Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | GAZA - Langit di Al Wusta, wilayah tengah Jalur Gaza, tampak cerah pada Jumat (15/5/2026). Di tengah hamparan tenda-tenda pengungsian yang berdiri rapat di atas tanah berdebu, dua truk bantuan pangan perlahan memasuki area pengungsian.
Para ibu dan para ayah, serta beberapa remaja keluar dari tenda berdiri berjejer menanti dengan tertib. Hari itu, bukan sekadar bantuan yang datang. Ada harapan yang ikut dibawa di atas dua truk tersebut.

Bantuan disalurkan langsung kepada para pengungsi, baik melalui antrean di sekitar truk maupun diantarkan langsung ke tenda-tenda mereka. Suasana hangat begitu terasa meski Gaza masih menyimpan luka panjang akibat konflik yang tak kunjung reda. Senyum-senyum kecil merekah di wajah para pengungsi saat paket pangan berpindah tangan.
Seorang relawan DT Peduli yang berada di lokasi membuka penyaluran bantuan dengan suara penuh harap.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Atas karunia dan kemurahan Allah, sebuah truk yang memuat paket bantuan pangan telah tiba di tanah Gaza,” ucapnya.

“Truk yang membawa paket-paket bantuan ini tidak hanya berisi makanan di dalamnya, melainkan juga membawa harapan dan kehidupan bagi masyarakat yang telah merasakan kepedulian dan penderitaan,” lanjutnya.
Tidak ada keributan saat pembagian berlangsung. Para pengungsi mengantre dengan tertib menunggu giliran menerima bantuan. Sebagian lainnya menerima paket langsung di depan tenda pengungsian mereka.
Cuaca cerah siang itu seolah menambah hangat suasana. Anak-anak memegang erat paket pangan yang baru diterima. Para ibu tampak beberapa kali mengusap mata mereka. Bukan karena debu Gaza semata, tetapi karena masih ada saudara jauh yang terus mengingat mereka.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara di lembaga DT Peduli atas upaya mereka yang baik dan penuh berkah dalam mendukung saudara-saudara pengungsi di kamp-kamp pengungsian di tengah Jalur Gaza,” tuturnya.
Baginya, bantuan pangan itu bukan hanya soal memenuhi kebutuhan makan beberapa hari ke depan. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi penguat bahwa mereka tidak sendiri menghadapi situasi sulit yang terus berlangsung.
“Semoga Allah membalas mereka dengan segala kebaikan, dan semoga menjadi ladang pahala di timbangan amal kebaikan mereka,” lanjutnya lirih.

“Syukran Mubarik,” ucapnya dengan wajah cerah.
Ucapan singkat itu seakan menjadi perwakilan ribuan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kalimat panjang.
Penyaluran bantuan terus berlanjut hingga truk kedua dibuka. Para relawan kembali bergerak cepat memindahkan paket-paket pangan menuju pusat-pusat pengungsian.
Seorang relawan DT Peduli kembali menyampaikan pesan haru di tengah proses distribusi.
“Truk ini membawa paket-paket di dalamnya, tetapi ini bukan sekadar paket biasa, melainkan membawa harapan dan kehidupan bagi rakyat yang telah merasakan penderitaan dan keterbatasan,” ujarnya.

“Paket-paket ini sekarang sedang kami persiapkan untuk dipindahkan ke pusat-pusat pengungsian dan penampungan. Di pusat-pusat tersebut, tinggallah saudara-saudara kita para pengungsi,” katanya.
Di depan tenda pengungsian, eorang ibu Palestina mengungkapkan rasa syukur dan doanya untuk masyarakat Indonesia setelah menerima paket berisi makanan pokok tersebut.
“Semoga Allah memberkahi rakyat Indonesia, dan semoga Allah membalas kalian dengan segala kebaikan,” ucapnya penuh haru.

Bagi warga Gaza, bantuan itu mungkin hadir dalam bentuk paket pangan. Namun di balik setiap kardus yang dibagikan, tersimpan pesan bahwa kepedulian mampu menembus batas negara, bahasa, bahkan reruntuhan perang. Di Al Wusta hari itu, dua truk bantuan tidak hanya mengantarkan makanan. Mereka mengantarkan harapan, doa, dan cinta dari Indonesia untuk Palestina.
Baca juga: Ramadhan untuk Palestina, DT Peduli Salurkan Dua Truk Bantuan dan Ratusan Tenda
Penyunting: Agus ID