Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG - Pagi itu di Madinah terasa berbeda. Langit cerah membentang di atas hamparan pasir, sementara kaum muslimin berkumpul menanti pelaksanaan shalat Iduladha. Di tengah keramaian itu, Rasulullah ﷺ hadir dengan ketenangan yang meneduhkan.
Beliau bukan hanya datang untuk menyampaikan khutbah atau menyembelih hewan qurban. Lebih dari itu, beliau sedang mengajarkan makna pengorbanan yang hidup hingga hari ini.
Qurban Rasulullah ﷺ
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berqurban dengan dua ekor kibas putih bertanduk. Hewan itu disembelih langsung oleh tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan takbir.
Salah satu qurban diniatkan untuk dirinya dan keluarganya, sedangkan satu lagi diperuntukkan bagi umatnya yang belum mampu berqurban. Betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Bahkan dalam ibadah qurban pun, beliau memikirkan mereka yang tidak memiliki kemampuan.
Allah ﷻ sendiri telah menegaskan hakikat qurban dalam firman-Nya:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menjadi penegas bahwa qurban bukan sekadar ritual penyembelihan. Ia adalah latihan keikhlasan, kepatuhan, dan kepedulian sosial. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan darah maupun daging hewan, melainkan hati yang tunduk dan penuh ketakwaan.
Qurban Para Sahabat
Tradisi qurban Rasulullah ﷺ kemudian diwariskan oleh para sahabat dengan semangat luar biasa. Umar bin Khattab ra., misalnya, dikenal sangat memperhatikan kualitas hewan qurbannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau memilih hewan terbaik sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar Allah.
Begitu pula dengan Abdullah bin Umar ra. Dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik disebutkan bahwa beliau membeli hewan qurban yang gemuk dan sehat, lalu merawatnya dengan baik sebelum hari penyembelihan tiba. Para sahabat memahami bahwa qurban bukan tentang mencari yang termurah, melainkan memberikan yang terbaik karena Allah ﷻ.
Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umat Islam untuk menyaksikan langsung penyembelihan qurbannya bila mampu. Sebab, di sana terdapat pelajaran tentang syukur, penghambaan, sekaligus kepedulian kepada sesama.
Daging qurban tidak berhenti di meja makan keluarga sendiri. Rasulullah ﷺ membagikannya kepada fakir miskin, tetangga, dan mereka yang membutuhkan. Dari sinilah Iduladha menjadi momentum persaudaraan. Tidak ada sekat antara kaya dan miskin. Semua menikmati kebahagiaan yang sama.
Hari ini, jejak qurban Rasulullah ﷺ dan para sahabat masih terus hidup. Setiap kali takbir Iduladha berkumandang, umat Islam kembali diingatkan bahwa qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan.
Qurban mengajarkan bahwa semakin besar cinta kepada Allah ﷻ, semakin ringan pula seseorang berbagi kepada sesama.
Baca juga: Menggali Hikmah Ibadah Qurban
Penyunting: Agus ID