Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Matahari mulai condong ke ufuk barat di langit Alue Kuta, Jumat (20/02/2026). Di sebuah kompleks hunian sementara yang kini menjadi tempat bernaung ratusan jiwa, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Bagi mereka yang beruntung, Ramadhan mungkin identik dengan keriuhan memilih menu takjil favorit. Namun, bagi para penyintas di pengungsian ini, segelas air putih untuk membasahi kerongkongan yang kering adalah nikmat yang tak terlukiskan.
Sore itu, suasana pengungsian yang biasanya hening oleh sisa-sisa trauma, mendadak berubah warna. Tim DT Peduli hadir membawa setitik harapan dalam bentuk paket berbuka puasa. 
Di antara kerumunan bocah-bocah riang itu, nampak seorang anak laki-laki dengan tatapan polos.
"Muhammad Alfi namanya," ucapnya membetulkan panggilan saat disapa. Meski belum kuat menjalankan ibadah puasa seharian penuh, Alfi tak mampu menyembunyikan binar matanya saat jemari kecilnya menggenggam kotak makanan.
"Enak," jawabnya singkat namun tulus saat ditanya mengenai menu sore itu. 
Ramadhan di pengungsian selalu memiliki dua sisi mata uang, yaitu syukur yang mendalam dan rindu yang menyayat. Saat anak-anak riuh bercengkerama di aula, beberapa orang dewasa memilih membawa paket makanan mereka kembali ke bilik hunian. Di depan pintu-pintu kayu darurat, dengan cahaya lampu seadanya, mereka menanti adzan Maghrib.
Seorang ibu, salah satu penyintas, nampak terpaku menatap hidangan di depannya. Matanya berkaca-kaca.
"Sedih... sedih sekali," bisiknya lirih.
Baginya, Ramadhan tahun ini adalah ujian yang nyata. Bayang-bayang rumah yang kini telah rata dengan tanah kembali melintas setiap kali ia menyuap nasi.
"Rumah kami sudah tidak ada lagi," ungkapnya dengan suara bergetar.
Kini, ia harus merajut sisa hidup bersama suami dan anak-anak di dalam bilik sempit yang jauh dari kata layak. Jika orang lain mengharapkan baju baru atau hidangan mewah saat Idulfitri nanti, doanya jauh lebih sederhana namun mendasar.
"Semoga cepat punya rumah sendiri," ucapnya sambil mengusap air mata.
Melihat mereka menikmati setiap suapan dengan penuh khidmat adalah sebuah pengingat untuk tidak mengeluh atas hal-hal kecil. Menu hari itu mungkin sederhana, namun di Alue Kuta, ia menjadi simbol bahwa mereka tidak sendirian. 
Baca juga: Mimpi Sederhana Nazwa di Balik Dinding Triplek Alue Kuta
Penyunting: Agus ID