Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Jalan “Pulang” Abah
 

 

Jalan “Pulang” Abah

Dipublish pada:

06 May 2026


DTPEDULI.ORG | CIANJUR – Kamis (30/4/2026) itu, suaranya bergetar. 

“Kalau berbagi itu… jadi senang. Bahagia.” 

Kalimat sederhana itu keluar dari, Koswara, seorang pria 62 tahun yang akrab dipanggil Abah. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, hingga tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Sejenak, ruangan menjadi hening. Bukan karena tak ada kata, tapi karena ikut merasakan dalamnya makna dari apa yang ia ucapkan. 

Abah Koswara 2.JPG 58.74 KB
Abah lahir di Bandung dari keluarga asli Ciamis. Masa mudanya dihabiskan untuk bekerja keras di dunia pertambangan. Bertahun-tahun, Ia bertugas di Kalimantan. Hidupnya dulu penuh dengan rutinitas kerja dan kesenangan yang fana. 

Perjalanan Berqurban

Awalnya sederhana. Dari radio. Lewat siaran MQ FM, ia rutin menyimak tausiyah Aa Gym. Salah satunya, tentang keutamaan berbagi. Yang menarik, ternyata Abah adalah adik kelas Aa Gym semasa SD dan SMP. Mungkin dari sanalah benih kebaikan itu bersemi dan bermekaran. 

Perlahan, terutama sejak kelahiran anak keduanya, Abah mulai belajar mengelola keuangan bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. Ia membiasakan diri menyisihkan harta untuk sedekah, zakat, dan qurban. 

Perjalanan menyalurkan ibadah itu tidak instan. Dari lingkungan sekitar rumah, lalu ke beberapa lembaga amal, hingga akhirnya menetap di DT Peduli.  

Hatinya tergerak. Ia mencoba menyalurkan amalnya dan menemukan satu hal yang membuatnya menetap, yakni amanah. Bagi Abah, laporan donasi yang cepat dan jelas bukan sekadar formalitas. Justru di situlah semangatnya berbagi terus bertumbuh. 

“Kalau report cepat sampai, jadi pengin cepat lagi menitipkan amalnya,” ujarnya. 

“Makan Tabungan” Bukan Penghalang 

Dulu, sebelum pensiun, Abah mampu berqurban dua ekor sapi setiap tahun. Kini, setelah pensiun, kondisinya berubah. 

Ia menyebut dirinya “MANTAB” (Makan Tabungan). Di saat yang sama, ia juga harus merawat orang tua yang sakit dan membiayai anak asuhnya hingga kuliah, lengkap dengan kebutuhan sehari-hari mereka. Namun satu hal tidak berubah: komitmennya untuk tetap berqurban. 

Meski kini cukup dengan kambing atau domba, baginya itu bukan soal jumlah, tetapi soal kesungguhan. 

“Kapan lagi? Ini kan buat bekal pulang,” katanya mantap. 

Dan anehnya, justru di masa “mantab” itu, ia merasa tak pernah kekurangan. 

“Ada saja rezeki yang datang.” 

Mobil yang dulu ingin dijual, kini justru menjadi sumber penghasilan setelah dikelola oleh rekannya. Keuntungan yang datang bahkan berlipat dari yang ia bayangkan. Allah benar-benar menjaga janji-Nya. 

"Saya akan Pulang” 

Ia teringat masa lalu. Saat masih bertugas di Kalimantan, ia melihat sekaligus turut merasakan banyak orang hidup dalam kesulitan. Tapi saat itu, ia merasa belum menggunakan harta yang dimiliki sebagaimana mestinya. 

Setelah mulai mengikuti berbagai kajian, ia tersadar bahwa ia akan “pulang”. Kesadaran itu menguatkan langkahnya. Hidup bukan sekadar tentang hari ini, tetapi tentang perjalanan panjang menuju akhirat. 

Kini, di usianya yang hampir 63 tahun, Abah merasa hidupnya lebih ringan. Anak-anaknya telah dewasa. Bahkan, mereka kini sudah mampu berqurban sendiri. 

“Abah mau ngapain lagi? Hidup ya gini-gini saja,” katanya sambil tersenyum. 

Sejak kecil, anak-anaknya sudah ikut berqurban. Bukan karena diperintah, tetapi dengan melihat langsung teladan dari ayahnya. Bagi Abah, pendidikan terbaik adalah contoh nyata. 

Pesan Penuh Makna 

“Selagi bisa menolong orang, tolong,” pesan Abah. 

Ia menyadari, tak ada yang benar-benar bisa menjamin amal ibadahnya sempurna. 

“Mungkin shalat kita belum benar, belum khusyuk. Nggak ada jaminan, kan?” tegasnya. 

Karena itu, ia memilih satu jalan yang pasti. Terus menebar manfaat kepada sesama. Salah satunya melalui qurban. Sebab siapa tahu, di akhirat nanti, justru orang-orang yang pernah ditolonglah yang menjadi jalan keselamatannya.  

Baca juga: DT Peduli Sumsel Survei Desa Jungkal sebagai Lokasi Pendistribusian Hewan Qurban 

Penulis: Faiha Athiyah Azhim 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator