Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Angin kering berembus di antara dinding-dinding beton kamp pengungsian Jenin, Tepi Barat, Palestina. Di salah satu sudutnya, Abu Rami, seorang kakek yang guratan wajahnya menceritakan beratnya garis kehidupan, menatap kosong ke arah jalanan. 
"Anak-anak ini sudah kehilangan begitu banyak hal," bisik Abu Rami, suaranya parau menahan getir.
"Keinginan tertua saya sebagai seorang kakek hanyalah melihat mereka merasa normal di hari Iduladha, merasakan apa yang dimakan oleh anak-anak lain di belahan dunia sana," tambahnya.
Tantangan Jembatan Kebaikan
Jeritan sunyi dari Tepi Barat rupanya terdengar hingga ke tanah air. Melalui program Qurban Impact 2026, Lembaga Amil Zakat DT Peduli berkolaborasi dengan yayasan lokal Bridges of Civilizations for Development Foundation (Medeniyetler Köprüsü) bergerak membawa amanah para pequrban. 
Melalui dana sebesar $25.700 USD, tim di lapangan berkejaran dengan waktu demi memastikan hewan kurban terbaik dapat disembelih dan didistribusikan secara tepat sasaran. Sebanyak 15 ekor domba/kambing dan 7 ekor sapi disiapkan. Proses penyembelihan hingga disribusi berlangsung dari Rabu (27/5/2026) hingga beberapa hari awal Juni 2026.
Tantangannya tidak mudah. Di Tepi Barat, Palestina, proses distribusi menyerupai sebuah misi kemanusiaan yang penuh dengan tekanan psikologis dan fisik. Wilayah Jenin dan Tulkarm yang menjadi zona target dipenuhi oleh pos-pos pemeriksaan militer yang ketat serta berbagai hambatan fisik. Mobil yang dikendarai tak lepas dari tembakan, hingga memecahkan kaca mobil dan mengakibatkan ban kempes.
"Kami harus sering memutar otak, mencari rute alternatif yang lebih jauh dan kurang aman demi menghindari blokade jalan," kisah salah seorang tim lapangan Bridges of Civilization Foundation yang mengoordinasikan distribusi di Tepi Barat. 
Menariknya, demi keselamatan tim dan kelancaran pembagian, para relawan terkadang harus bergerak secara senyap tanpa menggunakan atribut atau logo lembaga yang mencolok. Hal ini dilakukan agar mereka tidak ditahan atau dihentikan oleh otoritas setempat, sehingga paket qurban bisa sampai ke tangan janda, anak yatim, dan korban konflik tepat waktu menggunakan sistem kupon yang telah diverifikasi sebelumnya.
Kondisi yang sangat berbeda namun tak kalah menantang terjadi di Kota Masafta, Chad. Jika di Palestina tantangan utamanya adalah geopolitik, maka di Chad tantangannya adalah keterbatasan infrastruktur dan waktu persiapan. 
Akses menuju pemukiman miskin dan kamp pengungsian Sudan di Masafta sangat terpencil. Medan jalanan yang rusak parah harus ditempuh oleh tim demi menjangkau para pengungsi. Belum lagi risiko kesehatan lingkungan yang sangat tinggi di lokasi distribusi. Akibat sanitasi buruk di area tersebut, beberapa personel tim lapangan bahkan dilaporkan jatuh sakit setelah proses distribusi selesai.
Segala lelah itu luruh seketika saat paket-paket daging mulai berpindah tangan. Sebanyak 1.386 kilogram daging berhasil dibagikan kepada 693 keluarga atau sekitar 1.730 jiwa di kedua negara tersebut. Setiap keluarga menerima paket berkisar 2 hingga 4 kilogram daging segar yang higienis.
Menghadirkan Bahagia
Bagi Umi Khalil, seorang ibu yang tinggal di daerah konflik di Tepi Barat, kedatangan relawan DT Peduli seperti sebuah keajaiban. Sambil memegang kantong berisi daging qurban, matanya berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur karena bantuan ini diantarkan dengan penuh kesantunan, menjaga privasi, serta menghargai harga diri keluarganya.
"Anak-anak saya sangat bahagia melihat ada daging di atas meja makan hari ini. Sudah bertahun-tahun kami tidak merasakan suasana seperti ini," ungkap Um Khalil penuh haru. Ia tak henti-hentinya mendoakan kebaikan bagi para donatur di Indonesia yang masih mengingat nasib mereka di tengah keterasingan konflik. 

Baca juga: Senyum Qurban di Bumi Yaman yang Terluka
Penyunting: Agus ID