Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Formula ‘KIKI’ untuk Menjaga Diri dari Depresi
 

 

Formula ‘KIKI’ untuk Menjaga Diri dari Depresi

Dipublish pada:

28-Nov-23
Kita seringkali terjebak pada pusar keluh kesah yang menyedot ke dalam umbalan kekecewaan tak berujung. Rasa tak puas, cemas, khawatir terhadap masa depan, berkelindan dengan kekesalan terhadap pengalaman yang telah dijalankan.   Semua ini memuncak dalam sebait kemarahan yang dilisankan, atau pun meletup dalam letusan vulkanis yang masif dan emosional. Dampaknya, meninggalkan lubang kaldera teramat besar di hati dan jiwa kita.   Tahukah bahwa hati dan jiwa yang terluka, bisa menjadi danau penampung air mata? Atau, bisa pula lelehan magma kecewa itu mengalir secara efusif dan keluar dalam bentuk tekanan kejiwaan.   Maka, saat kita gagal mengelola masalah dan menata diri, situasi hati akan terus terdistorsi bahkan terdestruksi. Efeknya langsung terasa: hidup tidak lagi indah, hadirnya keluh kesah dan putus asa sehingga kelelahan lahir batin pun melanda.   Ketika gairah hidup mulai surut, apatisme dan rasa sepi mulai menggerogoti, dalam panduan diagnosis ICD-10, ada kemungkinan kita telah memasuki fase depresi. Lalu, apa itu depresi? Bagaimana pula ciri-cirinya?   Depresi, Kategori dan Ciri-cirinya   Depresi adalah salah satu produk dari kecemasan kronis dan ketakutan yang berkepanjangan. Hadir dalam beberapa kategori, antara lain: depresi mayor, depresi persisten, gangguan bipolar, dan depresi psikotik.   1.      Depresi Mayor   Ini adalah jenis depresi yang membuat penderitanya merasa sedih dan putus asa sepanjang waktu. Gejalanya bisa berlangsung berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, antara lain: (a) suasana hati yang murung dan suram, (b) kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas lain yang sebelumnya disukai, (c) perubahan berat badan.   Kemudian, (d) hadirnya gangguan tidur, (e) sering merasa lelah dan kurang berenergi, (f) selalu merasa bersalah dan tidak berguna, (g) sulit berkonsentrasi, dan (h) kecenderungan untuk bunuh diri.   2.      Depresi Persisten   Depresi persisten atau distimia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi depresi kronis. Gejala yang ditimbulkan sama dengan depresi pada umumnya, hanya saja depresi jenis ini berlangsung lama bahkan hingga bertahun-tahun.   Seseorang dapat disebut menderita depresi persisten apabila ia merasakan gejala depresi yang menetap setidaknya dua bulan secara terus menerus dan hilang timbul dalam waktu dua tahun.    3.      Gangguan Bipolar   Gangguan bipolar didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat drastis. Seseorang yang memiliki gangguan bipolar bisa merasa sangat senang dan berenergi pada suatu waktu, tetapi tiba-tiba menjadi sedih dan depresi.   Pada saat berada dalam fase senang dan berenergi (mania atau hipomania), penderita bipolar akan mengalami sejumlah gejala: (a) optimis dan tidak bisa diam, (b) sangat berenergi dan lebih bersemangat, (c) percaya diri yang berlebihan. (d) susah tidur atau merasa tidak perlu tidur, (e) nafsu makan yang meningkat, dan (f) banyak pikiran.   Setelah berada dalam fase mania atau hipomania untuk beberapa waktu, orang yang memiliki gangguan bipolar biasanya akan masuk ke fase mood yang normal, lalu kemudian masuk ke fase depresi. Perubahan mood ini bisa terjadi dalam waktu hitungan jam, hari, atau berminggu-minggu.   4.      Depresi Psikotik   Depresi psikotik ditandai dengan gejala depresi berat yang disertai adanya halusinasi atau gangguan psikotik. Penderita depresi jenis ini akan mengalami gejala depresi dan halusinasi, yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang sebetulnya tidak nyata.   Tipe depresi ini bisa menimpa siapa saja. Hanya saja, orang tua lebih rentan terkena depresi psikotik. Walau demikian, orang yang masih muda pun bisa saja mengalaminya. Selain usia lanjut, riwayat trauma psikologis yang berat pada masa kecil juga dikatakan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami depresi psikotik.   Pemantik Hadirnya Depresi   Faktor pemantik depresi sebenarnya cukup beragam, mulai dari adanya pengaruh aspek genetik, seperti adanya dinamika ekspresi dari gen MTHFR, pola pengasuhan, pajanan/paparan budaya, juga pengembangan kapasitas resiliensi yang amat banyak dipengaruhi oleh pola pendidikan dan model interaksi di keluarga dan masyarakat.    Pada intinya depresi dapat terjadi pada siapa saja yang mendapat tekanan multidimensi sehingga mengalami kondisi kronis kejiwaan yang tidak sepenuhnya tertangani.   Bagaimana Solusinya?   Formula KIKI dapat kita coba hayati. Bahkan, jika memungkinkan kita bisa menerapkan dalam keseharian. KIKI adalah konaah, ikhlas, kanyaah, dan istiqomah.   Konaah atau qana’ah secara definisi adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya, serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang melekat pada dirinya adalah kehendak Allah Ta’ala.   Lalu dipadukan dengan keikhlasan dan kanyaah, yang dalam bahasa Sunda memiliki makna amat mendalam: cinta yang merawat dan memelihara. Cinta yang menumbuhkan sebagaimana kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Cinta seperti matahari yang senantiasa sabar menyinari tanpa pernah berharap kembali.   Inilah cinta yang menautkan hati dalam getar frekuensi yang memudahkan kita untuk saling berbagi secara konsisten atau istiqomah. Karena, semua yang melekat pada hidup dan diri ini hanyalah amanah yang dititipkan Allah. Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes

Ditulis Oleh:

Administrator