Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Deretan hunian dari kayu, bambu, dan terpal yang rapat, serta debu yang beterbangan menjadi pemandangan harian di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh. Tempat ini adalah rumah sementara yang panjang bagi para pengungsi Rohingya.
Di tengah segala keterbatasan hidup sebagai pengungsi yang tidak memiliki akses pekerjaan tetap, Hari Raya Iduladha sering kali lewat tanpa kebahagiaan menikmati daging qurban. Namun, suasana Iduladha tahun ini, Kamis (28/52026) hingga keesokan harinya terasa sedikit berbeda.
Gema takbir yang bersahut-sahut di dalam kamp membawa setitik kebahagiaan. DT Peduli kembali hadir di tengah-tengah mereka, mengantarkan amanah qurban dari masyarakat Indonesia untuk menjaga nyala harapan di tanah pengungsian.
Sejak hari pertama Iduladha hingga hari tasyrik berikutnya, tim DT Peduli di Bangladesh bergerak cepat. Proses penyembelihan dilakukan di area aman Cox’s Bazar dengan standar syar'i dan higienitas yang ketat. Sebanyak 15 ekor sapi dan 50 ekor domba dipersiapkan.

"Kami berada di kamp Rohingya bersama hewan qurban untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang sangat miskin dan tidak berdaya setelah terusir dari Rakhine. Atas nama mereka, kami mengucapkan jazakumullah khair kepada para donatur di Indonesia," ujar salah seorang relawan DT Peduli yang bertugas di lapangan.
Antrean panjang yang tertib segera mengular. Wajah-wajah lelah para wanita, pria paruh baya, hingga anak-anak kecil seketika berbinar menatap kantong-kantong daging yang dibagikan. Sebanyak 2.250 pengungsi merasakan kebahagiaan Hari Raya Qurban.
Kebahagiaan itu tumpah dalam ucapan syukur yang sederhana namun mendalam. Sembari menunjukan paket dagingnya, seorang ibu dengan mata berbinar berujar singkat, “Iya, saya senang. Terima kasih, Alhamdulillah.”

Jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Bangladesh runtuh seketika oleh kepedulian. Senyuman terus merekah di sela-sela tenda pengungsian, menyambut kepedulian dari Nusantara.
Baca juga: Senyum Lebaran Qurban dari Bumi Kamboja
Penyunting: Agus ID