Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Sudah sepuluh tahun lamanya Mulyati menjalani hidup tanpa suami. Entis pergi meninggalkannya ketika anak bungsu mereka masih bersekolah.
“Sudah waktunya. Bapak sama saya beda empat tahun usianya,” ujarnya sambil tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya, saat saya dan tim DT Peduli berkunjung ke rumahnya pada Jumat (17/10/2025) lalu.
Di usianya yang kini menginjak 59 tahun, ia tinggal bersama anak keduanya di sudut Bandung Kulon, di antara gang dan rumah di Kampung Sayuran. Anak keduanya, memutuskan pulang untuk menemaninya.
Mulyati tidak pernah mau berdiam diri. Bersama dengan Entis dia membangun kehidupan. Dia ikut membanting tulang di salah satu perusahaan di Bandung ketika suaminya juga bekerja di perusahaan berbeda.
Dari hasil jerih payahnya, Allah memberi rezeki berupa rumah di daerah Cipageran, Bandung. Sambil bekerja ia juga menjadikan rumah tersebut menjadi toko. Ibunya yang menjadi penjaga usaha pertamanya tersebut. Namun, rumah tersebut harus dijual untuk pengobatan suami dan biaya kuliah anak keduanya, serta membeli rumah yang harus direnovasi di Lembang.
Belum lama ditempati, rumah di Lembang terpaksa ia jual ke tetangga dengan harga lebih murah dari biaya renovasi. Keputuan itu ia ambil untuk kemaslahatan karena tetangganya menuntut terus agar rumahnya dijual. Menurut tetangganya rumah tersebut menghalangi jalan. Ia bersama suami dan anak-anaknya akhirnya pindah ke orangtua Mulyati di Pamoyanan.
Anak ketiganya lahir. Mulyati memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus anak bungsunya. Setelah anaknya sekolah di SMK, Ia mulai berjualan sendiri untuk membantu perekonomian keluarga. Ia membuka usaha Mie Kocok dan Jus. Namun, usahanya gulung tikar.
Mulyati dan keluarga kemudian pindah ke bedeng, mes yang disediakan perusahaan tempat suaminya bekerja. Ia sempat berhenti berjualan hingga suaminya memutuskan pensiun dini di usia 51. Uang pensiun digunakan untuk membeli rumah di Kampung Sayuran yang kini ia tempati.
Sebagian dari dana itu digunakan untuk membuka toko kecil di depan rumah. Harapannya sederhana, yaitu bisa hidup tenang di masa tua, berjualan dari rumah, dan tetap bersama keluarga. Namun takdir berkata lain. Suaminya pergi lebih dulu, selang tiga tahun pindah ke rumah tersebut. Toko yang menjadi harapanpun sepi pembeli.
Mulyati tidak meratapi keadaan. Ikhtiar terus ia lakukan. Ia terus bersemangat menjemput rezeki dengan berjualan nasi kuning, namun kembali berujung gulung tikar. Tidak berhenti di sana, ia kemudian mencoba peruntungan dengan berjualan Seblak. Lalu datanglah masa yang paling sulit, yakni pandemi Covid-19. Jualan pun sepi, pelanggan berhenti membeli, dan modal habis.
“Ibu mah pernah jualan jus, nasi kuning. Seblak juga pernah. Dulu juga pernah jualan mie kocok,” kenangnya diiringi tawa kecil.
Di tengah kebingungan saat covid melanda dan usaha yang terhenti, Mulyati mendapatkan bantuan modal usaha kepada DT Peduli. Mulyati membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk usahanya. Dengan modal sebesar dua juta rupiah, Ia memulai bisnis minuman kekinian. Dari situlah lahir usaha yang bernama nama Inum Drink.
“Namanya Inum Drink. Itu si Aa (anaknya) da yang ngasih nama,” katanya sambil tetap diiringi senyum.
Usaha kecil itu berkembang pesat. Di tahun pertama, tepatnya awal 2020, penjualan Inum Drink mencapai puncak tertingginya. Dalam sehari, omzet bisa mencapai dua juta rupiah.
“Alhamdulillah, waktu itu rame pisan,” kenangnya dengan di mata berbinar.

“Anak ibu yang masukin ke online. Kalau ada yang beli online ya ibu ke anak ibu,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Selain berjualan secara daring, Mulyati tetap setia berjualan luring di depan rumahnya. Untuk pelanggan sekitar, ia menyediakan varian minuman yang lebih sederhana dan terjangkau.
“Mung Inum Drink anu lana, berkat modal awal yang berkah dari DT (Peduli) dan lain-lain,” ungkapnya. (Hanya Inum Drink yang bertahan lama)
Setelah lima tahun berjalan, usaha Inum Drink masih bertahan. Penjualannya memang tidak sebesar saat masa awal pandemi, namun tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata penghasilannya sekitar Rp300 ribu per hari.
“Alhamdulillah, buat sehari-hari mah cukup,” tuturnya penuh syukur.
Ia meyakini, pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang tepat. Ketika ditanya, apakah ia merasa berat menjalani semuanya, dengan tegas sambil tertawa kecil, ia mengaku hidupnya sama sekali tidak merasa berat. Ia mengungkapkan, dengan memasrahkan diri kepada Allah, semua terasa cukup.
“Ya pasrah aja ke Allah, kan rezeki itu ada yang ngurus,” ujarnya lembut dengan mata berbinar. Kalimat sederhana yang menggambarkan keyakinan mendalam akan kekuasaan Sang Pemberi Rezeki.
Menurutnya salah satu pertolongan Allah itu datang ketika bantuan dari DT Peduli datang. “Alhamdulillah berysukur, terima kasih sudah dikasih. Ada jalannya,” tambahnya.

“Maunya ada pengembangan usaha untuk meningkatkan daya beli buat nabung. Namanya kan cabang, namanya juga Inum Drink. Semoga ada rezekinya,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Di balik gang kecil di Cijerah, di rumah sederhana yang catnya mulai memudar, Mulyati terus menapaki hari dengan ikhtiar dan doa. Setiap langkahnya adalah cermin keteguhan hati seorang ibu yang tak pernah menyerah pada hidup.
Ia mungkin hanya seorang perempuan sederhana, tapi darinya kita belajar untuk terus berjuang dan berikhtiar sambil memasrahkan semuanya kepada Allah. Baginya pasrah bukan berarti berhenti berusaha, namun sebaliknya. Ia harus terus berusaha dan yakin bahwa Allah sudah mengatur segalanya.
Baca juga: Anak Buruh Pabrik Itu Kini Jadi Pemimpin
Penulis: AID
Editor: Agus ID