.
Merespons kebutuhan tersebut, sebuah program pengadaan 14.000 Al-Qur'an pun dibuat untuk penyaluran ke wilayah-wilayah terdampak. Hingga saat ini, sekitar 10.000 mushaf sudah dibawa dan dalam proses penyaluran ke daerah terdampak banjir Sumatera. Sultan sendiri telah mendapatkan mushaf barunya tak lama setelah wawancara itu dilakukan, dikirimkan langsung oleh tim Posko Peduli.
Kisah Sultan di Lubuk Sidup adalah pengingat bagi kita bawha di saat dunia mungkin melihatnya sebagai korban yang tak berdaya, Sultan melihat dirinya sebagai seorang penuntut ilmu yang hanya membutuhkan cahaya dari Al-Qur'an. Di Aceh, tradisi mendekatkan anak dengan Qur'an sejak dini telah menciptakan generasi yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran, bahkan ketika harta benda mereka hilang dibawa arus sungai.
Menjelang Ramadhan ini, semangat Sultan diharapkan mampu menular kepada banyak orang. Bahwa di balik setiap musibah, ada iman yang harus dijaga agar tidak ikut hanyut bersama lumpur dan air mata.
Baca juga: Kisah “Tsunami Kayu” di Garoga
Penyunting: Agus ID