Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Kisah Faiha Merajut Prestasi dari Keterbatasan
 

 

Kisah Faiha Merajut Prestasi dari Keterbatasan

Dipublish pada:

18 Nov 2025


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Di balik senyum hangat dan gaya bicara yang blak-blakan, Faiha Athiyah Azhim menyimpan perjalanan hidup yang panjang dan penuh belokan tajam.  

Lahir di Jakarta pada 4 Mei 2003, perempuan 22 tahun itu tumbuh sebagai anak tengah dari keluarga Betawi yang sederhana. Ia tumbuh menjad pribadi yang ekstrovert sejak kecil, mandiri sejak TK, dan mudah berbaur dengan siapa pun, namun jauh di dalam dirinya, ada pergulatan panjang mengelola kalbu, emosi, dan overthinking, yang diam-diam ia latih dari hari ke hari. 

faiha 3.jpg 190.96 KB
“Kata Aa Gym, perubahan itu nggak bisa instan. Harus dilatih, dilatih, dilatih,” ujarnya sambil tertawa kecil. Tawa yang ringan, tapi menyimpan banyak fase berat sebelum akhirnya ia memahami makna kata “perubahan” itu sendiri. 

Saat Hidup Berputar Mendadak 

Faiha kecil bukan tipe anak bintang kelas. Ia bahkan mengaku masa SD-nya dihabiskan dengan bermain, membuka buku hanya sekadar membuka halaman, tanpa membaca.  

Sampai satu peristiwa mengubah semuanya. 

Saat duduk di kelas lima, usaha orang tuanya bangkrut karena ditipu karyawan. Ayahnya jatuh sakit, rumah keluarga terpaksa dijual, dan kondisi ekonomi menurun drastis.  

“Kami sempat bingung harus gimana. Aku disuruh cari beasiswa, tapi nggak dapat yang cocok. Aku juga nggak mau pindah ke sekolah yang lebih rendah,” kenangnya. 

Sampai kepala sekolahnya berkata, “Kalau mau dapat beasiswa SPP, harus jadi peringkat satu.” 

Kalimat sederhana itu seperti tombol yang menyalakan kembali hidupnya. Sejak itu, Faiha belajar lebih keras. Pelan-pelan ia berubah, dari anak yang enggan belajar menjadi siswi rajin dan berusaha disiplin.  

faiha 10.jpg 199.48 KB
Disiplin itu terbawa hingga SMP dan SMA, ditambah satu hal yang membuat masa remajanya pahit: ia pernah dijauhi dan dibully sosial karena teman-teman menganggapnya “dibanggakan terus”. 

“Orang tua sampai bilang, ‘nanti di kuliah jangan ambis-ambis',” kata Faiha. Itu sebabnya ia memilih tampil secukupnya saat kuliah. Belajar dalam diam, tetap unggul tanpa perlu menonjolkan diri. 

DT Peduli dan Tempat Ia Belajar Mengelola Diri 

Faiha akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di STAI Daarut Tauhiid dengan beasiswa DT Peduli. Di STAI DT dengan beasiswa DT Peduli, ia ingin belajar mengelola hati dan emosinya. Hidup baginya bukan lagi sekadar prestasi, tapi perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik. 

Beasiswa itu mengubah banyak hal. Baginya, beasiswa DT Peduli bukan hanya soal biaya pendidikan yang terbantu, tapi juga pembentukan kepribadian dan ketenangan hati. 

"Kalau mendapati kesenangan, kesedihan, kecewa, atau pun marah itu semua ujian dari Allah. Intinya latihan terus untuk bijak menghadapi semua episode,” ucapnya. Prinsip sederhana itu dibangun dari lingkungan DT yang mendidiknya tentang manajemen kalbu, hal yang selama ini ia cari. 

faiha 7.jpg 61.81 KB
Dengan bantuan beasiswa dan lingkungan yang suportif, Faiha mampu fokus pada pengembangan diri, bahkan melahirkan rentetan prestasi yang membuat namanya dikenal di berbagai ajang. 

Meskipun UKT bukan menjadi beban lagi, masuk kuliah tetap tidak mudah. Untuk kebutuhan tugas ia tetap harus memutar otak. Orang tua membantu sebisanya, sementara Faiha membuka bimbel kecil-kecilan saat kuliah masih daring di masa pandemi. 

Ketika kuliah kembali tatap muka, Faiha mulai mendapat pelatihan Fasilitator DT Insani, kemudian menjadi fasilitator dan menerima uang saku dari berbagai kegiatan. 

IPK Sempurna 

Deretan pencapaian akademiknya bukan main panjangnya. Tahun 2025 saja, ia meraih Juara 3 Esai Nasional di Padjadjaran Islamic Fair dan Juara 1 Best Project Innovation, Juara 3 Best Video Project, serta Juara 3 Best Presentation pada International Youth Excursion Network Award di Malaysia 

Tahun-tahun sebelumnya pun tak kalah impresif. Ia masuk ke dalam 10 besar Lomba Ide Inovasi Nasional, juara Musabaqah Hifzhil Qur’an PPM DT, penulis buku bersama dosen, hingga menjadi penulis kedua jurnal pada International Conference on Islamic Studies. 

faiha 5.jpg 102.75 KB
Puncaknya adalah momen wisuda pada awal November 2025. Ia tidak menyangka dirinya bisa menjadi wisadawan terbaik dengan berhasil meraih IPK sempurna. 

“Pas dipanggil, ‘Faiha Athiyah Azhim… IPK 4,00.’ Aku langsung diam. Dalam hati, ‘Pasti salah input.’ Karena aku inget banget dulu dapat B,” ujarnya sambil tertawa. 

Ia bahkan mendatangi bagian TU untuk memastikan. Dan benar saja, nilai B itu ternyata salah input. “Baru deh aku lega dan bilang alhamdulillah.” Perjalanan panjang, lelah, dan konsisten terbayar tuntas dengan IPK sempurna: 4,00. 

Berjuang untuk Palestina 

Ada satu hal yang tak banyak orang tahu bahwa cita-cita terbesar Faiha bukan soal karier semata, melainkan kontribusi untuk Palestina. 

Sejak SMA, ia membaca riset berisi 27 tahun tentang jalan pembebasan Palestina. Dari situ ia punya tujuan hidup, yakni ingin menjadi generasi Muslim yang berkontribusi untuk perjuangan itu. Bahkan ia percaya keberkahan hidupnya hari ini mungkin datang dari niat itu. 

faiha 4.jpg 98.06 KB
Ia merencanakan kuliah S2 di bidang Studi Palestina. Ia ingin menjadi bagian dari perjuangan yang menggaungkan isu kemanusiaan dan Palestina. Beasiswa DT Peduli menjadi bahan bakar yang membuat mimpinya mendekat.  

“Karena background-ku Komunikasi Penyiaran Islam, aku ingin suatu hari jadi da'iyah atau influencer tentang isu-isu Palestina,” ucapnya mantap. 

Baca juga: Anak Buruh Pabrik Itu Kini Jadi Pemimpin 

Editor: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator