Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Muhammad Alfi (8) terbangun dengan rasa dingin yang asing merayap di kakinya. Di dalam temaram bilik rumahnya di Alue Kuta, Bireuen, ia melihat wajah ibunya yang panik. "Air sudah naik," kenang Pian singkat tentang peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Tak ada waktu untuk memilih mainan atau barang kesayangan. Bocah kelas dua MIN 48 itu hanya sempat memasukkan apa pun yang terlihat ke dalam tasnya, sebelum mereka dievakuasi menggunakan perahu bot. 
"Kereta (motor), rumah, baju sekolah... rusak semua," ujar anak yang akrab dipanggil Pian itu dengan suara lirih. Matanya menerawang, seolah masih melihat tumpukan buku sekolahnya yang kini tak lebih dari gumpalan kertas basah yang tak bisa lagi dibaca.
Pian hanyalah satu dari sekian banyak wajah kecil di Alue Kuta yang dunianya jungkir balik dalam semalam. Di sudut lain, ada Irfan Candra, seorang bocah TK B yang kini harus akrab dengan dinding-dinding barak pengungsian. Saat ditanya apakah ia rindu rumah, Irfan menggeleng cepat.
"Takut," bisiknya. "Takut hantu, takut karena rumahnya rusak, banyak lumpur," ucapnya polos.
Bagi anak-anak ini, rumah yang dulunya adalah tempat paling aman, kini menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Di barak, meski ramai bersama teman-teman seperti Bagas dan Farhan, mereka harus tidur di atas alas seadanya karena kasur-kasur mereka di rumah telah tertimbun lumpur akibat banjir.
Jumat (20/2/2026), suasana di bilik-bilik pengungsian Alue Kuta terasa sedikit berbeda. Relawan DT Peduli datang membawa "hadiah" yang sudah lama dinanti. Sebanyak 50 paket perlengkapan pendidikan disalurkan langsung ke tangan anak-anak penyintas. 
Raut enang terlihat jelas di wajah anak-anak itu . Bagi mereka, paket tersebut bukan sekadar perlengkapan sekolah, melainkan simbol bahwa masa depan mereka tidak ikut hanyut terbawa banjir.
Tim relawan DT Peduli menyisir setiap barak, memastikan bantuan ini sampai tepat sasaran. “Paket langsung dikasih di bilik-bilik mereka,” jelas Astri Rahmayanti, Staf Copywriting DT Peduli yang langsung memberikan puluhan paket tersebut.
Meski kasur masih basah dan rumah masih penuh lumpur, hari itu anak-anak Alue Kuta punya "senjata" baru untuk kembali berani bermimpi. Harapan Irfan Candra sederhana saja, "Mau sekolah lagi," katanya mantap. Ia juga membisikkan keinginan kecilnya untuk memiliki baju baru saat lebaran nanti, sebuah harapan tulus dari seorang anak yang baru saja kehilangan banyak hal. 
Baca juga: Syukur Buka Puasa di Bilik Sempit Alue Kuta
Penyunting: Agus ID