Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | RAFAH – Di antara puing-puing bangunan yang runtuh dan tenda-tenda sederhana yang menjadi tempat berlindung ribuan keluarga, suasana Gaza, pada Sabtu (1/11/2025) itu terasa berbeda. Ada senyum yang kembali muncul. Ada binar harapan yang kembali menyala. Setelah berbulan-bulan dilanda perang dan kelaparan, warga Gaza menyambut dengan haru kedatangan bantuan kemanusiaan berupa 24 ton tepung yang disalurkan oleh DT Peduli bersama Alkhair Foundation (AKF).

Di sudut-sudut tenda, anak-anak menatap dengan mata berbinar. Ibu-ibu tersenyum lebar dan penuh haru. Mereka tahu, karung tepung itu bukan sekadar bahan makanan, melainkan tanda kehidupan, tanda bahwa dunia belum melupakan Gaza.
“Hari ini, kami menerima truk pertama yang memuat tepung setelah perang berhenti dan bantuan mulai masuk ke Jalur Gaza,” ujar Mohammad Nabahin, Relawan DT Peduli saat melepas truk dari Rafah, Mesir.
“Truk ini akan segera kami kirim ke pusat-pusat penampungan yang menampung ribuan keluarga pengungsi dan korban yang terluka, keluarga yang selama masa perang telah kehilangan haknya atas makanan dan kebutuhan dasar kehidupan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bagi warga Gaza, tepung kini menjadi barang yang amat berharga. “Harganya pernah mencapai ratusan dolar di masa perang. Karena itu, karung tepung ini benar-benar dianggap sebagai harta yang sangat berharga bagi mereka,” tuturnya penuh rasa syukur.

“Dari bumi Gaza, kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan berdonasi melalui DT Peduli — kepada rakyat Indonesia yang dermawan dan mulia, yang telah mendukung dan membantu rakyat Gaza sepanjang masa penderitaan dan ujian ini. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan,” ucap Nabahin lirih.
Bantuan tepung kemanusiaan ini bukan datang begitu saja. Di balik karung-karung putih yang kini tersusun di Gaza, ada kisah panjang perjuangan, kesabaran, dan doa yang tiada henti.
“Perlu diketahui bahwa truk tepung kemanusiaan ini adalah satu dari program yang kami ikhtiarkan saat gencatan senjata awal tahun 2025 lalu,” jelas F. Arif, Asisten Manager untuk Urusan Kemanusiaan Internasional DT Peduli.
Saat itu, tim DT Peduli telah menyiapkan dua truk bantuan dan ratusan tenda empat musim yang akan dikirim melalui jalur Rafah, Mesir. Namun, takdir berkata lain.
“Qadarullah, militer Zionis Israel secara mendadak melakukan serangan besar-besaran terhadap Jalur Gaza dan mengakhiri gencatan senjata,” tutur Arif.

“Kami percaya, di atas segala hambatan dan tantangan, sabar dan doa dari seluruh donatur adalah senjata terbaik untuk melawan blokade. Alhamdulillah wa syukrulillah, semua itu terjawab melalui berita gembira yang kami terima di tanah air pada tanggal 3 November lalu. Dari sekian banyak bantuan yang tertahan, 24 ton tepung kemanusiaan akhirnya berhasil masuk ke Jalur Gaza pada 1 November 2025 ini,” lanjut Arif.
Bagi kebanyakan orang di dunia, tepung hanyalah bahan dasar roti, kue, atau makanan sehari-hari. Namun bagi warga Gaza, tepung adalah simbol kehidupan, bahan dasar untuk roti yang mengganjal lapar, makanan utama yang menjaga anak-anak tetap bertahan di tengah krisis.
Suara tawa kecil anak-anak terdengar di antara debu reruntuhan. Di tengah segala keterbatasan, mereka masih bisa berlarian, masih bisa tersenyum. Semua itu berkat kepedulian yang datang dari ribuan kilometer jauhnya rakyat Indonesia yang tak pernah lelah berbagi.

“Terima kasih atas kepercayaan para donatur. Atas pertolongan Allah, kita yakin bisa terus mendukung Palestina,” tegas Arif.
Baca juga: Detik-Detik Konvoi Lima Truk Bantuan Melaju Menuju Gaza
Editor: Agus ID