Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | CIANJUR – Mimin Aminah, wanita asal Cianjur yang dulunya mengabdikan diri sebagai bagian dari Dinas Kesehatan di salah satu RSUD. Hingga akhirnya, pada 2011, ia memasuki masa purnabakti. Bertahun-tahun bekerja di bagian keuangan membuat hari-harinya dulu lebih banyak tersita untuk urusan duniawi. Namun hidup, rupanya, selalu memberi ruang untuk kembali.
Sedekah Ilmu Hingga Berqurban
Selepas pensiun, langkah wanita yang akrab disapa Bu Haji ini perlahan berubah arah. Ia mulai aktif mengikuti pengajian, duduk sebagai murid, menyimak ayat demi ayat Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Hingga suatu hari, sang ustadz melihat kesungguhannya.
"In sya Allah, Allah cukupkan ilmunya," begitu kata sang ustadz, memintanya mulai mengajar ibu-ibu lain. 
Hari-harinya kini diisi dengan mengajar ngaji, membimbing ibu-ibu, dan menebar kebaikan mulai dari cara yang sederhana namun bermakna, hingga yang luar biasa dampaknya. Di usia senjanya, ia justru merasa hidupnya semakin bahagia.
Menariknya, meski telah purnabakti, ia merasakan rezeki yang tak pernah putus. Sering kali, tanpa diduga, ada saja yang datang. Ongkos perjalanan yang dibayarkan, pakaian yang dihadiahkan, hingga ia hampir tak pernah lagi membeli baju sendiri. Dengan suara penuh keyakinan, ia menyebut itu sebagai bagian dari janji Allah bagi mereka yang gemar menginfakkan hartanya di jalan-Nya.
Kini baginya, bersedekah bukan sekadar memberi. Itu adalah rasa. Rasa senang, tenang, hati yang lapang, dan bayangan indah tentang bekal di akhirat kelak. Senyum lebarnya mengembang saat menceritakan itu. Matanya pun berbinar.
Di balik ketenangan itu, terselip satu penyesalan. Tangannya perlahan mengelus dada, suaranya melembut. Ia hanya berharap, seandainya bisa lebih dulu mengenal jalan ini. Lebih awal ikut kajian. Lebih istiqamah dalam berbagi.
Tapi ia tak berhenti pada penyesalan. Ia melanjutkan langkahnya. Kepedulian Bu Haji Aminah bahkan menjangkau hingga yang jauh ke Palestina. Baginya, jarak bukan alasan untuk tidak peduli.
"Kita ini bersaudara, satu tubuh. Mereka sedang berjuang di sana. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?" tuturnya mantap.
Melalui DT Peduli, ia menyalurkan sedekah hingga qurbannya. Setiap bulan, ia menanti majalah Swadaya yang berisi laporan penyaluran dana. Ia membacanya dengan rasa tenang karena tahu amanahnya sampai.
Kepercayaan itu tumbuh sejak lama. Dari kajian Aa Gym di Masjid Al-Ma’mun, dan kebiasaannya melewati kantor DT Peduli Cianjur.
Berqurban Setiap Tahun
Sejak muda, ia juga tak pernah absen berqurban.
"Kalau tidak berqurban, rasanya seperti ada yang kurang di hati," katanya pelan.
Yang menghangatkan, perjalanan ini tak ia lalui sendiri. Anak-anaknya mendukung penuh.
"Terserah mamah mau berbagi ke mana, yang penting bahagia," ujar mereka. Bahkan, tak jarang mereka ikut menitipkan sedekah atau qurban bersamanya. 
Baca juga: Ini “Matematika” Allah! Koin Receh Jadi Dua Ekor Hewan Qurban
Penulis: Faiha Athiyah Azhim
Penyunting: Agus ID