Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Syukur Buka Puasa di Bilik Sempit Alue Kuta
 

 

Syukur Buka Puasa di Bilik Sempit Alue Kuta

Dipublish pada:

25 Feb 2026


DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Matahari mulai condong ke ufuk barat di langit Alue Kuta, Jumat (20/02/2026). Di sebuah kompleks hunian sementara yang kini menjadi tempat bernaung ratusan jiwa, waktu seolah berjalan lebih lambat.  

Bagi mereka yang beruntung, Ramadhan mungkin identik dengan keriuhan memilih menu takjil favorit. Namun, bagi para penyintas di pengungsian ini, segelas air putih untuk membasahi kerongkongan yang kering adalah nikmat yang tak terlukiskan. 

Sore itu, suasana pengungsian yang biasanya hening oleh sisa-sisa trauma, mendadak berubah warna. Tim DT Peduli hadir membawa setitik harapan dalam bentuk paket berbuka puasa. 

buka puasa di alue kuta 3.JPG 142.63 KB
Anak-anak yang biasanya langsung bergegas menuju tempat pengajian, kali ini diajak berkumpul. Ada tawa yang pecah, ada permainan sederhana yang setidaknya mampu menghalau sejenak ingatan tentang pahitnya kehilangan akibat banjir bandang tiga bulan lalu. 

Binar Mata Muhammad Alfi 

Di antara kerumunan bocah-bocah riang itu, nampak seorang anak laki-laki dengan tatapan polos.  

"Muhammad Alfi namanya," ucapnya membetulkan panggilan saat disapa. Meski belum kuat menjalankan ibadah puasa seharian penuh, Alfi tak mampu menyembunyikan binar matanya saat jemari kecilnya menggenggam kotak makanan. 

"Enak," jawabnya singkat namun tulus saat ditanya mengenai menu sore itu. 

buka puasa di alue kuta 2.JPG 128.27 KB
Di dalam kotak paket puasa tersebut, tersaji nasi dengan ayam goreng tepung yang renyah, menjadi kemewahan di tengah keterbatasan. Bagi Alfi, makanan itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan perayaan kecil di tengah hidup sulit. 

Sesak di Balik Bilik Hunian 

Ramadhan di pengungsian selalu memiliki dua sisi mata uang, yaitu syukur yang mendalam dan rindu yang menyayat. Saat anak-anak riuh bercengkerama di aula, beberapa orang dewasa memilih membawa paket makanan mereka kembali ke bilik hunian. Di depan pintu-pintu kayu darurat, dengan cahaya lampu seadanya, mereka menanti adzan Maghrib. 

Seorang ibu, salah satu penyintas, nampak terpaku menatap hidangan di depannya. Matanya berkaca-kaca.  

"Sedih... sedih sekali," bisiknya lirih.  

Baginya, Ramadhan tahun ini adalah ujian yang nyata. Bayang-bayang rumah yang kini telah rata dengan tanah kembali melintas setiap kali ia menyuap nasi. 

"Rumah kami sudah tidak ada lagi," ungkapnya dengan suara bergetar.  

Kini, ia harus merajut sisa hidup bersama suami dan anak-anak di dalam bilik sempit yang jauh dari kata layak. Jika orang lain mengharapkan baju baru atau hidangan mewah saat Idulfitri nanti, doanya jauh lebih sederhana namun mendasar. 

"Semoga cepat punya rumah sendiri," ucapnya sambil mengusap air mata. 

Meneguhkan Kepedulian 

Melihat mereka menikmati setiap suapan dengan penuh khidmat adalah sebuah pengingat untuk tidak mengeluh atas hal-hal kecil. Menu hari itu mungkin sederhana, namun di Alue Kuta, ia menjadi simbol bahwa mereka tidak sendirian. 

buka puasa di alue kuta 4.JPG 124.31 KB
Kepedulian para donatur adalah alasan di balik senyum Alfi dan kekuatan bagi ibu yang sedang berjuang melawan sedihnya. Para donatur yang meneguhkan kepedulian adalah perpanjangan tangan kasih sayang Allah untuk memastikan bahwa di sudut-sudut pengungsian yang sunyi, hangatnya Ramadhan tetap bisa dirasakan. 

Baca juga: Mimpi Sederhana Nazwa di Balik Dinding Triplek Alue Kuta 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator