Kita seringkali terjebak pada
pusar keluh kesah yang menyedot ke dalam umbalan kekecewaan tak berujung. Rasa
tak puas, cemas, khawatir terhadap masa depan, berkelindan dengan kekesalan
terhadap pengalaman yang telah dijalankan.
Semua ini memuncak dalam
sebait kemarahan yang dilisankan, atau pun meletup dalam letusan vulkanis yang
masif dan emosional. Dampaknya, meninggalkan lubang kaldera teramat besar di
hati dan jiwa kita.
Tahukah bahwa hati dan jiwa
yang terluka, bisa menjadi danau penampung air mata? Atau, bisa pula lelehan
magma kecewa itu mengalir secara efusif dan keluar dalam bentuk tekanan
kejiwaan.
Maka, saat kita gagal
mengelola masalah dan menata diri, situasi hati akan terus terdistorsi bahkan
terdestruksi. Efeknya langsung terasa: hidup tidak lagi indah, hadirnya keluh
kesah dan putus asa sehingga kelelahan lahir batin pun melanda.
Ketika gairah hidup mulai
surut, apatisme dan rasa sepi mulai menggerogoti, dalam panduan diagnosis
ICD-10, ada kemungkinan kita telah memasuki fase depresi. Lalu, apa itu depresi? Bagaimana pula
ciri-cirinya?
Depresi, Kategori dan Ciri-cirinya
Depresi adalah salah satu produk dari
kecemasan kronis dan ketakutan yang berkepanjangan. Hadir dalam beberapa
kategori, antara lain: depresi mayor, depresi persisten, gangguan bipolar, dan
depresi psikotik.
1. Depresi Mayor
Ini adalah jenis depresi yang membuat penderitanya merasa
sedih dan putus asa sepanjang waktu. Gejalanya bisa berlangsung berminggu-minggu sampai
berbulan-bulan, antara lain: (a) suasana hati yang murung dan suram, (b)
kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas lain yang sebelumnya disukai, (c)
perubahan berat badan.
Kemudian, (d) hadirnya gangguan tidur,
(e) sering merasa lelah dan kurang berenergi, (f) selalu merasa bersalah dan
tidak berguna, (g) sulit berkonsentrasi, dan (h) kecenderungan untuk bunuh
diri.
2. Depresi Persisten
Depresi persisten atau distimia adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi depresi kronis. Gejala yang
ditimbulkan sama dengan depresi pada umumnya, hanya saja depresi jenis ini
berlangsung lama bahkan hingga bertahun-tahun.
Seseorang dapat disebut menderita
depresi persisten apabila ia merasakan gejala depresi yang menetap setidaknya
dua bulan secara terus menerus dan hilang timbul dalam waktu dua tahun.
3.
Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar didefinisikan sebagai gangguan mental
yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat drastis. Seseorang yang
memiliki gangguan bipolar bisa merasa sangat senang dan berenergi pada suatu
waktu, tetapi tiba-tiba menjadi sedih dan depresi.
Pada saat berada dalam fase senang dan berenergi (mania
atau hipomania), penderita bipolar akan mengalami sejumlah gejala: (a) optimis
dan tidak bisa diam, (b) sangat berenergi dan lebih bersemangat, (c) percaya
diri yang berlebihan. (d) susah tidur atau merasa tidak perlu tidur, (e) nafsu
makan yang meningkat, dan (f) banyak pikiran.
Setelah berada dalam fase mania atau hipomania untuk
beberapa waktu, orang yang memiliki gangguan bipolar biasanya akan masuk ke
fase mood yang normal, lalu kemudian masuk ke fase depresi. Perubahan mood ini
bisa terjadi dalam waktu hitungan jam, hari, atau berminggu-minggu.
4.
Depresi Psikotik
Depresi psikotik ditandai dengan gejala depresi berat
yang disertai adanya halusinasi atau gangguan psikotik. Penderita depresi jenis
ini akan mengalami gejala depresi dan halusinasi, yaitu melihat atau mendengar
sesuatu yang sebetulnya tidak nyata.
Tipe depresi ini bisa menimpa siapa saja. Hanya saja,
orang tua lebih rentan terkena depresi psikotik. Walau demikian, orang yang
masih muda pun bisa saja mengalaminya. Selain usia lanjut, riwayat trauma
psikologis yang berat pada masa kecil juga dikatakan dapat meningkatkan risiko
seseorang untuk mengalami depresi psikotik.
Pemantik Hadirnya Depresi
Faktor pemantik depresi sebenarnya cukup beragam, mulai
dari adanya pengaruh aspek genetik, seperti adanya dinamika ekspresi dari gen
MTHFR, pola pengasuhan, pajanan/paparan budaya, juga pengembangan kapasitas
resiliensi yang amat banyak dipengaruhi oleh pola pendidikan dan model
interaksi di keluarga dan masyarakat.
Pada intinya depresi dapat terjadi pada siapa saja yang
mendapat tekanan multidimensi sehingga mengalami kondisi kronis kejiwaan yang
tidak sepenuhnya tertangani.
Bagaimana Solusinya?
Formula
KIKI dapat kita coba hayati. Bahkan, jika memungkinkan kita bisa menerapkan dalam keseharian. KIKI
adalah konaah, ikhlas, kanyaah, dan istiqomah.
Konaah atau qana’ah secara definisi adalah sikap rela
menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya, serta menjauhkan diri
dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat
qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang melekat pada
dirinya adalah kehendak Allah Ta’ala.
Lalu dipadukan dengan keikhlasan dan kanyaah, yang dalam
bahasa Sunda memiliki makna amat mendalam: cinta yang merawat dan memelihara.
Cinta yang menumbuhkan sebagaimana kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Cinta
seperti matahari yang senantiasa sabar menyinari tanpa pernah berharap kembali.
Inilah cinta yang menautkan hati dalam getar frekuensi yang memudahkan
kita untuk saling berbagi secara konsisten atau istiqomah. Karena, semua yang
melekat pada hidup dan diri ini hanyalah amanah yang dititipkan Allah. Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes
Ditulis Oleh:
Administrator