Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Matahari siang itu, Rabu (27/5/2026), bersinar terik di atas Kamp Deir Ballouth, sebuah kawasan gersang di ujung utara Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki. Debu-debu beterbangan ditiup angin, menyelinap di antara ribuan tenda yang berjejer kaku.
Di sana, di balik lembaran-lembaran terpal putih yang mulai koyak dan memudar warnanya, ribuan jiwa bertahan hidup. Mereka adalah para pengungsi Palestina dan Suriah. Mereka yang terusir dari tanah kelahiran, meniti hari demi hari dalam ketidakpastian yang melelahkan.

Di tempat ini, daging adalah kemewahan yang teramat langka. Sesuatu yang barangkali hanya hadir dalam ingatan masa lalu, sebelum bom-bom menghancurkan rumah mereka di Kamp Yarmouk, Damaskus, dan memaksa mereka berlari ke utara mencari perlindungan.
Suasana muram itu perlahan mencair ketika deru mobil logistik membelah keheningan kamp. Di dalamnya, ada amanah besar dari masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Darut Tauhid (DT) Peduli, berkolaborasi dengan Lembaga Kemanusiaan Persahabatan Indonesia-Syam (PISY).

"Alhamdulillah, DT Peduli berbagi daging sedekah untuk saudara-saudara Palestina kita di daerah perbatasan Suriah dan Turki, yaitu daerah Atma. Sebanyak 10 ekor daging sedekah DT Peduli," ujar KH. Zulkifli Ali, Pembina PISY, saat mendampingi langsung proses pengemasan daging dengan penuh syukur.

"Mudah-mudahan amalan dari saudara-saudara kita yang mempercayakan harta mereka melalui DT Peduli mendapatkan pahala yang berlapis-lapis dan berkali-kali lipat di sisi Allah. Kami dari PISY, mudah-mudahan Allah terima amal saleh kita. Besar pahala kita, mulia kita di dunia dan akhirat," tuturnya tulus.
Perjalanan dari RPH menuju kamp-kamp pengungsian bukanlah perkara mudah. Medan berdebu menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan di lapangan. Salah seorang relawan PISY menggambarkan betapa menyayat hatinya kondisi tenda pengungsian yang mereka kunjungi.
"Siang ini, kita sudah di kamp pengungsi di daerah Deir Ballouth. Di dalamnya ada pengungsi dari Palestina, ada juga pengungsi dari Suriah. Kondisi di sini, alhamdulillah jalanan mulai diberi batu-batu, tapi atapnya tetap pakai kain terpal. Banyak yang sudah hancur juga," kisahnya seraya menunjuk deretan tenda rapuh di sekelilingnya.
Relawan tersebut mengisahkan bahwa para pengungsi Palestina ini awalnya menetap di Kamp Yarmouk, sebuah kota kecil yang cukup hidup di pinggiran Damaskus. Namun, kekejaman konflik dan kehancuran total akibat tindakan rezim memaksa mereka mengalami pengungsian ganda. Mereka terlempar hingga ke pelosok Atma dan Deir Ballouth, hidup di bawah atap plastik dan terpal yang panas memijar saat musim panas dan membeku kaku saat musim dingin tiba.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur menerima daging qurban ini. Sudah lama keluarga kami tidak menikmati daging karena keterbatasan yang kami hadapi. Bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan kami, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan di tengah kondisi yang sulit,” ucap salah seorang kepala keluarga penerima manfaat penuh haru.
Doa yang tulis ia panjatkan untuk para muqarib dan donatur yang telah menitipkan qurbannya kepada DT Peduli.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara kami dari Indonesia. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dan Allah terima amal ini di sisi-Nya.”
Kebahagiaan yang paling murni terpancar dari wajah anak-anak pengungsian. Dengan pakaian yang lusuh, mereka berkumpul di sekitar relawan. Senyum lebar terukir di wajah-wajah polos mereka yang biasa dilingkupi trauma perang.
Secara spontan dan serentak, suara cempreng anak-anak itu memecah kesunyian kamp, menyuarakan kalimat yang menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, “I love Indonesia!”

Baca juga: Alhamdulillah, Akhirnya Rasakan Daging Qurban Setelah Tiga Tahun Menanti
Penyunting: Agus ID