Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Di balik senyum hangat dan gaya bicara yang blak-blakan, Faiha Athiyah Azhim menyimpan perjalanan hidup yang panjang dan penuh belokan tajam.
Lahir di Jakarta pada 4 Mei 2003, perempuan 22 tahun itu tumbuh sebagai anak tengah dari keluarga Betawi yang sederhana. Ia tumbuh menjad pribadi yang ekstrovert sejak kecil, mandiri sejak TK, dan mudah berbaur dengan siapa pun, namun jauh di dalam dirinya, ada pergulatan panjang mengelola kalbu, emosi, dan overthinking, yang diam-diam ia latih dari hari ke hari.

Saat Hidup Berputar Mendadak
Faiha kecil bukan tipe anak bintang kelas. Ia bahkan mengaku masa SD-nya dihabiskan dengan bermain, membuka buku hanya sekadar membuka halaman, tanpa membaca.
Sampai satu peristiwa mengubah semuanya.
Saat duduk di kelas lima, usaha orang tuanya bangkrut karena ditipu karyawan. Ayahnya jatuh sakit, rumah keluarga terpaksa dijual, dan kondisi ekonomi menurun drastis.
“Kami sempat bingung harus gimana. Aku disuruh cari beasiswa, tapi nggak dapat yang cocok. Aku juga nggak mau pindah ke sekolah yang lebih rendah,” kenangnya.
Sampai kepala sekolahnya berkata, “Kalau mau dapat beasiswa SPP, harus jadi peringkat satu.”
Kalimat sederhana itu seperti tombol yang menyalakan kembali hidupnya. Sejak itu, Faiha belajar lebih keras. Pelan-pelan ia berubah, dari anak yang enggan belajar menjadi siswi rajin dan berusaha disiplin.

“Orang tua sampai bilang, ‘nanti di kuliah jangan ambis-ambis',” kata Faiha. Itu sebabnya ia memilih tampil secukupnya saat kuliah. Belajar dalam diam, tetap unggul tanpa perlu menonjolkan diri.
DT Peduli dan Tempat Ia Belajar Mengelola Diri
Faiha akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di STAI Daarut Tauhiid dengan beasiswa DT Peduli. Di STAI DT dengan beasiswa DT Peduli, ia ingin belajar mengelola hati dan emosinya. Hidup baginya bukan lagi sekadar prestasi, tapi perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik.
Beasiswa itu mengubah banyak hal. Baginya, beasiswa DT Peduli bukan hanya soal biaya pendidikan yang terbantu, tapi juga pembentukan kepribadian dan ketenangan hati.
"Kalau mendapati kesenangan, kesedihan, kecewa, atau pun marah itu semua ujian dari Allah. Intinya latihan terus untuk bijak menghadapi semua episode,” ucapnya. Prinsip sederhana itu dibangun dari lingkungan DT yang mendidiknya tentang manajemen kalbu, hal yang selama ini ia cari.

Meskipun UKT bukan menjadi beban lagi, masuk kuliah tetap tidak mudah. Untuk kebutuhan tugas ia tetap harus memutar otak. Orang tua membantu sebisanya, sementara Faiha membuka bimbel kecil-kecilan saat kuliah masih daring di masa pandemi.
Ketika kuliah kembali tatap muka, Faiha mulai mendapat pelatihan Fasilitator DT Insani, kemudian menjadi fasilitator dan menerima uang saku dari berbagai kegiatan.
IPK Sempurna
Deretan pencapaian akademiknya bukan main panjangnya. Tahun 2025 saja, ia meraih Juara 3 Esai Nasional di Padjadjaran Islamic Fair dan Juara 1 Best Project Innovation, Juara 3 Best Video Project, serta Juara 3 Best Presentation pada International Youth Excursion Network Award di Malaysia
Tahun-tahun sebelumnya pun tak kalah impresif. Ia masuk ke dalam 10 besar Lomba Ide Inovasi Nasional, juara Musabaqah Hifzhil Qur’an PPM DT, penulis buku bersama dosen, hingga menjadi penulis kedua jurnal pada International Conference on Islamic Studies.

“Pas dipanggil, ‘Faiha Athiyah Azhim… IPK 4,00.’ Aku langsung diam. Dalam hati, ‘Pasti salah input.’ Karena aku inget banget dulu dapat B,” ujarnya sambil tertawa.
Ia bahkan mendatangi bagian TU untuk memastikan. Dan benar saja, nilai B itu ternyata salah input. “Baru deh aku lega dan bilang alhamdulillah.” Perjalanan panjang, lelah, dan konsisten terbayar tuntas dengan IPK sempurna: 4,00.
Berjuang untuk Palestina
Ada satu hal yang tak banyak orang tahu bahwa cita-cita terbesar Faiha bukan soal karier semata, melainkan kontribusi untuk Palestina.
Sejak SMA, ia membaca riset berisi 27 tahun tentang jalan pembebasan Palestina. Dari situ ia punya tujuan hidup, yakni ingin menjadi generasi Muslim yang berkontribusi untuk perjuangan itu. Bahkan ia percaya keberkahan hidupnya hari ini mungkin datang dari niat itu.

“Karena background-ku Komunikasi Penyiaran Islam, aku ingin suatu hari jadi da'iyah atau influencer tentang isu-isu Palestina,” ucapnya mantap.
Baca juga: Anak Buruh Pabrik Itu Kini Jadi Pemimpin
Editor: Agus ID