Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN - Tanah Bireuen pada Senin (16/2/2026) seolah menjadi saksi bisu dari sebuah penantian panjang yang nyaris pupus. Di teras rumah sederhana, Anna Ihsani Taqwimi berdiri dengan napas yang tertahan menanti pertemuan yang sudah rindukan.
Anna adalah seorang mahasiswi penerima beasiswa di STAI DT yang merantau jauh dari tanah kelahirannya di Aceh. Selama masa studi, impian untuk pulang selalu terbentur pada realitas ekonomi.
"Teh Anna tidak bisa pulang ke Aceh selama kuliah karena kendala ongkos dan biaya lainnya," ungkap Astri Rahmayanti, staf Marcomm DT Peduli yang mendampingi perjalanan Anna.
Empat tahun lamanya ia hanya mampu memeluk suara sang ayah lewat sambungan telepon. Namun, rindu yang ia tabung selama empat tahun nyaris berubah menjadi duka abadi dua bulan lalu.
Petaka itu datang tanpa permisi. Banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kabupaten Bener Meriah, tempat sang ayah, Amir, bermukim. Dalam sekejap, rumah yang menjadi memori masa kecil Anna terkubur di bawah timbunan tanah dan pepohonan tumbang. Amir pun ikut hilang ditelan bencana. Kabar buruk itu sampai ke telinga Anna di perantauan.
Selama dua bulan, hari-hari Anna dipenuhi dengan ketidakpastian yang menyiksa. Pencarian dilakukan ke setiap sudut reruntuhan dan pengungsian, namun hasilnya nihil. Di titik terendah itu, keajaiban muncul. Amir ditemukan selamat di antara kerumunan pengungsi, meski raga dan jiwanya masih menyimpan trauma mendalam akibat bencana tersebut. 
Saat pintu terbuka, waktu seolah berhenti berputar. Di hadapan Anna, berdiri sosok lelaki yang kini tampak lebih renta, lelaki yang dua bulan lalu hampir meninggalkannya lebih dulu.
Tidak ada kalimat puitis. Tidak ada sapaan formal. Momen itu seketika pecah oleh isak tangis yang menyesakkan dada. Anna menghambur ke pelukan ayahnya, menumpahkan segala sesak yang ia simpan selama 1.460 hari perpisahan. Begitupun Amir mendekat merengkuh putrinya. 
“Pas pulang ke Aceh malah ada bencana itu. Ayahnya tinggal di bener meriah, sedangkan ibunya di Bireuen,” ujarnya.
Kisah Anna dan Pak Amir adalah pengingat keras bagi siapa saja yang masih memiliki kemewahan untuk bertemu orang tua setiap hari. Di luar sana, ada banyak keluarga yang tercerai-berai oleh bencana, dan tidak semua mendapatkan kesempatan untuk sebuah akhir yang bahagia. 
Baca juga: Harapan Herawati, Penyintas Banjir Aceh Jelang Ramadhan
Penyunting: Agus ID