Dipublish pada:
Sungguh, di dalam salat terkandung
kumpulan doa terbaik yang layak dipanjatkan seorang hamba kala berkomunikasi
dengan Rabbnya. Karena, tidak dikatakan sah salat seorang hamba tanpa ada doa
di dalamnya.
Jika demikian keadaannya, salat adalah ‘pakaian’ yang selalu melekat di tubuh saat kita bepergian di muka bumi. Doa pun, sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari salat, menjadi senjata andalan sekaligus media komunikasi terbaik bagi seorang muslim.
Dan, komunikasi kita dengan Allah lewat salat, di beberapa tempat di muka bumi ini terasa jauh lebih nikmat. Maka, ada sejumlah tempat yang merupakan ‘gerbang dimensi’, yang mana salat dan munajat kita terasa begitu legit dan menghanyutkan hati.
Boleh jadi, kita selama ini tidak pernah menjadikan salat sebagai ‘perjalanan wisata’ sehingga kehilangan sensasi travelingnya. Padahal, salat adalah perjalanan batin yang sensasional. Sungguh!
Salat di Perbukitan Muzdalifah
Salat tersyahdu yang pernah saya alami adalah Salat Subuh beratapkan langit pagi di Perbukitan Muzdalifah. Pagi itu tanggal 10 Dzulhijjah yang dinginnya menusuk tulang, bersama puluhan jemaah berpakaian ihram, saya berdiri berbanjar membentuk shaf rapat di lereng sebuah bukit pasir kecil.
Suara azan yang dilantunkan seorang kakek, yang sesekali seolah tercekat di tenggorokan, semakin menambah tebalnya rasa kerinduan dan keharuan. Ketika itu, seolah-olah Allah mendengar setiap doa lirih yang terucap dari bibir kami secara sangat pribadi. Dia terasa dekaaat sekali...!
Hembusan angin gurun dari arah Padang Arafah membawa aroma kedamaian, lembut membelai kulit kami yang terbuka. Dinginnya tidak menggigilkan kulit, tetapi menggetarkan hati dan mengguncang-guncang kesadaran kami.
‘Curhat’ Subuh di Muzdalifah itu begitu membekasnya di jiwa saya. Saya tidak akan pernah terlupa bahwa di suatu pagi, di tanah suci, saya pernah berdialog dengan Allah Azza wa Jalla langsung tanpa perantara!
Salat di Atas Bukit Mina
Salat Isya di atap bedeng penampungan di Bukit Mina melahirkan sensasi luar biasa. Bedeng itu terletak di lereng curam bukit berbatu yang gersang. Dari atas atapnya terhampar pemandangan jumrah dan lautan kemah para jemaah haji yang bertebaran.
Saat itu seolah saya melihat pemandangan di Padang Masyhar, di mana kelak kita semua akan dibangkitkan. Sensasi Padang Masyhar itu menghantarkan saya pada sebuah salat yang menjadi ‘berat’ dengan rasa takut akan segala dosa yang pernah dilakukan. Saya tersadar, dalam rentang usia yang belum seberapa ini, saya telah menumpuk begitu banyak dusta dan kesalahan yang disengaja.
Angin hangat yang berhembus kencang dari arah Jumrah Aqabah seolah membawa pesan akan panasnya api Jahanam, hawa syaithaniyah yang selama ini saya hirup dengan suka hati dan menerjemahkannya justru sebagai angin surgawi.
Salat di Depan Multazam
Pengalaman lain yang tidak kalah membekasnya adalah ketika salat malam di hadapan Multazam, sebuah tempat mustajab di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Malam itu jutaan belalang ber-thawaf mengelilingi Kabah dalam sebuah formasi yang persis dengan thawaf-nya manusia. Mereka berbaur dengan ngengat dan ribuan burung layang-layang yang memutari Ka’bah melawan arah jarum jam.
Saat itu saya tertidur di pelataran marmer yang tidak seberapa jauh dari Maqam Ibrahim. Sejumlah belalang yang melintas membangunkan dan mengguncang kesadaran saya yang seolah dibangkitkan dari tidur di alam kubur (barzakh). Tidak terperi herannya saya melihat thawaf-nya para binatang itu.
Saya pun bergegas menunaikan salat malam. Kala bersujud, nikmat terasa. Itulah sujud terindah yang pernah saya alami. Sebuah sujud dengan kesadaran penuh bahwa Allah Al-Khaliq sungguh benar keberadaan-Nya, menyejukkan jiwa-jiwa yang lelah dan kehausan.
Sosok Ka’bah yang hitam menjulang saat itu seolah tampak pudar. Ketika saya ber-istilam dan menatap lurus ke depan seolah Ka’bah membuka dan menjadi sebuah pintu menuju cahaya.
Salat di Masjid Nabawi
Pada suatu pagi yang dingin saya mendapat shaf yang nyaris hampir paling belakang di Masjid Nabawi. Saya bahkan tidak bisa melihat imam. Akan tetapi, saat itu sebuah perasaan aneh mengalir, seolah Rasulullah-lah yang menjadi imam kami pada pagi itu.
Setengah sadar saya bersujud gemetar. Kerinduan itu pun lalu memuncak dengan berjuta harap akan sebuah pertemuan. Ya, Rasulullah di masjidmu ini sebuah kedamaian kau tanamkan di dalam hati kami!
Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar