Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Rika, Gadis Kuat di Tengah Kesulitan
 

 

Rika, Gadis Kuat di Tengah Kesulitan

Dipublish pada:

27 Oct 2025


DTPEDULI.ORG | SUMEDANG – Usianya masih belia. Hanya 16 tahun. Namun, Rika Nurfitria memutuskan bekerja ke kota, demi menjemput rupiah untuk membantu perekonomian keluarga. Bukan tidak mau, dia bersekolah. Keterbatasan ekomomi memaksanya harus rela bekerja agar dapur rumahnya tetap berasap oleh Aroma masakan. Pendapatan ibu dan ayah tirinya yang bekerja serabutan seringkali tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Nahas, kerja kerasnya harus terhenti karena kecelakaan motor. Tangan dan kaki kanannya patah. Bagian perut kena benturan keras dan mengalami luka di dalam. Tempurung kepala bagian depan retak. Ia terkapar, langsung tak sadarkan diri. 

Rika dilarikan ke rumah sakit di Bandung karena rumah sakit di Sumedang tak mampu menangani. Operasi demi operasi dijalani. Gips harus dipasang di tangan, kaki, dan kepala. Darah mengucur ke kelopak mata sehingga operasi untuk pembersihannya juga harus dilakukan. Dua bulan Rika tinggal di rumah sakit hingga dia diizinkan pulang ke rumahnya di Kp. Sirah Cipelang RT. 05/ 04, Kel. Cipamekar, Kec. Canggeang, Kab. Sumedang. 

Biaya operasi ditanggung oleh Asuransi dari Jasaraharja. Namun, biaya sehari-hari, ongkos, dan sebagian obat masih harus dicari. Di tengah kondisi yang masih butuh pertolongan Rika dan keluarga makin tersungkur berbagai kebutuhan. Ia harus bolak-balik Bandung-Sumedang untuk pemeriksaan lanjutan. Setiap hari antara 2022 ke 2023 menjadi waktu yang lebih sulit dari biasanya bagi Rika dan keluarga.

rika gadis kuat.JPG 212.74 KB
Di balik kesulitan itu, Rika pasrah. Ia menyerahkan semua kepada Allah Taala. Jika diberi kesempatan hidup, ia yakin Allah akan memberikannya kesembuhan. Jika memang harus pergi menyusul ayahnya yang pergi lebih dulu ketika dia SD kelas tiga, Ia sama sekali tidak keberatan. Enah, Ibu Rika, hanya bisa berdoa, mengharapkan yang terbaik dari Allah Taala. 

Ketika Rika sadar dirinya masih diberi kesempatan untuk bertahan. Rika optimis bahwa Allah akan memberikannya kesembuhan. Kehidupan yang makin sulit karena kecelakaan pantang membuatnya putus asa. Proses pengobatan yang melelahkan dia jalani dengan penuh semangat. Doa dan afirmasi bahwa dia kuat dan akan sembuh terus ia lafalkan setiap hari. 

“Karena Ada Allah. Kalau aku, serahkan aja ke Allah. Ini sudah takdir, nanti juga sembuh. Aku bilang ke diri sendiri, kamu harus kuat. Bapak juga dulu kan kuat, jatuh dari pohon terus sembuh, jatuh lagi terus sembuh. Tapi bapak sudah meninggal waktu aku kelas tiga SD,” ucapnya penuh semangat saat ditanya alasan bisa sekuat itu, saat tim DT Peduli bersilaturahmi ke rumahnya, Selasa (21/10/2025) siang. 

Galang Kebaikan untuk Rika 

Pertemuan Rika dengan DT Peduli terjadi pada 2023. Saat itu, Rika masih membutuhkan operasi kerena terjadi infeksi pada hasil operasi sebelumnya. Rika masih membutuhkan biaya untuk bolak-balik Sumedang-Bandung. Wahyono, Staf Program DT Peduli Bandung datang melakukan asesmen, kemudian DT Peduli mengajak sahabat peduli berdonasi untuk membantu Rika. 

Ria mengungkapkan, semua pertolongan yang datang untuknya, termasuk kepedulian sahabat peduli merupakan pertolongan Allah agar dia bisa sembuh kembali. Agar dia bisa kembali membantu perekonomian keluarga. 

“Merasa bahagia ada yang bantu Aku. Aku bersyukur. Karena kan mamah sudah tua kan dan gak tahu apa-apa. Ya Alhamdulillah, ada yang bantu jadi aku bisa sembuh,” kenang Rika sambil tersenyum lebar dan mata berbinar. 

Semangatnya untuk sembuh semakin kuat. Semangatnya untuk hidup menggebu-gebu. Pasca operasi, dia belajar jalan mandiri di rumah. Kemudian, dia terus melatih tangannya agar terbiasa dan bisa digunakan. Sampai akhirnya Rika bisa kembali berjalan dan beraktivitas normal. 

Ingin Membahagiakan Mamah 

Kerja keras untuk membantu perekonomian keluarga tidak pernah padam dalam diri Rika. Di rumah, Ia tidak bisa berdiam diri. Ia melakukan berbagai ikhtiar untuk menjemput rezeki walaupun kondisi normal sekarang berbeda dengan normal sebelum kecelakaan. Gips masih tertanam di kaki dan tangannya. 

Bekerja serabutan tak segan ia lakukan, seperti mengupas kluwek. Bekerja menjual Dimsum, bahkan menyusuri perkampungan untuk berjualan kerupuk tak luput jadi jalan ikhtiarnya. 

“Jualan kerupuk ke Cipelang, dari sini setengah jam. Ke terowongan, ke kebun, terus ke desa. Ya kalau gak dijalanin, ya gak bisa makan. Gak apa-apa lah, rezeki mah ada yang ngatur,” ungkap Rika sambil menerawang momen yang sudah pernah dilakukannya itu.

rika gadis kuat 3.JPG 55.96 KB
Akhir Oktober 2025, Rika sedang menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan di perusahaan garment di Majalengka. Dengan bermodalkan, ijazah SMP dan tekad ingin membahagiakan ibunya, Ia akan berangkat ke Majalengka awal November 2025. Ia mengaku dirinya yakin mampu bekerja sebagai penjahit di perusahaan garment. 

“Ya kuat, insya Allah. Ini kan ngejahit, nanti ya belajar dulu,” tegasnya mantap. 

Keluarganya, terutama Enah, sang Ibu hanya bisa mendoakan anaknya agar diberi kesehatan dan kelancaran.  

“Sing sehat, aya dina kalancaran,” lirih Enah sambil menatap Rika yang duduk di sampingnya. (Semoga sehat dan ada dalam kelancaran) 

Rika pun, dengan penuh haru mencium tangan ibunya, sambil menegaskan bahwa dia akan membawa restu dari ibunya sebagai bekal agar dia diberi kelancaran dan keselamatan. Ia menegaskan, cita-citanya adalah membahagiakan mamahnya dan memiliki toko yang menjadi sumber pendapatan keluarganya. 

“Kalau mamah bahagia, aku juga bahagia. Kalau aku ya pengennya buka toko,” pungkasnya menutup percakapan Selasa siang itu. 

Baca juga: DT Peduli Yogyakarta Salurkan Donasi Crowdfunding untuk Ellyn, Pejuang Radang Otak dan Epilepsi 

Penulis: AID 

Editor: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator